Istriku Budak Nafsu

Istriku Budak Nafsu
Pedih


__ADS_3

...🎢🎢🎢...


Dinginnya angin malam ini


Menyapa tubuhku


Namun, tidak dapat


Dinginkan panasnya hatiku ini


Terasa terhempasnya


Kelakianku ini dengan sikapmu


Apakah karena aku insan kekurangan


Mudahnya kau mainkan


Oh, mungkinkah diri ini


Dapat merubah buih yang memutih


Menjadi permadani seperti pinta


Yang kau ucap dalam janji cinta

__ADS_1


Juga mustahil bagiku


Menggapai bintang di langit


Siapalah diriku?


Hanya insan biasa


Semua itu sungguh aku tiada mampu


Salah aku juga karena jatuh cinta


Insan seperti diri seanggun bidadari


Seharusnya aku cerminkan diriku


Untuk mencintaimu


...🎢🎢🎢...


Background musik di dalam mobilku ini sungguh sangat mewakili perasaanku. Tak henti-hentinya aku menghukum setir yang bersalah di hadapanku dengan pukulan telak tiada ampun. Terkoyaknya perasaan, tak sanggup membuatku menahan pedih yang diwakili oleh linangan air luka.


Ya, aku adalah lelaki normal yang juga bisa menangis di saat hati benar-benar terbuang. Tersisihkan, bahkan tercabik dengan pedihnya tragedi atas nama pengkhianatan. Aku juga lelaki normal yang mana bisa terperangkap dalam zona terpuruk di saat kesetiaan yang selama ini aku jaga dengan apik, malah diterlantarkan begitu saja dalam selokan tak bernilai oleh kesayangan.


Sekarang apalah artinya kata cinta?

__ADS_1


Apalah artinya kata sayang?


Jika tubuhnya ia serahkan kepada orang lain yang entah darimana asalnya. Aku sendiri pun tak tahu. Kepercayaan yang aku tanam, ternyata membutakanku dari rasa cemburu, rasa curiga, bahkan dari pikiran yang tidak-tidak.


Pandangan nanarku tertuju ke depan, sesekali mengusap air luka yang mengalir dari sudut mata dengan lengan baju yang kugunakan. Bisa kulihat Ibram yang kubaringkan di kursi samping kemudi dengan selimut tebal yang masih membaluti tubuh mungilnya, menggeliat manja karena mungkin sedikit terusik dengan suara isakan ayahnya yang payah ini.


Maafkan papa Ibram, lirihku dengan seiris luka yang begitu pedih di dalam hati. Papa harus mengambil keputusan ini, demi kebaikan kamu, lanjutku yang terus berkicau sendirian di dalam sana. Jika kukatakan sekarang padanya, dia juga pasti tidak akan mengerti permasalahan rumit yang kini sedang terjadi di antara kedua orang tuanya.


Biarlah takdir ini membawa kami berdua, agar bisa menjalani sisa hari-hari tanpa kehadiran sosok seorang suri. Aku berjanji, akan merawat, membesarkan, dan mendidik Ibram dengan sepenuh hati. Agar suatu saat nanti, ia tidak akan bisa bernasib sama seperti ayahnya yang penuh kekurangan ini.


...πŸ’”...


Mobilku terparkir sempurna di halaman rumah mama. Menurutku, lambat laun pun kedua orang tua kami pasti akan mengetahui fakta duka. Jadi, apa bedanya, mau sekarang atau pun nanti, mereka pasti akan tahu juga.


"Ibra ...!"


Mama membukakan pintu ketika mendengar suara bel yang beberapa kali aku tekan dengan hebohnya. Ia langsung memindahkan Ibram ke dalam gendongannya dengan ekspresi wajah penuh tanya. Sudah pasti merasa bingung, kenapa aku bisa membawa anakku malam-malam sendirian tanpa didampingi oleh ibunya.


"Vida kemana?" Leher Mama tampak memanjang dengan maksud ingin mencari sosok menantunya yang tak kunjung terlihat jua.


Aku langsung masuk tanpa menjawab pertanyaan mama. Menghempaskan tubuhku di atas sofa dengan wajah menengadah ke atas. Pikiranku terlalu kusut jika harus menguak fakta ini sekarang juga, namun kedua orang tuaku pasti tidak akan tinggal diam begitu saja.


"Papa ... sini deh!" Mama memekik, memanggil raja di istananya untuk segera mendekati kami. Dia sudah terlebih dahulu duduk di sampingku dengan masih menggoyang-goyangkan cucunya agar tak terbangun dari tidur.


...πŸ’”...

__ADS_1


"Semua keputusan ada di tanganmu. Papa tidak bisa ikut campur masalah ini. Kamu adalah kepala rumah tangga di dalam keluargamu. Jadi, kamu pasti sudah memikirnya sendiri," respon papa setelah mendengarkan dongeng panjangku yang mungkin tak akan membuatnya terlelap dengan nyaman malam ini. Sebuah sentuhan bentuk dukungan mendarat telak di bahu sebelah kiri. Sementara mama, hanya bisa menangis tertahan, khawatir Ibram akan mendengar luapan kepedihan yang ia rasakan, pastinya ia tak kalah terlukanya dari putranya ini.


"Aku akan mengurus perceraian kami secepatnya!" seruku dengan penuh keyakinan diri.


__ADS_2