
Aku langsung melesatkan mobil menuju kediaman kedua mertuaku ketika sudah tiba di bandara kotaku. Aku sengaja memarkirkan kendaraanku di parkiran tempat itu, agar lebih mudah untuk pulang tanpa harus naik taksi lagi.
Namun, saat aku tiba di sana, mama bilang sejak tadi malam Vida tidak menginap di rumah mereka, melainkan izin pulang ke kediaman kami. Aku yang tak ingin berlama-lama lagi, lantas pamit untuk menyusul istriku.
Berbagai kalimat romantis juga sudah kususun rapi di dalam benak, berharap setelah bertemu dengannya aku bisa merapalkannya dengan lancar tanpa halang rintang. Semoga saja.
Namun, seketika perhatianku teralihkan pada sebuah toko bunga yang terletak di persimpangan sana. Sontak kukurangi kecepatan, dan menepi tepat di depan toko tersebut. Aku rasa, kalimat romantisku akan terdengar lebih sempurna jika dilengkapi oleh kehadiran rangkaian bunga. Aku langsung turun dari mobil dan berjalan mendekati setumpuk bunga anggrek yang berwarna merah muda.
Toko ini tidak terlalu besar, hanya saja karena banyaknya susunan bunga dengan berbagai jenis dan warna, membuatnya menjadi lebih mencolok dibanding toko yang lainnya.
"Sepertinya Anda butuh sebuah buket bunga spesial," celetuk seorang gadis muda ketika melihat aku berdiri mendekati dagangannya. Aku yakini dia adalah pemilik atau mungkin karyawati di tempat ini.
"Ya, kamu benar. Bisa rekomendasikan satu buket bunga paling indah untuk istri saya?" pintaku kemudian.
"Wah, saya kira hanya untuk seorang kekasih, tapi ternyata untuk seorang istri." Ia tampak mencibir seolah tak terima kalau aku ini sudah bukan perjaka lagi. "Tunggu sebentar ya, Tuan." Dia tersenyum manis, lalu bergerak masuk untuk beberapa saat.
__ADS_1
Aku hanya bisa menggeleng pelan menanggapi tingkahnya. Bersyukurnya adalah dia tidak menyadari siapa yang sedang berdiri di depannya tadi. Jika tidak, maka aku akan melihat drama yang lebih kompleks lagi.
Ibra Maulana!
Ya, siapa yang tidak mengenal sosok tersebut. Apalagi untuk kalangan muda, terutama para wanita.
"Tuan, aku rasa ini sangat sosok untuk istrimu." Ia menyodorkan sebuah buket bunga yang tidak terlalu besar tapi juga tidak terlalu kecil. Ukurannya sangat pas dan menurutku tidak berlebihan. Apalagi warna bunganya yang terkesan soft, cocok sekali jika aku berikan kepada Vida. Aku yakin dia akan menyukainya.
Kusambut sebuket bunga itu dari tangan si karyawati, membayarnya, kemudian berlalu. "Tuan, kembaliannya," pekiknya ketika tubuhku sudah sempurna memasuki mobil. Kuturunkan kaca mobilku, setelah melepaskan kacamata hitam yang tadinya bertengger di hidung mancungku.
"Untukmu saja, kamu pantas mendapatkannya karena telah memilihkan bunga terbaik untuk pujaan hatiku," ucapku, lalu tersenyum tipis ke arahnya.
"Ibra ...!"
Masih bisa kutangkap gelombang bunyi yang keluar dari sepasang bibirnya, walau hanya bervolume kecil itu. Sejurus kututup kaca mobil, lalu meninggalkan tempat tersebut, sebelum gadis itu berteriak histeris dan mengundang kerumuman di sana.
__ADS_1
...💔...
Kutekan bel rumah dengan kondisi dada bertabu ria. Sedikit cemas sekaligus gerogi karena akan bertemu dengan Vida. Semoga saja rencana pemberian kejutan ini bisa membuat istriku bahagia.
Namun, setelah tiga kali menekan benda bulat yang terpasang di pojokan kanan atas pintu, masih tak ada pergerakan juga dari dalam.
Apa dia sedang pergi? Batinku seraya mengecek jam analog di pergelangan tanganku.
Tidak mungkin. Biasanya sore-sore begini dia sedang mandi. Mungkin sebaiknya aku tunggu saja, kicauku lagi di dalam hati. Aku baru sadar kalau aku lupa membawa kunci cadangan, jadi tidak bisa main masuk begitu saja.
Selagi menunggu di sebuah kursi yang terdapat di teras rumah, sayup-sayup kudengar suara lantunan lagu dari seseorang yang berasal dari samping. Aku bangkit dari peraduan, dan berjalan perlahan mendekati sumber suara.
"Sayang ...!" pekikku seraya mendongakkan pandangan, ketika melihat istriku sedang menata jemuran di teras lantai dua, seraya berdendang ria.
Ia yang mungkin terkejut dengan suaraku, lantas terperanjat dan melepaskan kain yang tadinya ia genggam, hingga benda itu terbang dan mendarat tepat di wajahku.
__ADS_1
Kalian tahu kain apa itu?
Benar sekali, kain lembut berbentuk segitiga dengan renda brukat di sekelilingnya.