
Air langit turun semakin deras. Karena tak ingin kebasahan, aku menyudahi percakapan batin itu setelah mengusap sekali batu nisannya. Berdiri dengan segenap luka yang sudah luntur bersamaan dengan curah hujan.
Aku beranjak dari peraduan hendak berjalan menuju gerbang pemakaman, namun baru beberapa langkah berjalan, pandanganku teralihkan pada sosok seorang wanita dengan pakaian serba hitam dan kacamata berwarna senada. Ia berdiri di balik pohon besar yang berjarak sekitar lima belas meter dari posisiku saat ini. Sepertinya dia sudah berada di sana sejak para pelayat masih mengerumuni tempat pemakaman ini. Namun, kenapa ia tidak turut bergabung tadi?
Anehnya, setelah menyadari bahwa aku menemukan persembunyiannya, wanita itu berbalik badan dan menghilang di telan tembok besar pembatas pemakaman.
Siapakah dia? Postur tubuhnya sangatlah familiar. Batinku berkata seolah melihat refleksi diri Vida pada sosoknya. Ah, tidak mungkin. Aku pasti sedang berhalusinasi. Kugelengkan kepalaku berkali-kali, mencoba menetralkan pikiran yang mungkin masih di bawah efek runyam bertambah duka. Kemudian, lanjut mengayunkan tungkai menuju lahan parkiran.
"Om ...!"
Sebuah tangan mungil menarik pergelangan tanganku serentak dengan suara seruannya yang terdengar menggelegar. Sontak kuhentikan gerakanku yang hampir saja memasuki mobil. Lalu, membungkukkan diri agar sejajar dengan tubuh semampainya.
"Hai ... ada apa?" tanyaku yang kini sudah bersitatap dengannya.
__ADS_1
"Ini untuk oom," jawabnya seraya mengulurkan sebuah amplop berwarna merah muda dengan icon hati di tengahnya. Kusambut uluran tangannya sembari melipat dahi cukup dalam. "Dari siapa?"
"Tidak tahu, tadi dia berdiri di sana, tapi sekarang sudah pergi." Telunjuknya menuju ke arah pohon besar yang tadi sempat kupantau. Ingatanku sontak terseret kepada sosok seorang wanita dengan seragam serba hitam tadi.
Tanpa banyak bertanya lagi, aku hanya berterima kasih padanya, lalu ia kembali berlari pada gerombolan anak kecil yang sedari tadi bermain tidak jauh dari wilayah pemakaman.
...💔...
Ketika tiba di rumah mama, aku langsung menuju kamar. Sepertinya Ibram sudah terbang ke alam mimpinya, karena suasana rumah tampak begitu sunyi. Jam dinding sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Pasalnya, sebelum pulang ke rumah, aku memutuskan untuk mampir ke restoran sebentar.
"Kukira mama udah tidur," ujarku seraya menegakkan posisi tubuh dan duduk di bibir ranjang.
"Mama sengaja nungguin kamu. Mama kira kamu akan pulang ke rumahmu." Mama duduk di sampingku seraya menyentuh pundakku. "Apa kamu baik-baik saja?" tanyanya kembali dengan wajah bermandikan kekhawatiran.
__ADS_1
Aku hanya tersenyum hambar. "Entahlah, Ma." Hanya itu yang bisa kukatakan seraya menunduk. Ponsel di tangan berputar berkali-kali, menjadi korban kegetiranku saat ini.
"Ibra ... mama agak ragu, tapi ini harus mama sampaikan padamu." Tatapan mama tampak begitu bimbang, namun ada sebuah keseriusan yang terselip di antaranya.
"Maksud, Mama?" tanyaku yang mulai penasaran.
Sebelum menjawab beliau sempat menghela napas berat. "Tadi di pemakaman, mama seperti melihat Vida sedang berdiri di balik pohon besar. Tapi ... mama belum begitu yakin. Lagian mana mungkin 'kan orang yang sudah mati dan jelas-jelas sudah dikebumikan bisa bangkit kembali dan bereinkarnasi," tutur mama panjang lebar dengan kening berkerut dan pandangan melayang ke langit-langit kamar. Seperti sedang berpikir keras.
Tatapanku yang juga tak kalah serius, tentu semakin mendramatisir keadaan. "Mama yakin?" tanyaku memotong lamunan sejenaknya.
Wanita yang telah melahirkanku itu sontak mengerjap, lalu kembali fokus menatapku. "Sudah mama katakan, kalau mama tidak yakin. Tapi mama benar-benar melihatnya tadi." Beliau kembali menghela napas. "Apa mama cuma berhalusinasi, ya?" tanyanya lagi, seolah sedang meminta pandanganku.
HENING
__ADS_1
"Itu bukan halusinasi, Ma. Karena aku juga melihat sosok yang sama." Setelah beberapa detik berdiam diri, kuangkat suara kembali. Membuat mama terperanjat dari dunia halusinasi yang mungkin menurutnya terlalu tingkat tinggi.