
Setelah hari itu Vida terus berusaha membujukku dengan segala cara, namun aku tetap pada pendirian--tak mengizinkannya untuk bertemu dengan sang mustika hati. Memang terkesan kejam dan tak berhati nurani, tetapi aku sudah terlanjur masuk ke dalam fase ini. Tak ada lagi toleransi, atau pun ... rasa kasihani.
Hari ini adalah hari ketiga setelah tragedi menyakitkan itu. Mama membujukku untuk memperkerjakan seorang nani yang bisa menjaga putraku di saat aku sibuk. Karena sudah tiga hari juga aku tak melakukan aktifitas apa pun selain menemani Ibram di rumah. Menikmati hari-hari sebagai seorang ayah dengan segala keriwehan yang melanda.
Tidak masalah. Dengan senang hati aku akan melakukannya. Mulai dari memandikan, mengganti popok, membuat susu, sampai menidurkannya. Rasanya ... tidak bisa kujelaskan dengan kata-kata. Memang di satu sisi terasa repot, tetapi seperti ada rasa merugi yang kurasakan saat ini. Aku baru menyadari bahwa ada sebuah kesempatan yang selama ini sepertinya aku lewatkan. Ya, alasannya karena aku sibuk bekerja, jadi waktuku bersama Ibram memang tak se-quality ini.
Namun, ketika mengingat bahwa aku harus tetap mengurus restoran dan lain sebagainya ... dengan terpaksa aku menyetujui saran mama. Karena keputusan untuk mencari seorang pengasuh adalah pilihan terbaik saat ini, daripada harus menyerahkan tanggung jawab kepengasuhan Ibram kepada ibunya sendiri. Aku tidak mau, dan hal itu tidak akan pernah terjadi.
...💔...
"Kamu udah siap, Nak?" Mama menggenggam sebelah telapak tanganku ketika kami sudah berkumpul di sofa ruang tamu. Wajahnya nampak sedikit khawatir, namun tetap berusaha menguatkanku. Aku mengangguk yakin dan tersenyum pada mama, seraya memeluknya dari samping.
"Terima kasih, karena sudah menjadi wanita paling setia dalam hidupku, Ma."
Mama terdengar sedikit terisak. Oleh karena itu, papa yang juga sudah ada di sana, hanya bisa mengelus lembut punggung ratunya. "Kita harus siap mengikhlaskan apa pun yang akan terjadi nanti, Ma." Hanya itu dialog yang terdengar dari mulut papa.
__ADS_1
Aku tahu, papa juga tak kalah terpukul atas nasib buruk yang menimpa putranya. Orang tua mana yang akan terima jika anaknya diduakan dan dikhianati oleh pasangan hidupnya? Kurasa tidak akan ada.
"Papa dukung kamu, apa pun keputusannya nanti."
Sebuah tepukan macho papa daratkan dipundakku. Mentransfer sebuah kekuatan yang tak mungkin aku dapatkan dari siapa pun. Hal tersebut kembali membuat semangat hidupku bangkit ke taraf yang lebih tinggi. Bersyukur ... karena masih punya keluarga yang dengan tulus berpihak padaku.
...💔...
Dengan mengenakan kemeja hitam polos berlengan panjang, kupadupadankan dengan celana jeans berwarna biru muda, aku siap melanjutkan keputusan.
Sudah sekitar sepuluh menit, suasana canggung masih menyelimuti dua keluarga yang saling tak enak hati. "Tunggu sebentar ya, mungkin Vida lagi di jalan. Silakan dicicipi dulu, Pak, Bu, Ibra!" titah mama mertuaku sambil tersenyum sebagai jurus basa-basi.
Mama dan papa hanya mengangguk. Namun, pandanganku malah sibuk menilik setiap sudut dari rumah ini. Rumah yang sudah menjadi saksi--dimana kebahagiaanku bermula dan berakhir.
Tunggu dulu!
__ADS_1
Mertuaku bicara apa tadi? Vida masih di jalan? Apa dia tidak tinggal di rumah ini?
Seolah mengerti dengan raut wajahku, mama mertua melanjutkan dialognya. "Sejak hari itu ... Vida tidak pernah pulang ke rumah ini." Dengan wajah tertunduk murung, beliau mengatakannya. Sedangkan papa mertuaku belum juga angkat suara.
Apa? Lalu tinggal dimana dia? Kicauanku masih terdengar di dalam sana.
CEKLEK
Pandangan kami semua seketika mengarah pada pintu depan yang mulai tersibak perlahan. Menampakkan sosok seorang wanita yang biasanya terlihat berpenampilan menawan, kini hanya berdandan seadanya. Ia bergerak mendekat, mendikte satu persatu tatapan yang tertuju ke arahnya--mungkin dengan perasaan tertekan.
"Maaf, saya terlambat karena jalanan begitu macet tadi," tutur Vida setelah tubuhnya sudah berdiri di dekat kami.
Ia langsung duduk di sebuah sofa tunggal berdekatan dengan kedua orang tuanya. Suasana mendadak hening sejenak, seperti sedang dikerumuni arwah kegelapan--mencekam. Sepersekian detik kemudian, tiba-tiba papa mertuaku berdiri dan sontak mendaratkan tamparan telak pada pipi Vida.
Mama dan mama mertuaku refleks menjerit karena terkejut dengan aksi papa mertuaku yang di luar dugaan.
__ADS_1
"Bikin malu orang tua sana! Mau ditaruh dimana wajah papa dan mama, Vida!?" bentak beliau dengan pandangan mengintimidasi. Vida yang sudah kepalang menahan sakit, hanya bisa menangis tanpa suara. Seolah apa yang sudah dihadiahkan oleh papanya adalah sesuatu yang pantas untuk ia terima.