
Seolah tak ingin membuang waktu lagi, tanganku dengan lihai menyibak handuk yang meliliti tubuh istriku, hingga benda itu jatuh terjerembab di lantai. Mungkin si handuk merasa tereliminasi dari posisinya saat ini, namun tidak berhenti di situ saja. Kain tebal berwarna kuning muda itu pun harus merasakan sakitnya diinjak-injak oleh dua manusia yang sudah sama-sama menggila di atasnya.
"Aaahhh ...!"
Cicitan bermakna kenikmatan tak henti-hentinya keluar dari mulut Vida, berhasil membuat libidoku semakin melesat pada titik tertingginya. Kususuri tubuh molek itu dari atas hingga bawah, hingga kembali lagi ke bibirnya. Seakan tak ingin berhenti memberikan kenikmatan ganda bahkan berkali-kali lipat pada sosok wanita yang kini sedang berada di hadapan, aku langsung melucuti kain penutup yang sudah mengurung daerah kejantananku sedari tadi.
Memposisikan tubuh istriku di atas meja, dan menghujam tubuhnya dengan senjata berkepala tumpul. Hingga membuat ia kembali mendongakkan pandangan. Nyanyian lirih beralun merdu dari mulut kami berdua terus berduet bagai kidung mesra di akhir senja. Merasakan gelenyar luar biasa yang mengalir ke seluruh permukaan tubuh masing-masing. Memberikan sensasi luar biasa yang tidak bisa kami dapatkan dari siapa pun.
Kami saling meregang, meraung, memeluk erat dan menyatukan bibir dengan begitu hangat. Tanpa kami sadari ternyata ada sepasang mata yang sedang menyaksikan adegan panas itu dari balik jendela kaca.
Bagaimana aku bisa mengetahuinya?
Tanpa sengaja ekor mataku yang mulai liar ini, menangkap bayangan itu sebelum ia beranjak pergi dari sana. Mencurigai sesuatu yang tiba-tiba saja terlintas di dalam kepala.
__ADS_1
Namun, aku yang kepalang tak bisa menahan lagi dorongan yang akan segera keluar dari dalam diriku, lantas mempercepat gerakan, lalu menghujani tubuh Vida dengan air kehidupan dan membenamkan benih itu kembali di dalam sana.
...💔...
Siapa pria tadi? Batinku seolah sedang berpikir keras tentang sosok pria yang tadi sempat aku lihat. Karena hari yang sudah mulai temaram, sangat sulit bagiku untuk mengenalinya. Ditambah lagi, aku sedang dalam kondisi menggila.
Aku sudah membersihkan diri, namun Vida masih di dalam kamar mandi. Dengan kondisi bertelanjang dada dan handuk putih melingkar di pinggang, aku berdiri di depan meja makan. Menatap nanar ke luar jendela kaca yang tadi menampakkan sosok misterius tersebut.
Rahangku mengeras, pandanganku berubah menjadi nanar, dan tanganku mengepal erat ketika pikiranku kembali dikuasai oleh emosi negatif dan beberapa pemikiran kotor.
Aaaaarrrgh!
Aku mulai merutuki diriku sendiri. Kenapa penyakitku kumat lagi? Penyakit mencurigai dan meragukan sang istri. Oh, tidak. Aku tidak boleh terus seperti ini.
__ADS_1
"Sayang, kok belum pake baju, sih?" Suara Vida sukses mengembalikan aku pada dunia nyata. Dia sudah memakai daster rumahan dengan motif kocan berwarna merah muda dan menggunakan sandal berbulu-bulu berwarna senada dengan bajunya.
"Ah, gak papa. Tiba-tiba aja aku haus, makanya aku turun buat ambil minuman." Aku mencoba membuat alasan, dan menepis pikiran burukku, seraya tersenyum dengan tanpa menampilkan wajah bengisku lagi.
"Ya udah, aku mau panasin makan malam kita. Sayang pake baju aja dulu," pintanya agar aku segera naik ke lantai dua.
Aku mengangguk dan segera berlalu dari sana. Namun, belum sempat kakiku menginjak anak tangga. Sayup-sayup kudengar Vida seperti sedang memuntahkan sesuatu dari dalam dirinya.
Bergegas kuhampiri kembali istriku, yang kini sudah berdiri di depan wastafel. Aku langsung menangkap kedua pundaknya dengan wajah khawatir. Bisa kulihat, buliran-buliran keringat sebesar biji kacang hijau telah membanjiri area kening dan sekitarnya.
"Sayang, apa kamu baik-baik aja?"
Bodoh! Dengan tololnya aku masih bisa menanyakan pertanyaan konyol itu. Tanpa bisa menjawab lagi, tubuh Vida seketika melemah dan terhuyung, membuatku dengan sigap meraihnya ke dalam gendongan.
__ADS_1
Sepertinya dia sudah kehilangan kesadaran. Tanpa memikirkan bahwa tubuhku hanya berlilitkan handuk saja, kubawa Vida masuk ke dalam mobil dan melesatkan kendaraanku menuju rumah sakit terdekat.