
"Vida ...!" pekikku ketika melihat seorang wanita yang perawakannya mirip sekali dengan mendiang istriku.
Huda yang kala itu berjalan di sampingku, kini ikut mempercepat langkahnya--menyusul lariku. Setelah mengantarkan Deyandra dan Ranti masuk ke dalam mobil.
"Kamu lagi demam?" tanyanya ketika ia sudah berhasil menyamai langkah.
Aku menggeleng tegas. Sangat kupahami bahwa ia menganggapku sedang tidak sehat saat ini. Bagaimana bisa aku memanggil nama seseorang yang sudah mati? Mungkin begitu pemikirannya.
"Aku serius, aku baru aja liat Vida," ucapku dengan ekspresi penuh keyakinan. Mungkin saat di pemakaman waktu itu, aku bisa saja sedang berhalusinasi, namun tidak untuk saat ini.
"Sepertinya kamu cuma salah lihat. Ayo, kita harus segera menemui Sidqia, dia sudah menunggu," ajak Huda seraya menarik lenganku mundur dan berbalik arah.
Walaupun tubuhku tak menolak ajakannya, namun otakku masih tetap bertengger ke arah sana. Wanita yang tadi kulihat memanglah Vida. Aku sangat yakin itu. Dia berlari setelah mendengar suaraku yang menggelegar memanggil namanya. Jelas sekali kalau dia sedang menghindar dan tidak ingin tertangkap basah.
__ADS_1
"Lupakan, Ib! Itu cuma halusinasi, mungkin kamu kecapean," tutur Huda yang kembali mengingatkan bahwa semua yang kulihat tadi hanyalah sebentuk ilusi semata.
...💔...
"Angkat tangan!"
Aku, Huda, dan Sidqia kini terkepung oleh sekitar sepuluh orang penjaga, ketika kami hendak menyelinap masuk ke ruangan dimana ketua dari komplotan ini berada. Dengan menodongkan senjata laras panjang masing-masing, mereka dengan bangganya menyunggingkan senyuman remeh, seolah merekalah pemenangnya.
Dalam kondisi kalah jumlah, kami terpaksa menyerah dan meletakkan beberapa senjata yang memang kami bawa--atas titah mereka. Dengan formasi saling membelakangi dalam bentuk segitiga, kami hanya bisa pasrah menanti berakhirnya waktu, bersamaan dengan terlepaskan peluru dari senjata mereka.
Tentu saja, aku terkejut bukan kepalang dengan kedua mata membola sempurna dan mulut menganga--tidak percaya. Tak terkecuali dua kakak beradik di sampingku ini.
Bagaimana tidak, wanita yang sudah kuanggap meninggal dunia, kini berdiri di hadapanku dengan bentuk tubuh sempurna dan didampingi oleh seorang pria.
__ADS_1
Vida ...! Dengan seringaian iblisnya bersanding dengan pria gila yang sudah lama tak tampak di pelupuk mata. Baron ...!
"B-a-j-i-n-g-a-n!!! Budak n-a-f-s-u!!! Kalian berdua benar-benar pasangan yang sempurna!!!"
Sumpah se-ra-pahku tak bisa tertahan lagi. Dengan kedua mata yang sudah merah padam tak bisa lagi kubendung rasa sesak yang saat ini benar-benar menghimpit ruang dada. Vida benar-benar tega, dia benar-benar sudah gila.
Wanita yang statusnya masih istriku itu, lantas menambah langkahnya--mendekat--dengan senyuman mengejek. Tanpa ragu, dia mengikis jarak di antara kami. Mulai mendekati wajahku perlahan dan berkata, "Senang bisa bertatap muka kembali, Suamiku! Apa kamu menyukai kejutan kali ini?" Lantas menarik wajahnya setelah mengatakan hal itu.
Bukannya menjawab, aku malah menatapnya dengan wajah bengis. Oh, Tuhaan ... fakta apa ini? Kenapa dia tega berbuat seperti ini? Apa salahku padanya?
...💔...
"Apa maksud dari semua ini, hah?!" tanyaku menggelegar seantero ruangan. Walaupun aku tak sudi, namun aku berhak mengetahui motif dari sandiwara yang sedang ia perankan saat ini. "Kenapa kamu tega bersandiwara?!" erangku kembali seraya menggoyang-goyangkan badan menuntut pelepasan. Tanganku sudah terikat ketat dengan tambang, tak ada bedanya dengan seorang tawanan.
__ADS_1
Baron yang baru saja memasuki ruangan, langsung mengunciku dengan todongan senjata api. Entah, dimana Huda dan Sidqia sekarang? Manusia-manusia tak berakhlak ini sengaja memisahkanku dari keduanya.
Sedang Vida ... sedari tadi ia hanya duduk manis di sebuah sofa sambil menonton kemurkaanku yang kini sudah keluar dari persembunyiannya.