Istriku Budak Nafsu

Istriku Budak Nafsu
Menikah Lagi?


__ADS_3

Papa hanya mengangguk setelah aku menjawab pertanyaannya. Namun, ketika aku hendak pamit untuk membersihkan diri, suara mama malah menghentikan langkahku.


"Ranti itu mantan pacar kamu?"


DEG


Kedua netraku langsung berotasi menubruk kepunyaan mama yang sama seriusnya menatapku. Ah, perasaanku mulai tidak enak.


"Memangnya kenapa, Ma?" Bukannya menjawab, aku malah melontarkan pertanyaan balik.


"Kebiasaan deh, kalo ditanya malah nanya balik," cebiknya yang mirip sekali dengan ekspresi wajah seorang anak kecil yang tidak dipenuhi keinginannya oleh kedua orang tua.


Kuhela napas sejenak sebelum melanjutkan dialog sambungan. "Dia cuma temen, Ma. Gak lebih."


"Bener gitu? Tapi, kok mama ngerasa ... kayaknya dia tertarik sama kamu, deh?" Mama belum berhenti mengorek informasi yang sepertinya sangat menarik perhatiannya.

__ADS_1


Aku melirik sedikit ke arah papa--mengedipkan sebelah mata--seolah meminta bantuannya untuk menghentikan proses interogasi dari sang suri. Namun, papa hanya menggeleng pelan dengan maksud bahwa kali ini aku harus meladeninya. Mama yang kembali fokus untuk mengguraui cucunya, mungkin tak menyadari akan komunikasi non verbal yang kami lakukan tadi.


"Gimana tuh? Bener gak sih, tebakan mama?"


Kukira beliau sudah melupakan pertanyaannya, namun ternyata di luar dugaan. "Dulu Ranti memang punya perasaan sama aku, Ma. Tapi, bukan berarti sekarang perasaan itu masih ada," tuturku memberi pengecualian.


Mama kembali menatapku dengan kening berkerut. "Eh, gimana kamu bisa menyimpulkan seperti itu? Mama aja bisa lihat dengan jelas betapa ia menatap kamu dengan penuh rasa."


Ampun, Mama. Sedetil itu dia memperhatikan Ranti tadi. Aku hanya bisa terkekeh mendengar ucapan wanita paruh baya yang sudah melahirkanku ini. Ternyata mama cukup jeli juga melebihi seorang mata-mata.


"Coba aja kamu mau buka hati, mama setuju aja loh, Ib."


"Ya ... siapa tahu Ranti mau jadi ibu sambungnya Ibram."


DEG

__ADS_1


Aku tak menyangka mama akan mengatakan hal itu. Jujur, aku tidak merasa tersinggung atau apalah. Hanya saja, ada secuil rasa trauma yang sepertinya masih bersemayam di dalam dada. Trauma untuk kembali menjalin ikatan suci dalam naungan payung atas nama pernikahan.


Meniti jembatan dalam biduk rumah tangga bagiku sekarang bukanlah hal yang mudah. Apalagi, kasus terbunuhnya Vida masih dalam kategori belum tuntas. Jadi, aku tidak mungkin dengan mudahnya memikirkan hal tersebut bukan? Maksudku ... menikah lagi.


"Ibra ... mama bukannya mau mengatur kehidupan kamu. Hanya saja, kalau boleh mama kasi saran, coba kamu pikirkan lagi tentang putramu." Mama menyentuh pundakku yang saat ini sedang menundukkan pandangan. "Dia butuh figur seorang ibu," lanjut mama kini dengan netra berkaca-kaca.


Aku paham. Sangat paham malah. Tanpa diperjelas juga aku sangat mengerti dengan keinginan mama. Selain memikirkan masalah Ibram, beliau juga pasti menginginkan aku hidup bahagia, setelah beberapa waktu lalu merasa terluka sekaligus berduka. Namun tetap saja, hal itu tidak mudah untuk kuputuskan secepat ini.


...💔...


Mobil Huda terparkir sempurna di halaman rumah mama. Aku yang sudah siap dari tadi menghampirinya dengan langkah pasti. Seraya membuka pintu mobil, kusapa ia yang kini sedang menatap ke arahku.


"Udah siap?" tanyanya.


"Sangat siap, Ndan!" tegasku.

__ADS_1


Dia langsung melajukan kendaraannya membelah padatnya jalanan kota. Walaupun terkesan terburu-buru, namun keamanan berkendara masih tetap diperhatikannya. Aku bahkan baru tahu, kalau pria di sampingku ini sangat lihai menyelip lawan.


"Sejak kapan kamu suka balapan, Komandan?" tanyaku yang lebih kepada kelakaran. Dia hanya tampak tersenyum tipis, tanpa menjawab dengan kata-kata.


__ADS_2