
Hingga pagi menyapa mataku tak juga bisa tertutup rapat. Memikirkan sesuatu yang cukup sukses mengganjal rongga dada, membuat rasa kantukku seakan lenyap di telan kecurigaan. Sedari tadi aku hanya mampu melihat Vida yang tertidur lelap tanpa adanya niat sedikit pun untuk membangunkannya.
Kata-kata Deyandra tadi malam!
Ah, kenapa harus kudengar di saat momen bahagia yang baru saja aku ciptakan untuk memulihkan keterpurukan istriku atas hilangnya janin yang ada di dalam kandungannya?
Ini terkesan seperti angin topan yang sukses meluluhlantahkan kepercayaanku, di kala cuaca sangat cerah. Bagaimana bisa Deyandra yang selama ini kucurigai, ternyata bukanlah sosok utamanya?
Jika bukan Deyandra, siapakah pria itu?
Aku rasa jika aku langsung menanyakannya kepada Vida, maka liburan kali ini akan menjadi kacau balau.
Aaaarrrgggghhhh.
Apa yang harus aku lakukan?
Kure-mas pucuk rambutku sendiri karena merasa frustasi dengan pergulatan batin yang menyiksaku saat ini. Aku ingin memperjelas dan mendapatkan jawaban dari teka-teki ini. Tetapi, kenapa keberanianku seakan ciut di telan bumi?
__ADS_1
Apa aku sangat takut kehilangan Vida?
Apa aku sangat takut membuatnya berada di dalam masalah?
Ataukah aku sangat takut menghadapi kebenarannya?
Ah, aku payah!
Seketika memoriku terseret kembali pada mimpi buruk yang menjadi bunga tidurku kala itu. Mimpi yang sangat terasa nyata. Mimpi yang hampir saja membuatku gila, dan mimpi yang hampir saja membuatku berpisah dengan Vida.
Tanpa mengusik tidur istriku, aku langsung bangkit untuk mengguyur kepala. Berharap dengan begitu, pergulatan yang berlangsung sengit di dalam sana dapat melebur seiring meredamnya rasa panas yang sedari tadi malam sangat betah di dada.
"Sayang ...! Ternyata kamu ada di sini."
Vida melangkah mendekati, ketika aku sedang berpangku dagu pada pagar besi tepat di teras kabin. Menatap lautan lepas yang membentang luas tak berujung, sedikit membuatku merasa lebih tenang dari sebelumnya.
Perlahan bisa kurasakan kedua tangan Vida menelusup--melewati tubuh bagian kiri dan kananku, kemudian melingkarkan keduanya pada pundak. Ia memelukku dari belakang. Seraya menempelkan wajahnya ke punggungku, ia berkata, "Kenapa tidak membangunkanku untuk mandi bersama. Aku sangat menyukai hal itu." Terdengar kekehan kecil yang mengiringi dialognya.
__ADS_1
Namun, tak sedikit pun membuatku tak bergeming. Aku masih tetap menatap lurus ke depan tanpa merespon ucapannya. Temperatur tubuhku seketika memanas kembali setelah mendapatkan perlakuan manjanya. Entah, mengapa kepalaku kembali tegang dan emosiku kembali mencuat ke permukaan.
"Pagi-pagi kamu sudah sewangi ini, memangnya mau ajak aku kemana? Apa kita akan berbelanja? Sepertinya banyak tempat yang bisa dieksplor di pulau ini," kicaunya menghiasi keheningan pagi yang hanya didominasi oleh suara angin. Ombak pun bahkan tak ingin bersorak seakan sangat mengerti dengan suasana hatiku saat ini.
Karena tidak juga mendapat tanggapan apa pun dariku, Vida sontak melepaskan pelukannya dan berpindah ke sampingku. Melingkarkan sebelah kembali tangannya di leher seraya menatapku penuh tanya. "Kamu kenapa, Sayang? Apa semuanya baik-baik saja?"
Sepertinya dia belum memeriksa ponselnya, hingga tak mengetahui jika tadi malam ada pesan dan panggilan masuk dari Deyandra.
Tanpa memperdulikan pertanyaannya, aku langsung berbalik badan dan bergerak memasuki kabin. Vida yang tak habis pikir dengan sikap dinginku itu, lalu menyusul pergerakanku. Dengan masih bermodalkan selimut untuk menutupi tubuh polosnya, langkah Vida tampak terseot-seot.
"Sayang, apa yang sedang kamu lakukan?" tanyanya ketika menyaksikan aku sedang mengemasi barang-barang kami dan memasukkan semuanya ke dalam koper dengan gerakan cepat.
Aku masih tak memperdulikannya, dan terus fokus pada pekerjaanku. "Sayang ...!" Langkahnya mengekoriku yang saat ini sedang memunguti barang-barang pribadiku yang berada di kamar mandi. "Sayang ... sebenarnya apa yang terjadi?"
Sekali lagi, aku mengabaikannya. Aku langsung kembali ke kasur dan memasukkan barang-barang itu ke dalam koper yang sudah aku letakkan di atasnya.
Vida tampak hanya berdiri di depan pintu bilik kecil itu. Menatapku dengan mata berkaca-kaca dan pikiran yang berkecamuk pastinya. Aku lantas menghentikan pergerakan yang sedari tadi berbalut emosi itu, dan memberanikan diri untuk menatapnya balik.
__ADS_1
Benar dugaanku, wajahnya sudah berlinang air mata. Inilah kenapa aku tidak ingin menatapnya langsung karena aku bisa lemah seketika melihat ia bermuram durja. Namun, kurasa bukanlah ini saatnya untuk bermanja ria. Vida harus menyadari kesalahannya hingga ia mau menjelaskan semuanya.
"Kita akan pulang, sekarang! Bersiap-siaplah!" tuturku tegas, lalu keluar membawa koperku dan meninggalkan miliknya.