Istriku Budak Nafsu

Istriku Budak Nafsu
Epilog


__ADS_3

Setelah selesai bercakap-cakap, mereka berdua memutuskan untuk berpamitan. Tentu saja, aku mengantar kepulangan mereka hingga teras rumah. Mama ... juga turut serta karena Ibram sudah tidur bersama pengasuhnya.


"Mama kok sreeek gitu ya, Ib." Mama mulai menggumamkan sesuatu yang membuatku mengernyit tak mengerti.


"Maksud mama?" Pertanyaan itu kulontarkan bersamaan dengan rotasi leher yang berpindah ke arahnya karena mobil Deyandra sudah lenyap ditelan gerbang.


"Ibra ... kamu yakin gak pingin nikah lagi? Sama Ranti, misalnya." Pandangan beliau pun kini mengarah padaku yang mulai memasang ekspresi tak enak bercampur tak ingin melanjutkan percakapan. Alhasil, tak ada satu kata pun yang keluar dari mulutku. Hanya gerakan mengusap tengkuk yang cenderung kaku bersanding dengan senyuman yang dipaksakan. "Sejak pertama kali melihat gadis itu datang ke mari, mama sudah punya firasat kalau Ranti itu cocok untuk menjadi pasangan kamu, Ib."


Oh, tidak! Kenapa kalimat mama semakin membuatku tak bisa berkata-kata?


Kalau boleh jujur, Ranti memang gadis yang baik dan cantik rupanya. Namun, aku sendiri belum begitu yakin--apakah aku sudah siap untuk membangun kembali sebuah hubungan atas nama rumah tangga?


Aku rasa tidak. Tidak semudah itu. Perceraianku dan Vida saja sedang dalam proses. Ditambah lagi, trauma mendalam yang sedang mengikat diri seolah tak ingin membiarkanku bebas dan lepas. Jadi, bagaimana mungkin dengan mudahnya aku banting stir dan beralih ke lain hati? Hanya karena sebuah reputasi, atau mungkin rasa tak enak hati?


Sekali lagi, aku tak ingin masuk ke dalam lubang yang sama. Butuh waktu untuk memikirkan dan merajut semuanya. Tak semudah membalikkan telapak tangan seperti pada umumnya.


"Baiklah, mama tidak akan memaksamu, Nak. Sepertinya kamu memang belum bisa melangkah maju ke arah sana." Dengan menghela napas lemah, mama mulai memahami kemana arah pemikiranku walaupun tanpa berkata-kata.


...💔...

__ADS_1


Hari penentuan itu sudah di depan mata. Atmosfer kesedihan tampak begitu pekat, menyelimuti setiap wajah yang memiliki hubungan darah dengan mantan istriku. Ya, aku dan Vida sudah resmi bercerai beberapa hari lalu. Tanpa harus menunggu waktu lama, hakim langsung menyetujui gugatan yang aku ajukan, karena memang alasannya begitu mendukung, sehingga tak ada lagi yang namanya mediasi-mediasi lanjutan.


Hari ini, hakim kembali membacakan putusan tentang hukuman yang harus diterima oleh pelaku kriminal--Baron dan Vida--beserta antek-anteknya.


Ya, setelah menyelesaikan persidangan, Kak Catur membawa mamanya keluar ruang pengadilan karena wanita yang pernah menjadi ibu mertuaku itu, tak berhenti menumpahkan air duka sejak diputuskannya hukuman untuk sang putri dan partnernya. Dan seperti yang pernah dikatakan oleh papa mertua, beliau tak sudi menghadiri persidangan ini.


Mau bagaimana lagi, setiap perbuatan pasti ada akibatnya. Begitu juga dengan yang sudah dilakukan oleh Vida, setiap perbuatan keji harus diberikan ganjaran setimpal sesuai dengan hukum yang berlaku di negara ini. Jadi, sesulit dan seberat apa pun, semuanya harus diterima walaupun dengan menekan telak ulu hati.


...💔...


"Terima kasih karena sudah menyelesaikan kasus ini hingga tuntas. Aku berhutang budi pada kalian," tuturku pada Huda dan Sidqia seraya menyalami keduanya.


"Ini sudah menjadi tugas kami, Ib. Kamu tidak perlu berterima kasih," ucap Sidqia seraya melepaskan jabatannya dariku.


"Memangnya aku bocil apa? Pake dititip-titip segala," gerutunya seraya membuang wajah ke sembarang arah.


Aku hanya tersenyum enteng seraya menggeleng pelan. Tak kusangka, polisi wanita yang sangat pemberani ini, bisa menunjukkan ekspresi wajah menggemaskan seperti sekarang.


"Ya, udah, kamu hati-hati di jalan. Salam untuk om dan tante di sana. Jika ada kesempatan aku akan mengunjungi mereka," tuturku seraya melepas kepergian Huda. Ia tampak mengangguk, lalu mengasak pucuk kepala adiknya sebelum memasuki mobil pribadinya.

__ADS_1


Sidqia tampak semakin kesal, lalu memekik, "Zain ...!" Berbeda dengan ekspresi wajahnya, ungkapan itu bukanlah sebenar-benarnya mengandung emosi. Aku tahu bahwa ia hanya berusaha menutupi kesedihannya, karena harus berpisah lagi dengan kakak tersayangnya itu.


...💔...


"Ibram, papa harap suatu hari nanti kamu bisa tumbuh menjadi pria yang beruntung dalam segala hal. Jangan pernah mengulangi kesalahan yang sudah pernah papa lakukan, oke!" ocehku disela-sela candaan bersama sang buah hati.


Mulai hari ini, hidupku hanyalah untuk Ibram. Akan kulakukan apa pun untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan terbaiknya. Tak akan kubiarkan ia kurang satu apa pun. Apalagi sebuah kasih sayang. Jika suatu saat nanti dia menanyakan tentang keberadaan ibunya, maka aku akan mengatakan yang sebenarnya. Walau bagaimana pun, sebejat dan sejahat apa pun, Vida adalah ibu kandung Ibram. Wanita yang sudah melahirkannya. Jadi, aku tak mempunyai hak secuil pun untuk tidak mengakui takdirnya.


...💔...


Seiring dengan akhir kisahku, sebaiknya aku kembali berpesan kepada kalian yang sudah sudi membaca cerita ini hingga akhir.


Sekali lagi, jangan pernah menjadi seperti aku! Jika kalian tidak menginginkan kisah rumah tangga yang berakhir dengan sebuah pengkhianatan. Jangan pernah menjadi seperti aku! Jika kalian tidak menginginkan sebuah rumah tangga yang berhenti di ujung jalan kebuntuan.


Aku menyadari, sebagai seorang suami, tak setiap saat bisa menemani sang istri di rumah. Namun, percayalah setiap suami yang sibuk akan pekerjaannya, itu mereka lakukan hanya demi untuk mencukupi kehidupan istri dan anak-anaknya. Agar mereka mempunyai kehidupan yang layak sehingga bisa merasakan kehidupan yang nyaman seperti yang dijalani oleh orang lain.


Nah, jika kesibukan para suami dinilai sudah melebihi batas, cobalah untuk mengkomunikasikannya. Terbukalah, bicaralah dari hati ke hati, jangan hanya menggerutu dan berdiam diri seolah tak terjadi apa-apa, namun ujung-ujungnya mencari labuhan lain. Jangan sampai seperti itu! Alasannya adalah karena tak semua suami memiliki tingkat kepekaan selevel dengan dewa.


Sekian dan terima kasih, semoga kebahagiaan selalu menyertai hidup kalian.

__ADS_1


^^^Salam hangat,^^^


^^^Ibra Maulana^^^


__ADS_2