
"Surat pengunduran diri kamu udah aku serahin. Atasanmu titip salam, turut berduka atas musibah yang sedang menimpa kita." Berjalan mendekat, mencoba membuyarkan tatapan kosong yang sedang Vida sorotkan ke luar jendela.
Dan ... sukses. Dia tampak mengerjap berkali-kali, seolah menyadari keberadaanku seraya memutar arah pandang. "Makasih, ya, Sayang." Dia membentangkan kedua tangannya, memberi kode agar aku lebih dekat lagi dan memeluk tubuhnya. Tentu saja, aku mengabulkannya.
Kukecupi bertubi-tubi pucuk kepala itu, yang dalam waktu lebih dari satu bulan ini bersikap sangat dingin dan hampir kehilangan jati diri. Dia semakin menenggelamkan wajahnya dalam dadaku, seraya mengendus-endus aroma khas tubuhku yang bercampur wanginya parfum maskulin.
"Ayo kemas-kemas! Sebentar lagi kita berangkat!" seruku sepersekian detik kemudian. Vida menarik kepalanya, lalu menatapku penuh tanya.
"Emangnya kita mau kemana?" Kalimat itu menjadi sambungan dari tatapan bingungnya.
Aku bergerak lamban mendekati wajahnya, lalu maju sepersekian centi ke dekat telinga. "Kejutan." Lantas kutarik wajahku segera, untuk memastikan--seperti apa respon lanjutan darinya.
Dia langsung tersenyum dan membebelakkan sedikit bola matanya--tidak percaya. Aku tahu, istriku sangat menyukai kejutan. Tipe wanita romantis seperti Vida, mendapat hadiah sebatang cokelat saja bagaikan sudah di ajak jalan-jalan ke luar kota. Apalagi kalau aku mengajaknya liburan ke tempat yang paling dia suka? Tidak terbayangkan seperti apa reaksinya.
__ADS_1
"Aku suka kejutan." Setelah mengatakan kalimat itu disertai lirikan mata yang sangat menggoda, ia langsung berlari menuju lantai dua. Sepertinya akan berbenah diri dan mempersiapkan perlengkapan apa saja yang akan dia bawa.
Kuputar rotasi wajah ke arah mama, yang tadinya masih duduk anteng di atas sofa sambil membaca majalah. Seraya mengedipkan sebelah mata ke arah wanita yang sudah melahirkanku itu, ku angkat sebelah jari jempolku ke atas, seolah memberitahunya bahwa rencana ini sukses membuat Vida tersenyum kembali.
...💔...
Reservasi penginapan dan juga pemesanan tiket pesawat sudah kulakukan ketika Vida sibuk bersiap-siap.
Sementara aku, hanya membawa perlengkapan seadanya. Kupikir, jika kekurangan sesuatu aku bisa membelinya di sana. Ya, begitulah pria, lebih simple. Berbeda dengan wanita yang cenderung terbilang ribet dalam setiap hal. Bahkan untuk perjalanan ini, perlengkapan pribadi Vida saja, harus menghabiskan satu ruang koper berukuran besar.
Ya, begitulah wanita.
Satu jam kemudian, dengan senyuman manis yang sudah lama aku rindukan, Vida menuruni anak tangga dan menghampiriku yang sudah menunggunya di ruang tamu bersama dua koper berukuran besar dan kecil milik kami berdua.
__ADS_1
"Mama udah pulang, ya?" tanyanya yang tampak celingukan mencari keberadaan mama.
"Iya, tadi beliau dijemput sama papa," jawabku yang kembali menatap fokus layar ponsel. Memastikan semuanya sudah siap sebelum kami tiba di sana. Aku ingin semuanya sempurna, Vida harus kembali bahagia setelah ini.
Beberapa menit kemudian, taksi bandara sudah tiba di pekarangan rumah. Belum apa-apa saja Vida sudah tersenyum merekah bak buah delima yang sudah terlewat matang. Aku berdiri dan menarik kedua koper kami, lalu mengajak sang istri untuk memasuki taksi.
...💔...
"Sayang ...!"
Vida memekik girang setelah melihat hamparan lautan biru, terbentang luas di depan mata. Dia langsung menghambur keluar dari mobil yang mengantarkan perjalanan kami menuju tempat ini, sejak tiba di bandara tadi.
"Kamu suka?" tanyaku ketika tubuh ini sudah berdiri sejajar di sampingnya.
__ADS_1
"Suka banget, Sayang. Makasih, ya." Ia tampak membentangkan kedua tangannya seraya menghirup udara kencang yang menabrak kulit wajahnya. Seolah sedang membiarkan terpaan angin itu membawa pergi duka batin yang sejauh ini menyiksanya.
Sopir travel tampak mengeluarkan barang-barang kami. Kemudian langsung membawanya menuju rumah pantai yang tampak tersusun apik di atas permukaan air.