
Ketika kami masih asik menjadikan Dori sebagai bahan tertawaan, tiba-tiba ponselku berdering. Kuhentikan gelakku sejenak, lalu meraih benda pipih yang tadinya aku letakkan di atas nakas. Sebuah senyuman pun terbit di kedua sudut bibirku setelah membaca nama yang tertera di layar kaca.
"Halo ...!" Aku merangsek keluar, mencari suasana sepi agar bisa mendengarkan dengan jelas suara seseorang di seberang sana.
"Sayang, udah selesai konsernya?" tanyanya dengan suara serak-serak basah bercampur isakan.
Aku agak tersentak, suara itu adalah suara khas yang dikeluarkan oleh orang yang sedang menangis. "Sayang kenapa nangis?" tanyaku balik tanpa menanggapi pertanyaannya.
Vida ... ya, dia menangis sejadi-jadinya setelah aku menanyakan pertanyaan itu. Aku agak bingung dengan apa yang harus aku lakukan. Di pikiranku sekarang ... jika dia sedang menangis berarti ada sesuatu yang tidak beres. Apalagi menilik dari jenis tangisannya itu, ini pasti bukanlah masalah sepele. Aku mondar-mandir seperti seterikaan, sambil berkacak pinggang dengan sebelah tangan, masih belum tenang jika Vida belum menjelaskan.
"Aku ... aku kangen sama kamu," tuturnya kemudian, masih diiringi isak manja yang terdengar lebih memilukan.
JRENG ... JRENG ... JRENG
__ADS_1
Sejak tadi pikiran burukku sudah berkelana kemana-mana. Aku pikir dia sedang berada di dalam masalah besar atau sejenisnya. Namun ternyata ... hem ... aku hanya bisa menghela napas lega, karena faktanya tidak sesuai seperti apa yang ada di dalam benakku.
"Lusa aku pulang, Sayang. Besok masih ada meet and greet dengan para penggemar. Sabar, ya." Aku hanya bisa memujuknya dengan kalimat itu. Berharap ia akan menjadi sedikit lebih tenang dari sebelumnya.
Aku tahu, pepatah cinta pernah mengatakan bahwa 'Rindu akan terobati, jika bertemu sang kekasih'. Dan ... kalimatku yang tadi itu, tentulah bukan obat manjur yang bisa mengobati rasa rindunya. Namun, apa boleh buat, aku juga sedang terikat kontrak kerja, tidak mungkin aku langsung seenaknya pulang sendiri untuk menghilangkan kehausan rasa yang sedang menghujam telak hati istriku.
Namun, belum sempat aku mendengarkan jawaban dari bibir manisnya, sambungan telepon itu pun berakhir sudah.
Apa dia yang mematikannya? Batinku seraya menatap layar ponsel yang hanya menampilkan wallpaper. Sepersekian detik kemudian, kucoba membuat panggilan balik. Namun sayang sekali, yang terdengar malah suara operator.
...💔...
"Ibra ... Ibra ... Ibra ...," pekik sebagian besar wanita yang berada di sana, ketika kami melintasi karpet merah. Kudengar acara meet and greet ini sengaja diselenggarakan dan perlu dilakukan oleh pihak panitia, karena banyaknya permintaan dari para penggemar. Tentu saja, kami menyambutnya dengan senang hati.
__ADS_1
Dengan sedikit kesulitan membelah jalan di antara lautan manusia, kami tetap berusaha menggapai panggung sederhana yang sudah disediakan. Acara kali ini diselenggarakan di sebuah mall terbesar di kota ini. Wajar saja, jika kapasitasnya untuk menampung ratusan bahkan ribuan orang yang berjejal untuk mencapai hasrat mereka, menjadi sedikit diragukan. Namun, tak kusangka, acara ini berjalan dengan lancar tanpa adanya keributan.
Satu jam kemudian
"Ib, kamu mau kemana?" tanya Habibi yang langkahnya tampak melebar setelah melihatku keluar--meninggalkan kerumunan itu.
"Aku harus pulang, Bi." Aku terus menyeret langkah karena tidak ingin ketinggalan pesawat yang tiketnya sudah aku pesan tadi malam.
Ya, setelah gagal menghubungi istriku, aku langsung memutuskan untuk terbang setelah acara hari ini selesai.
"Tapi ... bukankah jadwal kita pulang itu ... besok. Apa ada sesuatu yang buruk telah terjadi pada istrimu?" Ia bertanya dengan ekspresi wajah penuh khawatir.
Aku hanya tersenyum enteng, lalu masuk ke dalam taksi yang sudah terparkir di depan mall--siap membawaku ke bandara. "Salam buat anak-anak, Bi. Tolong katakan pada mereka, maaf aku gak bisa pulang bareng. Have fun untuk kalian!" pesanku padanya sebelum akhirnya kaca jendela mobil itu menelan wajahku.
__ADS_1
Aku tidak mungkin mengatakan kenyataan yang sebenarnya kepada Habibi, bahwa aku segera pulang hanya karena istriku merindukanku. Bisa-bisa ia tergelak hebat--menertawaiku habis-habisan.