
"Sayang ... sakiiit!"
Vida terus mengerang dengan segala bentuk gerakan tubuhnya yang menggeliat menyesuaikan rasa nyeri yang menyerang perutnya. Aku yang baru saja tiba di kamar lantas menghambur ke arahnya.
Dengan segala kepanikan yang terpampang nyata di wajah, aku sampai tidak bisa berpikir jernih. Sebenarnya apa yang sudah terjadi kepada istriku? Kenapa tiba-tiba dia menjadi sakit seperti ini? Apa mungkin karena sudah mengonsumsi nasi gulai? Ah, tapi tidak mungkin.
"Sayang ... kita ke rumah sakit aja, ya?" tawarku pada Vida setelah mendapatkan pikiranku kembali.
Vida hanya meresponku dengan menggelengkan kepalanya berkali-kali. Dan itu semakin membuatku bingung bukan kepalang. Ia terus mengerang kesakitan, sedangkan aku tidak bisa melakukan apa-apa. Serba salah!
Sepersekian menit kemudian, tiba-tiba Vida memintaku untuk mengambil handuk kecil untuk mengompres perutnya dengan air hangat. Dengan gerakan cepat bagai dirasuki oleh kekuatan teleportasi aku menuruni tangga, menuju dapur dan menyiapkan air hangat.
Setelah selesai, kubawa satu baskom kecil air hangat itu menuju kamar, kemudian mengambil handuk kecil yang terlipat rapi di dalam lemari. Gegas, kutempelkan handuk yang sudah kurendam sebentar di dalam baskom itu ke permukaan perut istriku tepat di bawah pusarnya.
__ADS_1
Dan syukurlah setelah beberapa menit, pergerakan tubuh Vida yang ekstrim di atas kasur, dan suara mengerangnya yang terdengar memilukan tadi pun kini tak terdengar lagi. Hanya suara rintihan kecil yang terdengar sesekali.
Kemudian kuambilkan dia segelas air hangat, lalu meminta Vida untuk meminumnya. Ia menyesap air putih itu sedikit-sedikit, lalu kembali berbaring. "Kamu yakin gak mau ke rumah sakit?" tanyaku lagi yang masih belum bisa tenang sebelum mengetahui apa sebenarnya yang salah dengan istriku.
"Gak usah, Sayang. Aku udah baik-baik aja, kok." Dia masih memasang wajah meringis seolah rasa nyeri itu masih tetap menggerogoti perutnya.
...🍂🍂🍂...
Malam harinya
Saat itu aku sedang membaca koran di ruang tamu. Setelah mendengar suaranya yang menggelegar seantero rumah, aku langsung terperanjat. Merasa khawatir kalau-kalau apa yang menimpanya tadi sore terjadi lagi.
Kuhempaskan koran itu ke sembarang tempat, lalu berlari menghampirinya di kamar. "Sayang, kamu dimana?" Aku kebingungan ketika tak menemukan ia di dalam kamar.
__ADS_1
"Aku di kamar mandi," pekik Vida seolah suaranya menggiringku untuk menyusulnya ke dalam sana.
"Ada apa?" tanyaku ketika menyembulkan kepala di sela-sela pintu.
Vida tampak duduk di atas toilet, seraya tersenyum mengembang. Aku yang kebingungan lantas masuk dan berjongkok di depannya. "Jangan buat aku semakin bingung, Sayang."
Vida kembali tersenyum penuh makna, seraya menyodorkan sebuah benda asing dalam pandanganku. Benda yang berbentuk seperti bolpoin, namun sedikit pipih, dan berwarna putih dan biru.
Setelah melihat benda itu, aku lantas memandang wajahnya kembali, namun Vida terus memasang ekspresi girang yang tak terhingga. "Sayang, tolong jelaskan semua ini. Aku sungguh tidak mengerti," ucapku yang masih menggenggam erat benda itu.
"Sayang, lihatlah dua garis merah itu," tutur Vida seraya menepuk punggungku dengan lembut. "Itu menandakan bahwa hadirnya sebentuk makhluk kecil di dalam rahimku," lanjutnya dengan kedua netra berkaca-kaca.
"Sayang ...!" Aku membalas tatapannya balik, dengan ekspresi yang susah sekali kuungkapkan. Saking tidak percayanya, aku sampai tak tahu harus bersorak atau malah sebaliknya.
__ADS_1
Namun, ekspresi tak jelasku itu malah membuat Vida mengernyit keheranan. "Kamu gak senang ya, kalau aku hamil?" tanya Vida dengan ekspresi wajah yang tiba-tiba berbanding terbalik dengan sebelumnya.
DEG