
Kedatangan Deyandra dan Ranti yang terkesan mendadak tanpa pemberitahuan, membuat hatiku sedikit berdebar. Pasalnya mereka datang secara bersamaan dan dengan kendaraan yang sama pula.
Apakah hubungan mereka sedekat itu hingga membuat keduanya terlihat akrab? Tidak mungkin musibah penyekapan kemarin bisa membuat keduanya sontak menjadi teman, bukan?
Ah, sebaiknya kutanyakan saja!
"Kalian? Kenapa bisa bareng?" tanyaku langsung tanpa basa-basi lagi. Mereka langsung mengambil tempat duduk masing-masing, sebelum menjawab pertanyaanku.
"Ya, Ranti sengaja mengajakku untuk menemuimu," jawab Deyandra seraya menatap sekilas ke arah Ranti. Gadis itu sontak mengangguk, seolah mereka sedang berkomunikasi via isyarat.
Aku mengernyit tak mengerti. "Memangnya kenapa? Apa ada sesuatu yang ingin kalian sampaikan?" Aku mulai menerka-nerka. Daripada berasumsi terlalu lama, lebih baik mendengar jawaban langsung dari keduanya.
Ketika kami bertiga sedang dalam mode serius, tiba-tiba mama muncul bersama Ibram dalam timangannya.
"Eh, ada tamu. Ranti ... kok kamu makin cantik aja sih, Nak?" sapa mama dengan gaya bahasa lembut khas miliknya.
"Makasih, Tante. Apa bayi ini ...?" Ranti merespon diiringi senyuman manis di kedua sudut bibirnya. Seketika pandangannya tertarik pada sosok mungil yang berada dalam gendongan mama.
"Iya, ini Ibram, putranya Ibra," jawab mama dengan masih mengayun-ayunkan tubuh cucunya ke kiri dan ke kanan. Bisa kulihat Ranti masih mengembangkan senyuman ke arah Ibram.
"Ini siapa, Ib?" tanya mama sembari mengalihkan pandangannya pada pria muda yang duduk di sampingku.
__ADS_1
"Oh, ini Deyandra, Ma. Temennya ... Vida." Bibirku sedikit kaku ketika harus menyebutkan kembali nama seorang wanita yang sempat mengisi kekosongan hati, mewarnai hari-hari, dan melahirkan Ibram ke dunia ini. Namun, mau bagaimana lagi? Takdir sudah menguak sebuah jati diri seorang istri yang tak bisa kupungkiri. Sekuat apa pun aku ingin menafikan kenyataan pahit ini, semakin kuat pula fakta menyingkap semua kebusukannya yang sudah lama tersembunyi.
"Hem ... begitu, sebentar ya tante ke dalam dulu, kalian lanjutkan saja obrolannya." Mama pamit seraya menebar senyuman di akhir kalimatnya.
Beliau pasti paham, dua orang yang sedang duduk bersamaku ini pasti mempunyai keperluan penting, sehingga dia ingin memberikan kami sebuah privasi.
Tak lama setelah mama masuk, tampak ART datang dengan membawa nampan berisi minuman dan camilan. Setelah meletakkan semua bawaannya di atas meja, dia langsung pamit dengan ramahnya.
"Begini, Ib." Deyandra terdengar menghela napas berat seraya membenarkan letak duduknya. Sepertinya ada sebuah fakta tersembunyi lainnya yang belum aku ketahui.
Tentu saja, aku memasang kedua telinga dengan baik, agar informasi apa pun yang akan disampaikannya nanti, tak akan ada yang terlewatkan.
"Aku mau minta maaf karena tidak jujur padamu sejak awal. Mungkin kalo aku jujur, semua misteri tentang Vida gak akan pernah ada," tutur Deyandra dengan mimik penuh penyesalan. Tarikan kepala menunduknya sudah cukup membuktikan bahwa ia benar-benar menyayangkan ketidakterbukaannya.
"Maafkan aku, Ib. Tak kusangka, kebungkamanku malah menyeretku sendiri dalam sebuah masalah yang hampir saja mencelakakan istri dan calon anakku," sambungnya lagi, sebagai bagian penutup.
Aku tak merespon dengan satu kata pun, hanya memasang ekspresi termangu yang tentu saja sudah dipahami oleh keduanya. Terutama Ranti, yang pandangannya sedari tadi tak teralihkan dariku.
"Aku juga ingin minta maaf, Ibra," ucap Ranti dengan kedua mata berkaca-kaca.
DEG
__ADS_1
Kalimat Ranti benar-benar sukses membuat hatiku terlonjak sekaligus bertanya-tanya, minta maaf untuk apa?
"Maafin aku yang sudah merahasiakan bahwa ... Baron adalah saudara kandungku." Gadis itu mulai terisak dengan wajah tertunduk malu. Seolah-olah mengakui bahwa dirinya memiliki aliran darah dengan lelaki yang sukses meluluhlantahkan rumah tangga dan hidupku itu adalah sebuah aib yang begitu memalukan.
DEG DEG DEG
Apalagi ini?
"Aku baru mengetahui bahwa aku bukanlah anak kandung dari kedua orang tuaku," lanjutnya masih dalam mode terisak.
Masuk akal, karena secara fisik Ranti memang tak terlihat seperti keturunan orang jawa sama sekali, melainkan orang cina.
Kalian masih ingat, bukan? Aku sampai menjulukinya dengan sebutan 'amoy' karena hal tersebut. Tetapi, tak kusangka juga jika dia dan Baron adalah saudara kandung. Ini benar-benar tak bisa dipercaya, karena sifat keduanya sungguh sangat berbeda.
"Maafkan aku, Ibra." Dia masih menggumamkan kata itu karena aku tak juga memberikan respon apa pun. Bukannya benci, akan tetapi terlalu terkejut dengan semua ini.
"Lantas kenapa Baron malah menculikmu?" tanyaku setelah beberapa saat menutup mulut.
"Karena dia tahu bahwa kedatanganku ke rumah ini pada hari itu, untuk memberitahumu tentang kebenarannya. Tapi, lagi-lagi aku gagal karena tak bisa melakukannya," ujarnya seraya menatapku dengan pandangan sendu. "Aku tak tega mengatakannya, Ibra."
Huuuffft ... aku hanya bisa menghela napas panjang. Mau bagaimana pun, ini hanyalah masalah ketidakterbukaan, dan mereka mempunyai hak masing-masing untuk melakukan hal itu. Aku ... sebagai sosok utama yang terluka, tak bisa juga dengan seenaknya menyalahkan mereka. Toh, baik Deyandra maupun Ranti sudah menyesali keputusannya.
__ADS_1
"Sebenarnya ... jika kalian tetap bungkam juga, aku benar-benar tidak mempermasalahkannya. Apalagi, sekarang semuanya sudah terungkap. Tapi, aku ingin mengucapkan banyak terima kasih untuk kejujuran kalian. Sikap kalian ini ... berhak mendapat apresiasi," tuturku untuk membesarkan hati mereka. Karena sedari tadi kulihat, hanya ekspresi tak enak hati yang mereka lukiskan pada wajah masing-masing.