Istriku Budak Nafsu

Istriku Budak Nafsu
Momen Mendebarkan 3


__ADS_3

Kedua tangan dan kakiku sudah terikat ketat dengan tali. Begitu pun dengan Huda. Nasib baik sepertinya belum berpihak kepada kami saat ini. Namun, melihat ekspresi Huda yang sepertinya biasa-biasa saja membuatku sedikit bertanya-tanya. Apakah ini bagian dari rencana mereka? Bukannya menjadi seorang sandra bukanlah pilihan yang bijak?


Tanpa banyak bertanya aku hanya mengikuti alurnya saja. Walaupun sedikit penasaran, namun aku juga tidak boleh meragukan rencana yang sudah mereka susun dengan matang--pastinya.


Tiga puluh menit berlalu tanpa adanya tindakan penyiksaan atau sejenisnya dari pihak penyandra. Membuat kami berdua sama-sama dirundung rasa bosan yang membara. Agaknya kami sedikit mengharapkan kejadian yang lumayan mendramatisir momen penyandraan ini. Lucu sekali, bukan? Tetapi, begitulah kenyataannya.


"Butuh hiburan?" Tiba-tiba Huda bertanya.


"Kayaknya kita memang sehati," tuturku dengan seringaian enteng. Huda hanya menanggapiku dengan gelengan pelan seraya membuang pandangan ke sembarang arah. Mungkin dia sedang berpikir bahwa aku sama gilanya dengan dia--yang selalu menyukai tantangan bahkan di saat kondisi terjepit.

__ADS_1


"Haruskah kita bermain drama?" tanyanya kemudian setelah kembali menatapku dengan senyuman tertahan.


"Kalau kamu rasa itu perlu, maka dengan senang hati." Ada kekehan kecil ketika kukatakan line dialog kali ini. Entah kenapa, aku merasa kami berdua seperti dua pria yang haus akan keonaran.


Namun, ketika kami masih asik berdiskusi, tiba-tiba pintu ruangan itu tersibak perlahan. Menampakkan sosok seorang wanita berambut panjang dengan wajah yang begitu familiar. Aku sedikit tersentak dengan kehadirannya. Wanita yang selama ini selalu mengenakan pakaian tertutup dan sedikit longgar di hadapanku, kini malah memakai kostum cat woman yang begitu ketat di tubuh idealnya. Sungguh, kostum itu benar-benar mengekspos setiap lekuk tubuhnya. Definisi dari seksi yang sesungguhnya.


Pandanganku terkunci. Hanya bisa menelan saliva dengan susah payah, namun Huda seketika menyenggol bahuku dengan miliknya. "Biasa aja mandangnya, Bro!" Ada kerutan kulit yang begitu dalam tampak jelas di keningnya. Apa dia sedang merasa cemburu? Tapi, apa iya dia cemburu jika aku menatap sensual ke arah adiknya?


"Salahmu sendiri tidak mengizinkanku untuk meledakkan kepala pria berwajah oriental tadi. Jadilah kami harus berpura-pura mau menjadi tawanan." Semburan bernada tidak ingin kalah keluar begitu saja dari mulut Huda.

__ADS_1


Entah, apa yang sudah terjadi di antara mereka berdua. Sejak pertama kali berjumpa, sikap keduanya selalu tampak tidak baik-baik saja jika sudah bertatap muka. Ada saja hal-hal sepele yang bisa membuat keduanya kembali berdebat mulut.


"Aku masih ada pekerjaan lain, kalian berdua pergilah ke kamar utama yang terdapat di samping ruang televisi!" titah Sidqia setelah melepaskan tali yang menghalangi kebebasan kami.


"Untuk apa?" tanyaku yang mulai penasaran tanpa mengetahui rencana keduanya.


"Ada dua nyawa yang harus kita selamatkan, Ib. Sebelum mereka kembali melenyapkannya." Sidqia segera berlalu setelah mengatakan hal itu.


Aku langsung menatap Huda penuh tuntutan. Dengan kerutan kening yang begitu jelas, Huda pasti paham apa yang ingin aku tanyakan. Sejenak ia menghela napas berat, kemudian angkat suara, "Ternyata mereka melakukan perdagangan organ tubuh manusia. Dan ... jasad pria yang kamu kenal tadi adalah salah satu korbannya."

__ADS_1


JLEB


Untuk saat ini, menelan air ludah pun rasanya sulit sekali untuk kulakukan.


__ADS_2