
Sekelebat pikiran buruk mulai melintas di dalam benak. Namun, aku tak ingin berasumsi sendiri sebelum menanyakannya langsung kepada istriku. Karena aku tak ingin menyesali kebodohanku lagi, mengingat sebuah pengalaman sudah mengajariku caranya berpikir bijak tanpa embel-embel emosi.
Sejurus kuletakkan paper bag itu di atas meja, kemudian merangsek naik ke lantai dua. Ketika kedua tungkaiku sudah berdiri di depan pintu kamar, bisa kudengar suara gurauan dua orang dewasa berlainan jenis kelamin. Mereka terdengar sedang tertawa ringan di sela-sela kicauan gemas suara bayi.
DEG DEG DEG
Suara jantungku sampai terdengar ke rongga telinga, saking cepat dan kencangnya memompa. Tubuhku seketika membatu bak sebuah patung tanpa raga. Apalagi, setelah mendengar tawa dan canda mereka yang semakin lama semakin membakar rongga dada.
Pintu kamar itu masih terbuka sebagian, jadi mudah saja bagiku untuk melihat pemandangan tidak beradab yang terekam langsung oleh lensa bulatku. Tanpa memerlukan kamera canggih bahkan tersembunyi, aku bisa menyaksikannya sendiri.
__ADS_1
Seketika memoriku menyeret kembali kesadaran diri pada dialog di antara aku dan sang istri, sebelum berangkat ke luar kota tempo hari. Apakah ini alasan dia menolak ajakanku? Dia membuat sandiwara seolah sangat tidak menginginkan kepergianku, namun nyatanya ia menikamkan telak sebuah belati tepat di punggungku.
Kedua lututku serasa tak lagi mampu menopang berat badan dan beratnya pikiran. Karena sebelumnya hatiku membayangkan sebuah pertemuan yang menghangatkan, namun mataku malah menyaksikan betapa pahitnya sapaan kenyataan. Kenyataan dimana aku harus mengetahui sesuatu yang selama ini tersembunyikan.
Apakah hari kiamat lokal itu telah tiba?
Haruskah aku menerima semuanya dengan lapang dada? Tidak. Justru tidak bisa. Ini tidak adil kurasa.
Dengan gerakan tangkas, kusibak daun pintu kamar dengan sempurna. Menyebabkan suara hempasan yang sukses memekakkan telinga mereka. Aku memang sengaja. Sengaja meluapkan rasa sesak yang sedari tadi menghimpit rongga dada.
__ADS_1
"Apa-apaan ini, Vida?!" Suaraku terdengar begitu menggelegar. Kurasa, tetangga sebelah pun bisa mendengarkannya.
Dengan kedua netra merah padam dan ekspresi wajah mengerikan kutatap keduanya yang kini sudah tenggelam dalam mode terperanjat. Vida sontak berdiri dari posisinya yang tadi sedang duduk bersandar di dada sang pria. Sementara si pria masih duduk nyaman di atas kasur yang sebelumnya menampung tubuh mereka.
Yang lebih membuat emosiku semakin mencuat adalah ternyata pria yang bersama dengan istriku saat ini adalah pria yang sama dengan yang kutemui di toko kue tadi. Seketika tandukku keluar begitu saja tanpa aba-aba lagi.
Kutambah langkah untuk mendekati mereka, lalu meraih kerah baju pria itu, kemudian mendaratkan pukulan telak di wajahnya berkali-kali. Vida terdengar memekik hampir membahana. Sementara aku masih tetap meluapkan emosiku semaunya.
"Sayang, hentikan!" Vida mencoba menarik lenganku. Namun, dengan kasar aku menepis tangannya hingga membuat ia terpental ke belakang.
__ADS_1
Kembali kububuhkan sapaan selamat datang itu kepada si pria yang bahkan tak kuketahui identitasnya, hingga wajahnya bersimbah cairan merah. Tubuhnya tersungkur di lantai ketika aku mendaratkan bogeman terakhirku dengan segenap api amarah.
Vida sepertinya tampak gamang, antara ingin menghampiriku atau harus menolong kekasih gelapnya itu. Namun, aku sudah tak peduli lagi. Kuraih tubuh gembul anakku, menggendongnya erat, kemudian berlalu meninggalkan mereka tanpa mengatakan sepatah kata pun.