Istriku Budak Nafsu

Istriku Budak Nafsu
Manusia atau Bukan?


__ADS_3

Benar saja, terakhir kali aku bertemu dengan Huda, yaitu ketika dia baru-baru bertugas di kota ini. Setelah itu, kami jarang sekali bertemu karena kesibukan dengan profesi masing-masing. Sungguh tak kusangka dan tak kuduga, kami malah dipertemukan kembali, namun dengan situasi dan kondisi yang berbeda. Anggap saja, reunian secara tidak langsung, walaupun dalam kondisi hati yang sedikit berembun.


Jujur, aku salut kepada mereka--para aparat negara. Begitu profesional dan cepat tanggapannya, hingga mau melibatkan anggota-anggota terbaiknya dalam mengungkap misteri kematian Vida. Dan aku ... sungguh sangat bersyukur karena Huda dan Sidqialah yang bertindak di belakang layar.


"Menurut kalian, apa kasus ini benar-benar nyata?" tanyaku setelah berdiam diri sesaat.


Sidqia dan Huda saling bertukar pandang. Entah kode apa yang sedang mereka peragakan, namun menurutku dari kilatan pandangan keduanya itu terdapat sebuah komunikasi non verbal yang terselip.


"Apa kamu mencurigai sesuatu?" Tanpa menjawab pertanyaan awalku, pria berhidung bangir itu malah bertanya balik.


Aku agak ragu untuk menjawabnya. Tapi, kupikir tak ada salahnya mengutarakan beberapa kejadian aneh yang menurutku pun tak cukup rasional. "Aku pernah melihat sosok yang mirip dengan Vida, di pemakaman saat itu," tuturku agak lirih dengan pandangan menerawang ke depan.


Sepertinya kedua kakak beradik itu kembali melempar pandangan. "Kamu yakin, Ib?" Kali ini Sidqia yang ambil suara.

__ADS_1


Pandanganku sontak terarah padanya, yang pada saat itu juga sedang menatapku penuh tuntutan. "Awalnya aku gak yakin, tapi mama juga melihatnya." Sidqia tampak sedikit memicingkan mata, agaknya mencari gelagat candaan di setiap titik wajahku. Namun, pastinya dia tidak akan menemukannya.


"Apa istrimu punya kembaran?" Huda kembali mengangkat suara. Sepertinya dia juga memiliki firasat yang sama dengan para pembaca. Aku hanya menggeleng tegas, menandakan bahwa asumsi itu tidaklah benar.


"Berarti ada yang bermain drama di sini," tuturnya kemudian setelah melempar senyuman penuh makna kepada adiknya. Bisa kulihat Sidqia tiba-tiba saja memutar kedua bola matanya dengan malas.


"Kalian berdua lagi ada masalah?" tanyaku yang mulai digerayangi rasa penasaran. Sedari tadi, jika diamati dua insan ini saling menyentil--dengan kalimat sarkas--satu sama lain.


Kami meneruskan dialog penting yang menurutku lebih serius dari sebuah obrolan dalam meeting. Pasalnya, aku begitu penasaran dengan beberapa petunjuk yang sudah mereka temukan. Menurutku, sangat hebat jika dalam waktu singkat, mereka sudah bisa mengantongi banyak sekali bukti yang sangat mengarah. Namun, aku belum bisa memberitahukan kepada kalian semua. Mengingat ... ada beberapa tahapan penting yang harus mereka lakukan sebelum menarik kesimpulan akhir dan menangkap pelakunya.


...💔...


Kurebahkan tubuh ini di atas pembaringan. Malam ini aku memutuskan untuk pulang ke rumah. Entah kenapa, aku merasa ada magnet yang menarikku telak untuk mengarahkan mobil ke tempat ini.

__ADS_1


Rumah yang sudah menjadi saksi dimana aku membawa sang kekasih hati untuk menjalani hari-hari bersama dalam lingkar keluarga bahagia. Tak bisa kunafikan bahwa selama ini almarhumah Vida sudah mewarnai hidupku dengan sikap manja dan perhatiannya. Hingga akhirnya, ia mau mengandung dan melahirkan penerusku, yang saat ini menjadi satu-satunya alasan kenapa aku harus tetap melanjutkan sisa hidup dengan penuh semangat. Menjadi sosok teladan bagi dia yang paling berharga dalam hidup yang hanya begitu singkat.


Namun, ketika pikiranku sedang melayang dalam dekap sebuah senyuman, tiba-tiba aku mendengar suara aneh yang terdengar dari lantai bawah. Seperti suara beberapa peralatan makanan yang saling bertabrakan, semakin lama terdengar semakin jelas di telinga.


Aku menyetel indera pendengaran ini dalam kondisi siaga. Bangkit dari posisi awal, dan perlahan membuka pintu kamar untuk memastikan bahwa pendengaranku memang tidak sedang bermasalah. Satu persatu langkah kuayunkan mendekati pagar pembatas yang terdapat di depan pintu kamar. Memanjangkan leher untuk mencari sosok yang sedang membuat suara mencurigakan. Pandanganku sontak teralihkan ketika leher ini berotasi ke arah meja makan.


JENG JENG JENG


Tampaklah sesosok wanita berambut sepinggang dengan pakaian serba putih menutupi keseluruhan tubuhnya, duduk di salah satu kursi dengan posisi membelakangiku.


DEG DEG DEG


Tiba-tiba pikiranku kembali menjadi tak rasional. Jika yang sedang duduk di sana memanglah seorang manusia, tapi bagaimana dia bisa masuk dengan mudahnya? Sementara aku sudah mengunci pintu depan serapat-rapatnya. Namun, jika wanita itu bukan manusia, apa benar dia adalah ....

__ADS_1


__ADS_2