
Gelombang amarah di dalam dadaku sebenarnya masih menuntut pelepasan yang brutal. Namun, aku masih memikirkan putraku yang kini sudah meregang tangis di dalam keranjang.
Seketika kesadaranku kembali menyapa, dan tubuhku refleks mendekati dan menggendongnya. Tak sudi kutatap dua manusia tak berakhlak itu. Dengan Ibram di dalam dekapan, kulangkahkan kaki untuk meninggalkan kamar yang sudah menjadi saksi bisu pengkhianatan istriku.
Sekelebat pikiran jahat terukir melewati benak. Sejak kapan mereka memulai hubungan ini? Sudah berapa kali pertemuan yang mereka cetak di belakangku selama aku tak berada di sisi? Sudah berapa banyak pula hubungan intim yang mereka lakukan? Ah, memikirkan hal itu membuatku kembali berdecak frustasi.
Betapa bodohnya aku yang tak bisa membaca situasi. Betapa bodohnya aku yang tak bisa mencium aroma perselingkuhan yang selama ini tersembunyi. Betapa naifnya aku yang selama ini selalu berpikir bahwa kesetiaanku juga akan tertular pada sang pujaan hati.
Namun, hari ini semuanya terpampang jelas tanpa ada yang harus dicurigai lagi. Vida benar-benar sudah menghapus kepercayaan yang selama ini aku beri. Dia telah mengukir tinta merah dengan nilai paling buruk sepanjang perjalanan kami. Hari ini juga, semua kenangan indah yang pernah kami lewati, terseret gelombang cinta segitiga yang sudah ia mulai entah sejak kapan, aku pun tak tahu pasti.
Aku kecewa.
__ADS_1
Aku sakit.
Aku merasa terbuang saat ini.
Mengingat adegan manis yang mereka peragakan tadi, membuat hatiku hancur berkeping-keping. Tak kusangka wanita yang selama ini aku cintai, aku sirami dengan kemewahan hidup dan segenap kasih sayang, malah menusukku dari belakang.
Istri yang kuanggap adalah sosok paling patuh dan menerima kekuranganku apa adanya, ternyata menyimpan jutaan rahasia, di balik kebungkamannya. Kukira selama ini ia sudah bahagia. Walaupun terkadang aku juga pernah membuatnya terluka. Namun, aku tak menyangka seperti ini balasannya. Rasanya sakit sekali Tuhan.
...💔...
"Apa kau yakin, jika bayi yang sedang kau dekap itu adalah darah dagingmu?"
__ADS_1
DEG
Hatiku tiba-tiba terasa berpasir tatkala mendengar ucapannya yang memiliki makna sarkas. Aku masih mematung belum sempat membalikkan badan. Hati dan pikiranku kali ini tampak berdebat antara ingin terpengaruh atau masih mempertahankan benteng keyakinan.
"Vazo ...!"
Tiba-tiba suara Vida menggelegar seantero ruangan. Bentakannya menyiratkan makna seakan tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh sang kekasih gelap. Dengan begitu, aku pun bisa mengetahui nama di balik wajah pria yang sudah menjadi rival telak, yang selama ini bersembunyi di belakang layar.
"Sayang ... jangan hiraukan apa yang udah dia katakan. Vazo berkata omong kosong. Ibram adalah anak kita, buah cinta kita," tutur Vida dalam balutan emosi yang meluap-luap. Aku tahu, dia masih berharap agar aku tetap menaruh kepercayaan padanya walaupun seujung kuku.
Membuatku yakin bahwa bayi ini memanglah darah dagingku. Namun, bukan karena celotehannya yang membuatku percaya. Karena aku memang punya keyakinan tersendiri bahwa Ibram memanglah putraku. Darah dagingku.
__ADS_1
"Ini adalah jalan yang kau pilih, Vida. Jangan salahkan aku, jika setelah ini kau tidak akan pernah lagi bertemu dengan Ibram. Karena aku tidak ingin anakku mengetahui betapa buruk perangai wanita yang telah melahirkannya."
Setelah mengatakan dialog tersebut. Aku pun langsung bergegas menuruni anak tangga. Vida tampak mengejarku dari belakang, seraya meneriakkan namaku dan anaknya. Namun, langkahku tak berhenti begitu saja. Tujuanku saat ini hanyalah ... cepat keluar dari rumah ini dan mengubur segala kenangan yang pernah terukir di antara kami berdua.