
Pasokan oksigen di sekitar kami mendadak menurun. Bagai sosok seorang maling yang dengan mengendap-endap masuk ke rumah orang lain, membuat kami berdua sama-sama mematung di tempat.
Langkah pria itu kini sudah berhenti di depan penutup keramik besar terbuka yang menarik perhatiannya tadi. Kepalanya tampak menoleh ke kanan dan ke kiri seolah sedang mencari sosok penyelinap yang kemungkinan ada sesuai dengan asumsinya--mungkin.
"Tidak ada siapa-siapa di sini," gumamnya kemudian menutup kembali lobang yang merupakan jalan pintas kami tadi. "Aku harus segera kembali dan melaporkan hal ini pada bos." Ia sontak berbalik badan.
Aku dan Huda masih anteng dalam persembunyian. Namun, sangking berhati-hatinya, tanpa sadar kakiku bergerak mundur hingga membentur sebuah kardus panjang. Menyebabkan kardus tersebut bergeser dari--rak pendek--tempatnya semula dan membuat tutupnya ternganga.
Karena suara gebrakan yang cukup menarik perhatian, aku dan Huda kompak menoleh ke bawah. Dan betapa terkejutnya aku ketika melihat isi kotak tersebut. Begitu pun dengan Huda. Sepersekian detik kemudian, aku pun sontak menoleh ke arah wajahnya dengan mulut terbuka.
"Vazo ...!" gumamku penuh keyakinan yang terdengar langsung oleh telinga Huda.
__ADS_1
"Kamu mengenalnya?" Dahi sahabatku itu tampak berkerut dalam, menuntut jawaban. Aku hanya mengangguk tanpa mengeluarkan kata-kata. Terlalu gaduh di dalam dada, membuatku sangat sulit untuk melewatkan beberapa gelombang suara.
Ya, di dalam kardus itu terdapat tubuh kaku Vazo yang kurasa sudah tak lagi ditempati ruh. Aku kembali tercenung menatap jasad selingkuhan Vida itu, yang tak kusangka dan tak kuduga bisa berada di dalam sana. Bagaimana kisahnya? Namun, sudah jelas bahwa Vazo juga menjadi korban pembunuhan.
...💔...
Mungkin karena mendengar suara benda jatuh tadi, membuat pria berwajah oriental tersebut berbalik badan. Pandangannya tampak mengunci ketika menangkap penampakan kami berdua yang kini sudah berdiri di hadapannya. Huda pun tak segan-segan menodongkan mulut senjatanya ke arah pelipis pria itu. Bisa kulihat dengan jelas pria tersebut tampak meneguk salivanya dengan susah payah. Ditambah lagi dengan buliran keringat sebesar biji kacang hijau sudah membanjiri keningnya sekarang.
"Si-siapa kalian?" tanyanya dengan suara terbata.
"A-apa mau kalian?" tanyanya lagi dengan sisa keberanian.
__ADS_1
"Pertanyaan bagus," tuturku dengan seringai penuh kemenangan. "Kami datang ke sini untuk menangkap kalian semua!" seruku kemudian seraya mencengkeram kerah bajunya.
"Ta-tapi, bos ti-tidak ada di tempat," ucapnya dengan tubuh yang sudah gemetaran.
Huda masih mengamati percakapan di antara kami berdua tanpa ada rasa ingin menyelipkan kata. Sepertinya ia masih tak percaya dengan ocehan tak bermutu dari mulut pria tersebut.
"Jangan beralibi, Kau!" titah Huda seraya menarik pelatuk senjata, bersiap untuk melayangkan peluru ke arah sasarannya. Pria itu tampak semakin ketakutan dengan ekspresi wajah yang sudah memelas sekaligus bergidik ngeri.
"Ba-baik, ikut denganku," ucapnya seraya mengangkat kedua lengan, dan berjalan mendahului kami. Jangan lupakan bahwa senjata Huda tetap mengekorinya dari belakang!
Ketika pintu tengah tersibak sempurna, ternyata sudah ada sekitar lima orang lelaki bertubuh kekar berdiri di depan kami. Ah, bagaimana caranya dia memanggil bala bantuan? Setahuku, tangan pria berwajah oriental itu tampak kosong melompong tanpa adanya ponsel atau alat bantu lainnya.
__ADS_1
Sial, aku melupakan sesuatu. Huda dan aku baru menyadari kalau lelaki itu memakai headset bluetooth yang terpasang ketat di telinga sebelah kirinya. Seketika pria yang ditodongi senjata oleh Huda tadi, menyeringai seolah dirinya sedang berada di atas angin.
"Ingin mengancamku? Tak semudah itu, Ferguso!" ocehnya dengan nada sombong seraya membalikkan badan ke arah kami berdua. Terang saja, para lelaki berbadan kekar di belakangnya kini sedang memegang senjata laras panjang yang sama-sama ketat dalam genggaman masing-masing. Senjatanya mereka acungkan lurus ke arah kami.