
Seusai mengambil vitamin yang sudah diresepkan untuk Vida, kami langsung angkat kaki dari sana. Di tengah perjalanan, tiba-tiba ia memintaku untuk menepikan mobil yang sedang melaju sedang menggilas jalan raya.
"Ada apa, Sayang?" tanyaku seraya mengernyitkan dahi, setelah berhasil menepi. Dia hanya menampakkan senyuman dikulum, lalu membuka pintu mobil.
"Aku pengen pentol," katanya seraya tersenyum penuh makna. Aku yang merasa tidak ada yang aneh dengan perkataannya lantas hanya mengedikkan kedua bahu.
Apa aku terlalu polos memaknai kalimatnya?
Sekitar sepuluh menit kemudian, ia kembali ke mobil dan duduk seperti sebelumnya. "Katanya, pentol di sini itu enak banget, Sayang. Tuh, liat aja banyak yang ngantri," jelasnya seraya membuka tutup gelas--pembungkus--pentol kuah yang baru saja ia beli.
Aku hanya menatapnya dengan senyuman tipis, namun tak juga menyalakan mesin mobilku kembali. Setelah memasukkan satu suap pentol kuah itu ke mulutnya, ia lantas merotasikan lehernya ke arahku.
"Sayang, mau?"
Setelah pertanyaan itu, aku baru menyadari bahwa sedari tadi, diri ini berada dalam lamunan yang aku sendiri pun tidak mengerti. Agaknya aku masih memikirkan kalimat konotasinya tadi.
__ADS_1
Ampun!
"Eh, gak, Sayang. Makasih, buat kamu aja." Aku langsung meneruskan perjalanan pulang, hingga akhirnya kami tiba di kediaman.
Vida langsung keluar, disusul olehku yang sebelumnya masih berkutat di dalam mobil. Dengan langkah serentak kami memasuki rumah bersama-sama.
Istriku mengambil langkah terlebih dahulu, dengan niat untuk merebahkan tubuhnya di atas sofa. "Gitu aja kok rasanya cape' banget, ya." Ia benar-benar terlihat begitu lelah. Tampak dari beberapa buliran keringat di sekitar anak rambutnya, dan juga wajah lesunya.
Aku yang baru saja selesai mengunci pintu, lantas menyusul istriku dan duduk tepat di sampingnya. Sejenak kutoleh ke arahnya yang kini sedang memejamkan mata, lalu merogoh ponsel yang tersimpan di dalam saku celana. Karena sedari tadi benda pipih dengan kecanggihan luar biasa itu, terus saja bergetar ria.
Setelah kuperiksa ternyata ada lima panggilan tak terjawab dari Kak Catur. "Tumben kak Catur nelpon, pasti ada yang penting," lirihku, karena takut mengusik Vida yang kulihat sepertinya sudah terlelap karena kelelahan.
"Em ... maaf, Kak. Aku tadi lagi di rumah sakit," jawabku yang membuatnya semakin heboh seperti respon emak-emak komplek setelah mendengar adanya gosip baru.
Aku menghela napas sejenak, agar membuatnya semakin penasaran. "Jadi, beneran Vida sakit? Sakit apaan? Kalo parah kenapa gak diopname aja?" Berondongan pertanyaannya itu membuat memoriku kembali mengingat sang ibu mertua.
__ADS_1
Selain ibu mertua, Kak Catur adalah orang nomor dua yang paling khawatir--jika itu menyangkut tentang Vida. Sementara ayah mertua, orangnya santai dan kalem. Beliau cenderung tidak banyak bicara, kecuali ada hal penting saja.
"Sekarang dia udah baik-baik aja, Kak. Malah sangat baik," responku santai seraya menyandarkan punggung pada wajah sofa. Sekilas kubelai pucuk rambut istriku yang saat ini semakin nyenyak saja sepertinya.
Setelah itu kuberikan penjelasan kepada Kak Catur agar dia tak lagi meresahkan kondisi adik perempuan satu-satunya itu, tanpa mengabari bahwa Vida sedang berbadan dua. Karena aku yakin istriku sudah merencanakan sebuah kejutan untuk memberitahukan kabar mengembirakan ini kepada keluarganya.
...💔...
Empat hari kemudian
"Sayang ...!" pekik Vida dari kamar mandi. Aku yang memang sedang duduk di sofa kamar kami, lantas bergegas menyusulnya.
"Ada apa, Sayang?" tanyaku yang tak kalah gusarnya. Apalagi, setelah melihat Vida bersimpuh di lantai dengan air mata yang sudah merajai kedua pipinya.
"Aku berdaraaah!" erangnya seraya menghambur ke pelukanku seketika.
__ADS_1
JLEB
Apa maksudnya?