Istriku Budak Nafsu

Istriku Budak Nafsu
Pengalihan


__ADS_3

Sepersekian detik kemudian kulayangkan kembali tatapan mengintimidasi itu ke arah pria asing yang kuketahui bernama Baron itu. Kutarik kerah bajunya sehingga tubuh atletis yang hampir menyamai tubuhku itu bergeser ke depan dan sedikit condong.


"Siapa kau ini? Apa hubunganmu dengan istriku?" Pertanyaan kedua telah kulontarkan, namun Baron masih menyeringai sinis. Mungkin ia baru saja menyadari ketololanku.


"Apa masih perlu kujawab?" tanyanya balik dengan melirik sekilas ke arah Vida.


Aku yang kepalang geram, tak bisa lagi menahan diri. Kuayunkan sebuah bogeman penuh kekuatan, lalu pukulan itu mendarat telak di pipinya.


BUUUGH


Terdengar teriakan Vida yang cukup menggelegar seantero kamar--tak menyangka pastinya. Sementara, Baron tampak sedikit terpental ke belakang, namun tidak sampai terjungkal ke lantai. Ia lantas menyentuh bekas bogeman itu dan memandangku dengan tatapan yang sulit diartikan seraya tersenyum tipis.


Apakah ia sedang mengejekku?

__ADS_1


Kemudian, pria itu membersihkan tetesan darah yang merembes dari sudut bibirnya, lalu kembali berjalan mendekatiku. "Sepertinya aku tidak perlu menghabiskan tenaga untuk membalas pukulanmu, Bro. Karena kemenangan yang sesungguhnya sudah berada di dalam genggamanku," tuturnya di dekat telingaku, kemudian berlalu.


Dan bisa kulihat, sebelum ia membalikkan badan, pria itu sempat melirik Vida dan tersenyum penuh makna.


Sedangkan aku ... dengan segenap luka kekecewaan yang mendalam, hanya bisa mematung tanpa adanya pergerakan.


Peristiwa dan berita ini cukup mengejutkan, tapi juga sangat menyesakkan. Rongga dadaku serasa tak memiliki sisa ruangan lagi untuk sekedar bernapas. Otakku mulai terasa tak berfungsi lagi walaupun sekedar untuk berpikir ringan.


Kekuatanku serasa hanyut terbawa hempasan ombak yang diciptakan oleh sarkasnya kalimat Baron. Kalimat yang benar-benar membuatku terhenyak. Membuatku merasa kerdil bahkan gagal menjadi sosok suami yang bisa menciptakan rasa nyaman untuk pasangan sehingga ia harus mencari sandaran lain.


Tubuhku terjerembab di lantai. Bersamaan dengan keputusasaan, aku hanya mampu merunduk dan mere-mas pucuk kepalaku, saking terlukanya.


Vida yang menyadari hal itu langsung berhambur memelukku dalam dekapan pilu. "Sayang ... tolong jangan dengarkan apa pun yang dikatakan oleh pria gila itu, kumohon!?" Ia terus meracau dengan kalimat pembelaan yang tak juga mendapatkan respon apa-apa dariku. Rasanya sulit sekali untuk mendongakkan pandangan, apalagi untuk menumpahkan kekalutan perasaan.

__ADS_1


...💔...


Aku sudah berada di base camp, setelah menerima panggilan darurat dari Kak Catur tadi. Mungkin Tuhan masih ingin melindungiku dari perbuatan yang tidak seharusnya kulakukan pada Vida, sehingga Dia menggerakkan tangan Kak Cantur untuk menelpon nomor kontakku di saat yang bersamaan.


"Seminggu lagi konser tunggal grup band kita akan dilaksanakan. Mungkin ini terkesan mendadak, karena pihak produser terpaksa memajukan jadwalnya, karena alasan tertentu," jelas Kak Fedi yang merupakan manajer grup band kami.


Yang lainnya tampak begitu antusias menanggapi penjelasan dari sang manajer. Namun, berbeda dengan diriku yang saat ini sedang dirundung masalah kalbu.


"Kamu baik-baik aja, Ib?" tanya Kak Catur yang mulai menyadari raut tidak mengenakkan terlukis jelas di wajahku. Tepukan macho darinya mendarat telak di pundak sebelah kiri. Seketika pandangan semua orang tertuju padaku.


Aku terperanjat, seolah mendapat sengatan listrik. Pandanganku pun refleks menoleh ke arahnya yang saat ini sedang menatapku penuh tanya. Tak ingin membuatnya semakin curiga apalagi membuka masalah yang terjadi antara aku dan adiknya, akhirnya memaksaku untuk beralibi.


"Ah, aku hanya merasa sedikit pusing, Kak. Mungkin karena faktor kurang tidur."

__ADS_1


"Jiaaa, yang baru pulang dari liburan. Pasti habis kerja keras tu," celetuk Habibi yang merupakan pemain bass dalam grup ini. Membuat semua orang yang berada di dalam ruangan itu menertawai dan menyorakiku.


Hem ... aku hanya bisa menggaruk tengkukku yang tidak gatal, seraya melempar senyuman yang terkesan dipaksakan.


__ADS_2