Istriku Budak Nafsu

Istriku Budak Nafsu
Drama


__ADS_3

Setelah menemui dokter ahli kandungan, barulah aku bisa memastikan bahwa istriku benar-benar sedang mengandung buah cinta kami. Sungguh, aku sangat bahagia. Lebih tepatnya, tidak menyangka bahwa sang Pencipta akan memberikan penggantinya secepat ini. Namun, di balik itu semua, aku sangat menyukuri bahwa Vida sudah berbadan dua lagi.


"Sayang ...!" rengek Vida yang kini sudah duduk di sampingku. Biasanya kalau sudah seperti ini, ada sebuah keinginan yang akan membuatku ketar-ketir.


Menurut dokter, trimester pertama merupakan waktu yang sangat penting bagi perkembangan janin. Karena pada masa inilah organ-organnya mulai terbentuk. Dan pada masa ini juga, wanita sedang rentan-rentannya mengalami keguguran. Pastinya, aku tidak menginginkan hal itu terjadi lagi. Cukup sekali saja duka itu menghantam kehidupan kami. Aku tidak ingin Vida kembali merasakan pahitnya kehilangan itu lagi.


Jadi, apa pun keinginannya, sesulit apa pun itu, aku tetap berusaha sebisaku untuk mengabulkannya. Walau kadang harus menanggung malu, jika harus meminta buah yang Vida inginkan dari pekarangan rumah tetangga. Memanjatnya di tengah malam buta, atau bahkan di kala senja menyapa. Namun, tidak apa, akan aku lakukan sebisanya.


"Pengen sesuatu lagi?" tanyaku yang mulai memahami tatapan memelasnya. Dengan cepat ia mengangguk sambil memasang raut wajah cengengesan. Ini sudah pukul sembilan malam. Semoga saja, yang dia inginkan bisa aku dapatkan.


"Tiba-tiba aja, aku pingin mandi sama kamu," tuturnya dengan bibir mencebik manja. Kedua tangannya bergelayut di lenganku yang kini sedang duduk menghadap laptop. Sementara kedua manik matanya dibuat memelas--semelas mungkin.


Apa? Mandi bersama? Malam-malam begini?


Tentu saja, ini bukanlah hal sulit, tapi bukankah mandi pada jam segini akan membuat ia kedinginan?


"Sayang ... nanti tubuhmu bisa menggigil." Aku masih berusaha mengajukan sebuah konsekuensi. Mana tahu, dengan begini, dia bisa mengurungkan keinginan hati.

__ADS_1


Namun, perkiraanku meleset. Ia langsung bungkam dan melepaskan tangannya dariku. Tatapannya kini tak lagi manja, tergantikan oleh tampang masam yang begitu kentara.


Hem ... sepertinya aku sedang berada dalam masalah besar. Segera kugeser tubuhku mendekatinya dan mencoba meraih telapak tangannya. Namun, dia malah menepis gerakanku yang bahkan belum sampai pada tujuannya.


"Bilang aja kalo kamu gak mau," lirihnya dengan wajah memberengut. Aku hanya bisa menghela napas panjang, karena sudah membuatnya salah paham.


Bukan begitu, Sayang. Aku cuma gak mau kalo nanti kamu sakit, batinku yang tak berani mengungkapkannya langsung. Karena jawaban seperti itu aku yakini akan membuat Vida semakin berang.


Sekali lagi kucoba mendekatinya dan meraih sebelah pundaknya. Ia tidak menolak telak, namun masih sempat menggoyangkan pundaknya sedikit--hampir menolak.


"Aku udah gak mood lagi," ucapnya seraya beranjak dari posisi awal, kemudian berlalu dari hadapanku.


Tuhaaan. Betapa bodohnya aku. Kembali merutuki diri sendiri dan menyalahkan ketidakmahiranku dalam membujuknya. Kenapa tidak kuturuti saja kemauannya tanpa mengajukan penawaran sedikit pun?


Huuuffft!


Kuraup oksigen banyak-banyak, sebagai persediaan untuk mengahadapi drama selanjutnya. Seraya berdiri dari peraduan, kumatikan laptop terlebih dahulu, lalu menyusul langkah Vida.

__ADS_1


...💔...


"Ayolah, Sayang." Aku masih mencoba meluluhkan hatinya, walaupun tampak begitu sia-sia. Sial sekali nasibku malam ini, harus menerima konsekuensi dari ketololanku sendiri.


"Enggak," tolaknya.


"Katanya mau mandi bareng. Ayo, mumpung belum terlalu malam," tuturku dengan nada lembut.


"Enggak mau," tolaknya lagi.


"Apa mau kugendong?" Pertanyaanku kali ini sukses membuatnya mendelik ke arahku. Membuatku merasakan kengerian yang menjalar ke seluruh tubuh. Matilah aku.


"Kamu tu, ya. Selalu aja begini, kalo aku udah merajuk aja, baru mau ngabulin permintaanku," tuturnya dengan penuh emosi. Lalu, kembali memunggungiku yang kini sudah tak lagi banyak bunyi.


DEG


Aku baru sadar jika aku seburuk itu!

__ADS_1


__ADS_2