Istriku Budak Nafsu

Istriku Budak Nafsu
Sejumput Resah


__ADS_3

...POV LIANA ALVIDA...


Sore itu ... suamiku pergi untuk yang ke sekian kalinya. Meskipun aku tahu kepergiannya dalam rangka mengais rezeki, namun tetap saja sebagai seorang istri, aku selalu disarangi rasa khawatir dan tidak ingin ditinggalkan. Apalagi saat ini, aku baru saja selesai melahirkan. Ada rasa aneh semacam selalu ingin didampingi, karena sekarang kami sudah mempunyai buah hati.


Selama ini, aku memang cenderung lebih menyembunyikan perasaanku, ketimbang harus mengungkapkannya secara langsung pada suamiku. Karena aku tahu, seperti itulah adanya dia. Aku tak bisa menuntutnya untuk berbuat lebih atau sekedar menjadi sesosok kekasih sesuai dengan kemauanku. Aku tidak bisa memaksakannya.


Namun, di sisi lain, aku juga sangat bersyukur bisa hidup dengan sosok penyabar dan pengasih seperti dirinya. Terlepas dari beberapa kekurangan yang dia miliki, dia juga mempunyai kelebihan tersendiri. Walaupun terkadang ketidakpekaannya selalu sukses membuatku kesal bahkan menekan hati, namun selama ini aku masih berusaha untuk bisa memaklumi. Dengan tidak banyak mengeluh apalagi mempermasalahkan hal-hal kecil yang kadang menyulut bara emosi.


Namun, yang namanya menipu hati sendiri itu tak selamanya indah untuk dijalani. Terkadang aku juga merasa ia tak benar-benar mencintaiku karena tidak pernah menampakkan ekspresi cemburu. Tak pernah menanyakan siapa saja yang berkomunikasi denganku. Bahkan tak pernah memuji bahkan meminta maaf jika melakukan kesalahan yang kadang membuat amarah semakin memburu.

__ADS_1


Jujur, hal itu selalu sukses membuatku menekan batin. Kadang aku hanya bisa menangis sendiri ketika ia tak berada di rumah. Aku kesal, aku sakit hati, namun tak bisa untuk berekspresi. Karena di saat bertemu kembali, ia akan bersikap biasa saja seolah tak pernah terjadi sesuatu di antara kami.


Masih banyak lagi hal sepele yang menurutku begitu penting, namun tak sama di pandangan suamiku. Jika kubuat daftarnya dalam sebuah buku mungkin butuh waktu satu malam untuk menuliskannya.


Aku sadar manusia dilahirkan dengan banyak kekurangan, begitu pun juga dengan aku. Tak bisa kusembunyikan lagi rasa jengah yang setiap hari kadang menyerang batinku. Walaupun aku berusaha untuk menutupinya, namun hatiku tak bisa sepenuhnya menerima.


Aku kecewa, namun aku tak bisa berkoar seenaknya. Aku ingin marah, namun aku tak punya alasan kuat untuk melakukannya. Aku ingin dimengerti, namun aku juga harus mengerti dirinya, yang selama ini sudah begitu baik tanpa sekalipun terlihat murka.


Ya, benar adanya. Aku memang dilema. Ada sesuatu yang membuatku sedikit tidak nyaman hidup bersama Ibra, namun juga masih memaksakan diri untuk terus bertahan, demi keutuhan rumah tangga.

__ADS_1


Jika ditanya, apakah selama ini aku hidup bergelimang sandiwara?


Ya, aku memang sering bersandiwara. Berpura-pura seolah sedang dalam keadaan baik-baik saja, padahal sebenarnya aku sangat terluka. Terluka oleh kebodohanku sendiri yang tidak bisa berterus terang kepadanya. Aku masih memikirkan perasaannya. Aku masih memikirkan perlakuan baiknya. Aku masih memikirkan apa yang akan dikatakan oleh dunia, jika aku berpisah dengannya hanya karena hal-hal sepele saja.


Bukankah terdengar begitu lucu?


Jika tidak, berarti aku ini sudah gila. Menikah dengan pria yang selama ini aku anggap sebagai sosok yang paling mencintaiku lebih dari apa pun. Namun, tidak pada kenyataannya.


Mungkin dia memang mencintaiku. Tetapi, caranya mencintai itu, tak sejalan dengan apa yang ada di dalam lingkar ekspektasiku.

__ADS_1


...POV LIANA ALVIDA END...


__ADS_2