Istriku Budak Nafsu

Istriku Budak Nafsu
Kebenaran 2


__ADS_3

...POV LIANA ALVIDA PART 4...


"Vida ... apa yang kamu lakukan?!" teriak Baron ketika aku mencoba menyayat pergelangan tangan. Ini kali keduanya aku ingin menyapa maut terlebih dahulu sebelum ia datang menjemputku. Baron lantas merampas silet yang sempat kutemukan di laci nakas tadi.


"Kamu udah gila, ya?!" hardiknya seolah tidak terima dengan perbuatanku yang sungguh tidak masuk akal. Bukan lagi tidak masuk akal, tetapi lebih kepada tidak memiliki akal pikiran.


"Biarkan aku mati, Baron!" erangku dengan tubuh yang masih meronta, ingin merebut silet yang berada di tangannya. Dia masih tetap bersikukuh mempertahankannya, bahkan melemparnya ke dalam tempat sampah.


Aku yang sudah gelap mata, lantas berlari menghampiri tong sampah itu dan mencoba menemukan kembali senjata kecil yang bisa mempertemukanku dengan kematian. Namun, Baron tak tinggal diam. Dia kembali memegang erat pundakku, menarik tubuhku, menyeretku mendekati kasur, lalu mengurungku di bawah kungkungannya.


Ya, setelah menemukanku di pinggir jalan tadi, Baron membawaku ke apartemennya yang terletak tidak jauh dari tempat itu. Aku yang memang sudah putus asa akan nasib hidup, tak lagi berpikir panjang untuk melakukan kembali aksi pembunuhan terhadap diri sendiri.


Dan ... di sinilah kami sekarang!

__ADS_1


...💔...


"Hem ... acting-mu terlalu berlebihan, Sayang!" timpal Baron ketika tubuhku tak lagi memberontak. Senyuman gagah tersungging telak di kedua sudut bibirnya, disertai seringaian mengejek.


"Benarkah? Aku malah merasa ini belum sampai pada taraf totalitas," sanggahku dengan kedua alis bertautan dan bibir mengerucut. Lalu, sepersekian detik kemudian seringaian licikku pun terbit di kedua sudut bibir. Seraya membelai rahang tegasnya yang ditumbuhi rambut-rambut halus yang menggairahkan, kudaratkan kecupan singkat di bibirnya.


Dia tampak begitu bahagia, lalu merebahkan tubuhnya di sampingku. "Apa kamu benar-benar mencintainya?" tanyanya dengan nada meragukan.


"Kamu tahu sendiri, perasaanku ke Ibra hanyalah sandiwara belaka. Bukannya ini sudah menjadi kesepakatan kita bersama? Kenapa sekarang kamu seperti meragukanku?" Kepalaku tertarik untuk menunduk merasa kehilangan kepercayaan dari lelaki yang sudah lama menjadi kekasihku itu, jauh sebelum aku menikah dengan Ibra.


Melihat ekspresiku yang seketika berubah sendu, Baron langsung menindih tubuhku dalam sekali hentakan. Memadukan dua netra kami beberapa detik, kemudian menyatukan bibir kami.


Awalnya, pergerakan bibir ini terkesan kalem dengan diselipi kekehan kecil dari kami berdua. Namun, lama kelamaan permainan bibir Baron semakin bringas diiringi deru napas yang memburu. Tentu saja, hal ini yang aku tunggu-tunggu. Tak ingin kalah darinya, aku pun semakin menggila dengan kelihaian yang aku punya.

__ADS_1


Hingga akhirnya, Baron tak lagi bisa menahan diri. Perlahan tapi pasti ia melucuti semua kain yang menutupi tubuhku dan tubuhnya, lalu menggagahi setiap lekuk tubuh ini, yang bisa membuatku tersulut gairah hingga puncak ternikmat di malam sunyi.


...💔...


Aku sudah lama bersama Baron. Kami juga sudah lama menjalani bisnis bersama. Bisnis terlarang yang sudah kalian ketahui sebelumnya.


Ya, kurasa sekarang kalian pasti sudah bisa menebaknya. Benar sekali, pernikahanku dan Ibra hanyalah sebuah topeng belaka. Sebagai tameng persembunyian agar apa yang kami jalankan selama ini tak tercium oleh khalayak ramai bahkan aparat kenegaraan.


Namun, kenapa harus Ibra? Ya, karena Ibra adalah sosok public figure. Jadi, tidak akan ada seorang pun yang bisa mencurigai bahwa istrinya ini adalah sosok berbahaya yang patut diwaspadai.


Sementara kehadiran Vazo, dia hanyalah sebuah pengalihan agar Ibra tidak sedikit pun mencurigai hubungan terlarangku dengan Baron. Vazo memang mencintaiku tanpa cela, tapi tidak dengan sebaliknya. Kalian mau mengatakan bahwa aku ini Budak N-a-f-s-u? Ya, kalian boleh menggunakan dua kata itu sekarang, seperti yang dicetuskan oleh Ibra.


Intinya, semua yang terjadi selama ini sudah diprediksi dan direncanakan dengan matang. Hingga akhirnya, aku harus menyudahi hubunganku dan Ibra dengan merekayasa kematianku sendiri. Melalui pergantian peran dengan boneka silikon yang sudah lama dipersiapkan oleh Baron untuk mengelabui pihak keluarga. Jangan lupakan, pihak kepolisian dan tenaga kesehatan yang juga terjun menjadi pemeran pembantu demi tercapainya kesuksesan rencana kami.

__ADS_1


__ADS_2