Istriku Budak Nafsu

Istriku Budak Nafsu
Sebuah Pengakuan


__ADS_3

...POV LIANA ALVIDA PART 2...


Aku ... tidak tahu pasti jika suamiku akan kembali sore ini. Perkiraanku meleset telak. Rencana yang sudah kuatur sedemikian rupa tak ayal hanya sebuah kehancuran yang menerjang kehidupanku semata. Menghujam kokoh ruang dadaku dengan palu raksasa bak senjata seorang superhero ternama. Tragedi ini, begitu sulit untuk kupercaya. Tak kusangka Tuhan membalas dosaku begitu cepat dari yang aku duga. Aku adalah istri durhaka. Aku adalah ibu yang tak berguna. Bahkan aku tak pantas untuk dipuja oleh orang baik seperti Ibra.


...💔...


Kuakui, aku memang banyak berteman dengan pria lain. Profesiku yang sebelumnya membuat aku banyak mengenal sosok-sosok pria hidung belang yang tak kalah menggiurkan jika sudah menawarkan kemewahan. Namun, aku tak semurah itu.


Walaupun sebelumnya kalian tahu tentang Deyandra, namun ia benar-benar hanya sahabatku semata. Sementara Baron, pria itu sudah lama mengejarku, namun aku tak memiliki ketertarikan apa pun terhadapnya.

__ADS_1


Berbeda dengan Vazo ... dia adalah sosok yang sangat mengerti aku. Kami sudah lama saling mengenal satu sama lain. Bahkan jauh sebelum aku mengenal Ibra. Dia sudah lama menyatakan rasa, walau hanya dalam bingkai cinta monyet belaka. Saat itu, aku hanya menganggapnya sebagai bocah SMP semata. Yang hanya menganggap cinta sebagai sebuah mainan dan modal untuk membuat jenaka.


Awalnya aku tak memiliki perasaan apa pun terhadapnya. Namun, dia selalu pasang dada jika aku membutuhkannya. Selama ini dialah yang menjadi tempatku bersandar dan berbagi keluh kesah masalah rumah tangga. Dia sahabat kecilku. Sahabat yang tak berhenti mencintai walaupun aku telah dinikahi oleh pria lain.


Jika ditanya, bagaimana perasaanku yang sebenarnya. Aku akan menjawab jika aku mencintai Ibra. Namun, caranya mencintaiku tak seperti yang Vazo lakukan. Aku merasa, aku terlalu mencintai Ibra, namun tidak dengan sebaliknya. Benar kata orang; lebih baik dicintai daripada mencintai.


Saat bersama Vazo, aku benar-benar merasa lebih nyaman dengan segala keromantisan dan ketulusannya. Dia memperlakukanku seperti apa yang aku harapkan. Walaupun sejauh ini kami hanya menjalin komunikasi via telekomunikasi. Dan hanya bertemu beberapa kali di saat Ibra tak ada di rumah. Namun, lama kelamaan, aku mulai merasa nyaman. Mulai adanya benih-benih perasaan yang dilandasi oleh sejuta perhatian dan faktor membutuhkan. Apalagi perbedaan keduanya sangat mencolok.


Sementara suamiku ... menurutku ia tak cukup lihai mengimbangiku di atas tempat tidur. Maaf, jika aku harus menguak tentang hal tabu ini. Agar semuanya jelas tanpa adanya kejanggalan lagi. Jadi, aku rasa kalian sudah bisa menebak, tipe wanita seperti apa aku ini, tanpa harus menyebutkannya lebih detil lagi.

__ADS_1


Banyak lagi faktor lainnya yang bisa membuatku berpaling dari sang suami. Dari hal-hal besar ataupun hal-hal sepele. Aku bahkan tak pernah menerima pujian atas sesuatu yang sudah aku lakukan. Ibra jarang sekali mengungkapkan kata maaf jika dia melakukan sebuah kesilapan.


Aku merasa ada sesuatu yang tidak bisa menjamin kenyamanan hati seseorang, walaupun ditukar dengan berjuta kemewahan. Ibra, memang punya segalanya. Namun, ada sebentuk hati yang terabaikan di saat aku menginginkan sejumput perhatian. Apakah aku salah jika mendambakan perlakuan yang lebih dari pasangan?


Aku rasa itu tidak salah. Namun, aku sadar letak kesalahanku adalah ... aku tak pernah terbuka terhadap suamiku. Aku berusaha sedemikian mungkin mengkhianati diriku sendiri. Menetap dan meringkuk di dalam kepedihan hati, walau sebenarnya aku ingin keluar dari zona ini. Sayangnya, aku bukanlah sosok yang pemberani.


Kuakui kesalahanku. Kuakui kebodohanku. Kuakui bahwa aku tak sepatutnya bertindak seperti itu. Namun, juga kuakui bahwa aku telah kalah terhadap nafsuku.


...💔...

__ADS_1


Deru mesin mobil Ibra sudah tak terdengar lagi di telinga. Namun, aku masih meringkuk dan meratapi kebodohanku di teras rumah. Dalam keterpurukan ini, baru aku menyadari bahwa aku adalah wanita paling bodoh di muka bumi. Aku rela bahkan dengan suka hati menukar berlian yang berkali-kali lipat nilainya dengan kepuasan nafsu yang hanya bisa kurasakan sementara. Bahkan tanpa kusadari, aku adalah ibu yang sudah merusak masa depan anakku sendiri dengan kejahilan yang hanya akan membuat ia berlara hati di kemudian hari.


__ADS_2