Istriku Budak Nafsu

Istriku Budak Nafsu
Sahabat Lama


__ADS_3

Sinar mentari menusuk telak pori-pori kain kasa yang masih menutup rapat jendela kaca di kabin kami. Mengusik posisi wenaku yang kala itu, masih melingkarkan lengan pada pinggang ramping istriku.


Ah, malas sekali rasanya untuk menyibakkan kelopak mata. Apalagi, ada guling bernyawa nan indah yang menemani pagiku--setiap harinya.


Bisa kurasakan tubuh istriku menggeliat manja, seolah memberikan kode agar aku melepaskan pelukan. Namun, tak akan kubiarkan hal itu terjadi. Karena aku masih betah dengan posisi menempel sempurna, seperti ini.


"Sayang, aku mau pipis," rengeknya seakan memaksaku untuk mangkir. Tubuh polosnya bergeser ke sana ke mari. Membuat pusaka pagi yang memang sudah ereksi ini, semakin berdiri tegak bak sebuah menara tinggi.


"Boleh, tapi cepatlah kembali, Sayang!" titahku tak mau tahu. Ia lantas tersenyum seribu kali lebih menggoda dari sebelum-sebelumnya.


Ah, aku semakin tidak tahan!


Terpaksa kulepaskan tubuhnya dari jeratan lengan kekarku. Namun, tak sedikitpun gerakannya luput dari diktean kedua netra cokelatku.


Tentu saja, ia merasa malu. Berjalan perlahan menuju toilet dengan kondisi badan tanpa sehelai benang pun. Tetapi, tidak apa, aku suka. Semakin ia merasa malu, semakin indah pula dirinya dalam tatapanku.


Seusai menyelesaikan gawainya. Ia tak langsung kembali dalam pelukanku, begitu saja. Perlu waktu sekitar sepuluh menit untuk menunggunya. Aku yang sudah tidak sabar lagi, lantas hampir bangkit dari peraduan, namun kuurungkan ketika daun pintu bilik kecil itu tersibak sempurna.


"Kenapa lama sekali?" tanyaku yang masih berselonjor kaki di atas tempat tidur kami. Ia tak bersuara sama sekali, hanya tersenyum tipis, lalu mendekat dan berbaring di sampingku lagi.


Kuelus pipinya sekilas sebelum akhirnya mendaratkan kecupan kecil di sana. Ia nampaknya mengerti dengan bahasa tubuhku yang kini, menempel kembali padanya seperti perangko.


Lekat sekali ...!


"Mau lagi?" tanyanya seraya menahan dada bidangku agar mengikis jarak di antara kami.


"Bolehkah?" Bukannya menjawab pertanyaannya, aku malah balik meminta izin. Kali ini, bibir dan hidungku sudah berkeliaran kemana-mana.


Nakal sekali ...!

__ADS_1


Ya, bukankah wanita inginnya dimengerti? Tumben sekali aku tidak lupa diri? Biasanya tidak se-detail ini. Namun, jika ia menolaknya, aku juga tidak akan memaksakan diri.


Vida ... kini mulai layu dan terperangkap di dalam sentuhan birahiku. Aku pun sudah tak lagi membutuhkan konfirmasi lagi darinya. Kurasa bahasa tubuhnya sudah menandakan bahwa ia juga menginginkan hal yang sama.


Adegan ranjang sebagai pembuka sarapan di pagi hari pun, kini tak bisa lagi dihindari. Maklum pengantin baru, maunya gitu-gitu selalu. Kalian tahukan apa maksudku?


Ya, pokoknya yang itu!


Haha!


...💔...


Siang harinya aku mengajak Vida untuk menghabiskan waktu di pantai. Ingatkan, kalau villa ini berdekatan dengan pantai? Ya, ingat dong, pasti. Aku hanya khawatir saja, kalian terserang amnesia, karena aku sudah lama tak berbagi cerita.


Haha!


Baiklah, kembali ke pantai ...!


Vida nampak begitu ceria ketika mobil yang membawa kami, terparkir sempurna di pelataran pantai.


Di tepian pantai sudah dipaping dengan rata. Jadi, sangat mudah bagi para pengunjung untuk bersantai dan berpose ria di sana. Dalam arti kata ... bersama para kamera.


Pantai ini berbentuk setengah lingkaran. Di sisi kiri dan kanannya diapit oleh dua tebing yang saling berhadapan. Sedangkan di pertengahan lautan sana, ada sebuah pulau kecil, yang dinyakini mempunyai nilai mistis tersendiri--menurut kepercayaan masyarakat di sekitar.


Ah, namun aku bukanlah penduduk asli daerah ini. Jadi, tentu saja aku tak ambil pusing akan hal tersebut.


Tanpa aku sadari, dalam sekejap mata, istriku sudah merayap di pinggiran pantai. Aku hanya bisa menggelengkan kepala sembari menontoni polahnya dari jarak sekitar sepuluh meteran.


Beberapa menit kemudian, aku memutuskan untuk membeli minuman di salah satu food court yang tersedia di sepanjang pantai itu. Tentu saja, setelah memberitahu istrimu. Ia tampak masih asik saja bermain air di sana. Menabrak gulungan ombak kecil yang sesekali singgah di kaki mulusnya.

__ADS_1


Saat aku kembali dari food court, tiba-tiba saja kutangkap pemandangan tak mengenakkan terjadi di hadapanku.


DEG DEG DEG


Istriku!


Sedang berbicara serius dengan seorang laki-laki yang amat sangat tidak asing lagi dalam pandanganku. Mereka tampak berdebat. Apa sebenarnya yang sedang terjadi?


Aku ingat, lelaki itu!


Lelaki yang pernah bertanya padaku--tentang posisi toilet--di kolam renang kemarin pagi.


Spontan kulangkahkan kaki, mendekati mereka berdua. Tentu saja, hal itu membuat Vida dan pria itu sontak terlonjak ke arah berlawanan. Seperti sikap dua anak manusia yang sedang tertangkap basah karena melakukan sebuah kesalahan besar.


"Sayang, apa semuanya baik-baik aja? Dan, siapa lelaki ini? Kenapa kalian tampak ribut tadi?" Berondongan pertanyaan dariku membuat Vida tak bisa lagi berucap. Hingga akhirnya pria itu mengambil alih perannya. Mungkin tujuannya untuk memecah kebekuan yang tak kunjung dicairkan oleh Vida.


"Hai, Bro! Kenalin, aku Deyandra. Sahabat lama Vida."


Deyandra?


Keningku berkerut dalam. Mencoba mengingat nama yang baru saja dikatakan olehnya. Namun, seingatku, aku tak pernah mendengar nama itu.


Ah, mungkin teman saat istriku mengecam pendidikan di perguruan tinggi. Tanpa menunggu lama, kusambut uluran tangan pria itu, sembari memperkenalkan diri.


"Aku Ibra. Ibra Maulana, suaminya Vida." Kuulas senyuman ke arahnya sembari melirik sekilas ke arah istriku.


Ia tampak mematung ketika tangan kami berdua berjabat lekat, tepat di hadapannya.


Apakah ada sesuatu yang disembunyikannya?

__ADS_1


__ADS_2