
"Selamat datang, Pak!" seru seorang satpam yang biasa berjaga di muka restoranku. Aku hanya melempar senyuman seraya mengangguk kecil ke arahnya. Ada raut penuh tanya yang terpampang kentara di dahinya yang berkerut dalam. Mungkin merasakan suatu keanehan akan kedatanganku malam-malam ke tempat ini.
Ya, aku tak pernah mengunjungi restoran pada waktu malam. Dan akan menjadi pertanyaan besar bagi karyawan-karyawanku jika aku sampai melakukannya.
CEKLEK
Tanpa memperdulikan tatapan aneh dari mereka semua, aku langsung melengos ke dalam ruangan pribadiku. Menyandarkan gitarku di pojokan dan menghempaskan tubuhku di atas sofa tidur yang memang tersedia di sana.
Hari ini cukup melelahkan bagiku. Lelah fisik dan juga lelah pikiran. Mencoba meringankan ketegangan yang mendera kepala, kutekan kedua pelipisku dengan kedua ibu jari.
Bersamaan dengan hal itu, bisa kudengar suara ketukan pintu beserta suara seseorang yang meminta izin untuk masuk. Aku kenal suara itu. Dia adalah manajer di restoranku. Karena hanya dialah yang sering berkomunikasi denganku ketimbang karyawan yang lainnya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, seseorang di balik pintu itu lantas masuk, setelah mendapatkan izin dariku.
"Apa Anda ingin kami siapkan makan malam, Pak?" tanyanya yang mungkin sudah bisa membaca penampilanku yang terkesan berantakan. Pasti dia berpikir bahwa aku sedang ada masalah dengan pasangan sehingga memutuskan untuk pulang ke restoran. Ah, biarlah. Aku sudah tidak peduli saat ini.
"Boleh," sahutku singkat. Ia langsung pamit keluar setelah mendapatkan jawaban itu.
Kalian penasaran kenapa aku lebih memilih untuk pulang ke tempat ini?
Sungguh, aku tak seberani itu. Aku hanyalah sosok yang mampu menelan kepahitan seorang diri. Aku hanya sosok yang bisa bergelut dengan pikiranku, bahkan sampai hatiku mengering dan menciut dengan sendiri. Dan aku ... hanyalah sosok yang tak berdaya ketika sudah melihat linangan air mata di kedua pipi sang pujaan hati.
Huuffft ... kalian boleh menghujatku. Kalian boleh mengejekku sepuas hati. Namun, aku tak bisa membohongi diri sendiri bahwa aku sangat takut kehilangannya. Berpisah dengan Vida bukanlah salah satu daftar yang tertulis di dalam buku mimpiku. Karena mimpi terbesarku adalah menua bersamanya hingga maut memisahkan kami. Tanpa adanya kursi ketiga yang diduduki oleh orang lain di dalam rumah tangga ini.
__ADS_1
Namun, apalah daya. Rencana tinggallah rencana. Tuhanlah Yang Maha Penentunya. Aku bahkan tak bisa menepis takdir pahit ini. Yang dimana memang benar adanya sosok lain di antara aku dan sang istri.
Sekarang kalian pasti sedang bertanya, apakah benar aku masih ingin mempertahankan hubungan ini?
Sebenarnya aku sudah mempunyai jawabannya, namun tunggulah hingga aku kembali ke rumah nanti.
...💔...
Sayang, kamu dimana? Kenapa teleponku gak kamu angkat? Aku khawatir banget ama kamu.
Begitulah pesan singkat yang dikirim oleh Vida ketika puluhan panggilan suara dan videonya kuabaikan sejak tadi sore. Aku memang sedang tidak ingin berbicara bahkan berkomunikasi secara tulisan dengannya.
__ADS_1
Bukan karena benci, namun aku masih butuh waktu untuk menenangkan diri. Mungkin dengan tidak bertemu dengannya untuk beberapa hari, bisa membuatku lebih baik lagi dan siap kembali melanjutkan beberapa episode baru di dalam hidup ini.