Istriku Budak Nafsu

Istriku Budak Nafsu
Momen Mendebarkan


__ADS_3

Setengah jam kemudian, kendaraan roda empat yang kami tunggangi sudah memasuki kawasan perumahan elit. Yang dimana tidak ada tanda-tanda menyeramkan atau pun mencekam di sekitarnya. Hunian level sultan yang terbangun dan tersusun apik di komplek ini sungguh sukses memanjakan mata siapa pun yang memandang.


"Kamu yakin ini tempatnya?" Aku merasa gamang, jika komplek ini menyimpan rahasia kematian Vida. Apalagi sampai menampung pelaku tak berakhlak itu dengan nyamannya.


Huda hanya mengedikkan kedua bahunya tanda tak memiliki jawaban dari pertanyaanku yang terdengar ragu-ragu. "Sidqia meminta kita menunggu di sini," tuturnya kemudian.


Apa? Maksudnya polisi wanita dengan bakat menyamar tingkat dewi itu sudah berada di dalam salah satu rumah di wilayah ini? Sungguh, tak bisa dipercaya. Aku hanya bisa menggelengkan kepala--keheranan.


"Kenapa kita gak sama-sama aja tadi? Bukannya terlalu berbahaya jika melepas Sidqia bertindak sendirian?" tanyaku ketika Huda menghentikan mobilnya di persimpangan jalan. Sepertinya dia sedang menunggu aba-aba dari adiknya itu.


"Sidqia itu udah biasa dengan hal seperti ini, Ib. Jadi, kamu tidak perlu khawatir. Percayalah, dia pasti akan baik-baik saja," jawab Huda dengan santainya seraya celingak-celinguk ke arah depan.


Aku langsung mengangguk dan mengikuti arah pandangnya. "Nah, itu dia." Jari telunjuk Huda mengarah pada sebuah rumah yang jaraknya sekitar dua puluh meter dari posisi kami saat ini.

__ADS_1


Di halaman rumah tersebut tampak satu orang pria dan satu orang wanita sedang berjalan keluar menuju sebuah mobil yang terparkir di depannya. Sepertinya mereka hendak pergi ke suatu tempat.


"Apa kita akan mengikutinya?" tanyaku ketika melihat Huda menyentuh kontak mobil yang masih terpasang ketat di tempatnya.


"Tidak, kita akan turun dan masuk ke rumah itu."


Aku sontak menoleh ke arah Huda. "Apa Sidqia meminta kita untuk masuk?"


"Tidak!" Ia menggeleng tegas, membuatku semakin bingung. "Yang pergi dengan seorang pria tadi itu Sidqia, Ib."


Aku sedikit terlonjak mendengar penuturan Huda. Bagaimana dia bisa mengenali gadis itu? Sepenglihatanku, gadis yang pergi bersama pria asing tadi bukanlah Sidqia. Penampilannya saja tampak sangat berbeda seratus delapan puluh derajat. Namun, aku tak mau banyak berbunyi. Gerakan tubuhku seakan tersihir oleh perkataan Huda, lalu mengekor saja di belakangnya.


Kali ini kami sudah berada di halaman belakang rumah tersebut. Huda mulai mengangkat sebuah penutup berbentuk keramik besar yang terdapat di bawah tangga belakang. Setelah penutupnya tersibak, kedua netraku sempat membola sesaat. Pasalnya, ini tampak seperti sebuah jalan pintas yang sudah Sidqia siapkan untuk kami.

__ADS_1


"Tetaplah di belakangku!" titah Huda, seraya menapakkan satu per satu langkah kaki, dengan menggenggam sebuah air soft gun miliknya.


Pandanganku terus menghitari ruangan yang tampak seperti gudang ini. Sementara Huda, masih memasang langkah sigap dan menatap lurus ke arah pintu yang terdapat di depan kami.


Ada banyak sekali kardus-kardus besar berwarna cokelat yang tersusun rapi--memenuhi ruangan. Hingga akhirnya, langkah Huda terhenti, ketika merasa ada seseorang yang hendak membuka pintu di hadapan. Ia refleks bergeser mencari perlindungan, aku pun sontak mengekorinya.


Pandangan kami berdua terus


mengamati ke arah pintu, ketika daunnya tersibak, tampaklah seorang pria berwajah oriental memasuki ruangan. Ia tampak mengambil sesuatu yang kami sendiri pun tidak tahu pasti--barang apa yang sedang diambilnya.


Setelah selesai dengan agendanya, pria itu langsung menuju arah luar tanpa menyadari keberadaan kami. Namun, ketika tubuhnya sudah berdiri di mulut pintu, ia kembali memutar badan.


"Kenapa penutup lobang itu bisa terbuka?" tanyanya pada diri sendiri. Ia menatap curiga ke arah penutup jalan yang sudah meloloskan tubuh kami tadi.

__ADS_1


Aku dan Huda sontak bertukar pandang, dan seolah sedang menahan napas masing-masing, karena sedikit merasa terancam.


__ADS_2