Istriku Budak Nafsu

Istriku Budak Nafsu
Berdebar 2


__ADS_3

"Aduuh," keluh Vida sembari memegangi perutnya. Ini sudah pukul sembilan malam. Kami masih berada di kediaman. Dengan alasan 'belum ada tanda yang keluar dari dalam tubuhnya', Vida selalu menolak jika aku mengusulkan untuk membawanya ke rumah sakit.


Pergerakan Vida pun sudah semakin terbatas sekarang. Hanya bisa terbaring di atas kasur sambil meringis menahan rasa nyeri yang semakin sering menghantam perut puncitnya. Aku yang juga berbaring di sampingnya, hanya bisa membantunya dengan memberikan pijatan kecil dan elusan lembut pada pinggang dan perutnya--sesuai dengan apa yang dia minta.


Sebenarnya aku sendiri juga tidak tega melihatnya terlilit oleh rasa sakit yang kali ini membuatnya hampir lupa diri. Sesekali melampiaskan emosi kepadaku, jika salah memberikan pijatan atau sentuhan.


"Jangan di situ, Sayang. Sakit tahu! Di sini aja." Begitulah contoh erangannya ketika aku salah bertindak. Aku hanya bisa memaklumi kondisinya saat ini. Mungkin karena pengaruh rasa sakit yang amat sangat dahsyat, menyebabkan ia menjadi lepas kendali.


"Aduh, Sayang. Sakit lagi," lirihnya seraya mencengkeram pundakku, lalu melingkarkan tangannya ke tubuhku.


Tak tega, sungguh aku tak tega melihatnya kesakitan seperti itu. Jika bisa aku meminta, tukar saja penderitaannya saat ini padaku, namun sayangnya tidak mungkin.


Kubalas rengkuhan istriku dengan mengelus lembut tubuh bagian belakangnya. Jujur, jika ingin mengikuti naluri, ingin rasanya kutumpahkan air mata yang sedari tadi menggenangi kedua bola mataku.


Momen ini seketika menyadarkan aku bahwa tidak mudah menjadi seorang wanita. Walaupun pekerjaannya di rumah terbilang sesuatu yang biasa-biasa saja, namun sebagai seorang calon ibu, perjuangan mereka memang patut diacungi empat jempol bahkan lebih. Dan salutnya adalah ... aku tak melihat aliran air mata sedikit pun di pipi istriku. Jika dia saja bisa sekuat itu, bagaimana aku bisa kalah?


...💔...


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Vida kembali merintih dengan suara asing yang baru saja kudengar. Suara itu terdengar seperti orang yang sedang mengedan.

__ADS_1


Bersamaan dengan hal itu, keluarlah cairan bening yang tampak sedikit kental dari tubuh bagian bawahnya. Seketika aku dan Vida sama-sama terkejut akan hal itu.


"Sayang, air ketuban!" seruku seraya bangkit dari posisi. Memeriksa kembali cairan yang tadinya kusangka darah itu. Vida pun lantas bangkit untuk duduk, lalu menoleh ke arahku.


"Kok kamu tahu kalo itu namanya ketuban?"


TET ... TOT ....


Dalam kondisi genting seperti ini, tak kusangka istriku masih bisa menciptakan scene komedi. Pertanyaannya seolah menganggap aku tidak pernah mengorek informasi apa pun tentang kehamilannya selama ini.


Aku hanya menggeleng gusar tanpa menjawab pertanyaan Vida. Karena episode berdebarku belum berakhir sampai di sini saja. Sepersekian detik kemudian, aku mulai mengkhawatirkan kondisi janin kami yang saat ini masih anteng di dalam perut ibunya, tanpa adanya cairan lagi, pikirku.


"Gak sakit lagi, ya, Sayang?" tanyaku yang saat ini sedang menghampirinya.


"Iya nih, udah lenyap sakitnya." Dia menjawab dengan senyuman mengembang.


"Ya, udah, sekarang kita ke rumah sakit, ya!"


Tanpa melakukan penolakan lagi seperti sebelum-sebelumnya, ia hanya mengangguk patuh. Kami pun langsung menuruni anak tangga setelah meraih sebuah koper besar yang sudah Vida siapkan tadi sore. Katanya, setelah merasa dirinya mengalami tanda-tanda akan melahirkan, dia langsung mengemasi perlengkapan apa saja yang ia dan calon bayi kami butuhkan nanti.

__ADS_1


Mobilku pun melaju sempurna menuju rumah sakit. Selama perjalanan, kugenggam sebelah tangannya dengan perasaan campur aduk, sebagai tanda memberikan dukungan sepenuhnya. Sesekali juga aku bertanya tentang keadaannya, yang hanya ditanggapi dengan senyuman darinya. Dia tampak begitu tenang, berbeda denganku yang masih saja tampak gusar.


...💔...


Roda empat kendaraanku sudah memasuki lahan parkiran rumah sakit. Aku menawarkan Vida untuk menggendongnya, namun dia menolak dengan alasan--masih mampu untuk berjalan. Akhirnya, aku menurut dan mengeluarkan koper dari dalam mobil.


Sesampainya di ruangan dokter, Vida langsung diperiksa, karena sebelumnya kami sudah menghubungi mereka. Jadi, segala sesuatunya sudah disiapkan sebelum kami tiba di ruangan ini.


"Saya periksa dalam dulu, ya, Bu."


Walaupun tidak memahami perkataan dokter berjenis kelamin wanita itu, aku masih diam saja tanpa mengajukan pertanyaan apa pun.


Vida sudah berbaring di sebuah brankar berwarna hijau. Kemudian dokter itu memintanya untuk melipat kedua lututnya ke atas, dan mengarahkan kedua jari telunjuk dan tengahnya ke daerah kewanitaan Vida. Tentu saja, itu membuatku meringis sendiri, mengamati tindakan yang sedang diterima oleh sang istri. Namun, anehnya Vida tak merasakan sakit atau sejenisnya. Pemeriksaan berjalan dengan mulus.


"Sudah pembukaan lima, jangan mengedan dulu, ya, Bu. Usahakan tarik dan keluarkan napas saja jika kontraksinya kembali lagi," saran dokter itu, kemudian berlalu.


Aku mendekati istriku, dan memperhatikan wajahnya lekat-lekat. Ia masih tampak tenang, tidak ada tanda-tanda merasa sakit atau sejenisnya. "Aku keluar sebentar, ya. Mau menghubungi mama dan papa," ucapku padanya.


Namun, saat aku akan beranjak, telapak tangannya menahan pergerakanku, seraya menggeleng tegas. "Biarkan saja, biarkan mereka ke sini jika bayi ini sudah lahir. Mereka tidak perlu ikut merasakan khawatir," tuturnya dengan penuh keseriusan.

__ADS_1


Aku yang tak ingin membantah lagi, lantas menarik sebuah kursi dan duduk di samping brankarnya. Menghadiahkan sebuah sentuhan pada pucuk kepalanya. Mendengar penuturannya tadi, membuat hatiku menghangat dan disirami rasa bangga yang memuncak.


__ADS_2