Istriku Budak Nafsu

Istriku Budak Nafsu
Harus Pergi


__ADS_3

Untuk pertama kali dalam sejarah kehidupan, aku merasa semuanya seakan lengkap sudah. Dikaruniani kehadiran sosok penerus yang pastinya memuncakkan rasa bangga yang menjarah. Terlepas dengan ribuan bentuk drama dan percekcokan mulut di antara aku dan Vida selama kehamilannya, namun kehadiran sang Junior seolah menghapus segala jejak tidak mengenakkan tersebut. Menggantinya dengan siraman air kebahagiaan melalui tangisan gemas dari mulut mungilnya.


"Dia mirip sekali denganmu, Sayang." Aku mengusapkan telunjukku di pipi lembut si Jagoan, ketika ia sudah dibaringkan di samping ibunya. Mendapatkan asupan pertama yang akan membuatnya menjadi manusia paling berguna.


Amin!


"Maksudnya, dia bukan putramu?" tanya Vida. Keningnya sontak berkerut dalam, mendengar celetukan dariku tadi, yang mungkin menurutnya mengusik indera pendengaran.


Ternyata mode sensitifnya belum hilang, batinku kemudian.


"Ya, gak gitulah, Sayang." Usapanku gegas berpindah tempat--pada pucuk kepala Vida. Membuatnya kembali tersenyum gembira.


CEKLEK


Tiba-tiba pintu tersibak, menampilkan wajah haru dari kedua orang tua kami. Mereka datang bersamaan pagi-pagi sekali, setelah aku mengabari mereka tentang berita gembira ini. Seketika seisi ruangan terdengar heboh, setelah kedatangan dua ibu pertiwi. Aku langsung menepi, memberi kesempatan pada keduanya untuk mendekati sang istri.

__ADS_1


"Siapa namanya?" tanya mama mertuaku.


"Ibram Putra Maulana, Ma." Vida menjawab dengan mantapnya.


Aku hanya tersenyum ketika mengingat kembali--bagaimana ceritanya sampai bisa tercetus nama tersebut. Sempat terjadi perdebatan yang cukup alot di antara kami berdua, namun akhirnya aku yang mengalah. Karena prinsipnya tetap sama, wanita selalu benar.


Banyak lagi pertanyaan-pertanyaan lain yang diajukan oleh dua wanita paruh baya itu. Semakin lama semakin terdengar lucu.


Sepertinya kami harus memberikan mereka sedikit privasi. Karena jika ditunggui, hanya akan memekakkan indera pendengaran ini. Jadi, kami ... para ayah memutuskan untuk keluar ruangan. Ya, sekedar untuk berbincang dan berbagi pengalaman diri.


Waktu bergulir begitu cepat. Walaupun jam dinding berdetak sebagaimana mestinya, namun tetap saja, putarannya terasa seakan begitu singkat. Begitu pun dengan hari dan bulan.


Kini Ibram sudah menginjak usia tiga bulan. Badannya tampak semakin gembul dan menggemaskan. Awalnya, aku menyarankan agar Vida memperkerjakan seorang asisten untuk membantunya. Namun, dia menolaknya dengan alasan ingin merawat bayinya seorang diri.


Aku bisa memahami masalah yang satu ini. Vida adalah tipe yang tidak terlalu percaya dengan hasil kerja orang lain. Maka dari itu, sejak awal pernikahan, kami memang tidak memakai jasa asisten rumah tangga. Apa-apa dilakukan berdua. Tak terkecuali ... sekarang.

__ADS_1


Apalagi ... masalah Ibram. Vida benar-benar selektif dan telaten dalam merawatnya. Tidak ingin ada kesalahan sedikit pun yang terjadi, selama proses pengasuhannya dalam masa emas ini.


"Kamu jadi berangkat sore ini?" tanya Vida ketika aku baru saja keluar dari kamar mandi. Sementara Ibram tampak sudah terlelap di dalam keranjang bayi.


"Jadi dong, Sayang. Konsernya dilaksanakan pagi hari. Jadi, kami gak mau telat. Makanya ambil penerbangan sore ini," jawabku seraya berjalan menuju lemari.


Tanpa aku sadari, dua buah tangan sudah melingkari pinggang dan menempelkan wajahnya di punggungku. "Apa gak bisa, kalo kamu gak pergi?" tanyanya yang sukses membuatku berkerut dahi. Ada apa dengannya kali ini? Tidak biasanya dia seperti ini. Apakah hormon ibu menyusui bisa mempengaruhi emosi diri?


Sudah pasti ...!


"Hei ...!" Aku membalikkan badan. Menatap lekat dua manik mata abu-abu yang kini sedang memandangku sendu. "Cuma dua hari, setelah itu aku langsung pulang." Merangkum wajahnya ke dalam genggamanku.


Vida memang termasuk sosok yang begitu peka. Hatinya tak sekuat baja, namun selalu berhasil menyayat jiwa, jika menatap manik matanya yang berkaca-kaca. "Kalo kamu mau ikut, kita bisa bawa Ibram," tawarku yang langsung ditanggapi gelengan tegas olehnya.


"Sebaiknya kami di rumah aja, kasian dia," jawabnya sambil tersenyum penuh kekhawatiran, yang tertuju pada Ibram.

__ADS_1


Wajah itu ... aku tahu, dia sangat ingin terus bersamaku, namun kondisinya tidak memungkinkan. Setiap pekerjaan, pasti ada resiko yang harus diterima, tak terkecuali dengan apa yang sedang aku lakukan. Walaupun hati tak menginginkan perpisahan, namun tetap saja raga harus diterbangkan.


__ADS_2