
Aku masih memejamkan mata dalam. Menahan perih yang sekali lagi menyayat perasaan. Melihat kondisi jasad Vida yang bernasib malang, membuat hatiku kembali teriris dengan jutaan belati tajam.
"Kami masih menyelidiki kasus ini, Pak. Jika dilihat dari kondisi jasadnya, sepertinya ibu Vida mengalami perkosaan dan penyiksaan sebelum dibunuh. Untuk lebih akuratnya, proses autopsi akan segera dilaksanakan."
Penjelasan yang diucapkan oleh salah satu anggota kepolisian itu, semakin mengoyak relung jiwaku. Beliau masih terus melanjutkan penjelasannya, namun fokusku tak lagi bisa bertahan setelah ia mengatakan bahwa ini adalah kasus pembunuhan. Kututupi kembali wajah pucat nan kaku yang pernah menjadi orang pertama, yang sudah sukses menghangatkan sekaligus menoreh luka di hatiku itu.
"Kami akan mengusut kasus ini secepatnya," imbuh pria dengan seragam gagah khas abdi negara itu sebagai bagian penutup dari semua dongeng menyedihkannya. Aku hanya mengangguk tipis, tanpa bisa berucap sepatah kata pun untuk menanggapinya.
Jika dalam kondisi normal saja aku memang tak banyak bicara, apalagi dalam kondisi terpukul seperti ini? Terlalu mendadak rasanya. Takdir kepergian Vida benar-benar menyentak kasar seluruh hati orang-orang yang menyayanginya.
Termasuk ... aku. Tak bisa dipungkiri, walaupun ia sudah menyakitiku dengan sebuah pengkhianatan, namun aku juga tak tega jika hidupnya harus berakhir seperti ini. Namun, apalah daya. Semuanya sudah terjadi sesuai kehendak Yang Maha Kuasa. Maka kami, hanya bisa bersabar menunggu kabar selanjutnya dari pihak yang berwajib.
...💔...
__ADS_1
Langkahku tertarik untuk menghampiri keluarga Vida yang kali ini sudah bergeser ke luar ruangan. Mereka sudah tampak lebih tenang dari sebelumnya. Walaupun, masih terdengar sedikit isakan dari mulut mama. Papa mertuaku itu hanya bisa memeluk sang ratu dari samping. Sementara kak Catur, tatapannya tampak kosong mengarah ke depan.
Aku menghela napas panjang, kemudian langsung mengambil posisi duduk di samping kakak ipar yang sudah lama menjadi rekan satu profesiku itu.
"Kamu tidak perlu menceraikannya lagi, Ibra. Dia sudah pergi meninggalkan kita untuk selama-lamanya," gumam mama mertuaku dengan nada sedih. Ia kembali terisak pilu, ketika kembali mengingat nasib sang putri malangnya itu.
Aku hanya menunduk tanpa bisa memberikan tanggapan. Kuanggap itu hanya ungkapan terpendam yang tak pernah bisa ia sampaikan sebelumnya.
"Papa mohon, maafkan segala kesalahan Vida," timpal papa mertuaku sepersekian detik kemudian. "Papa rasa ini adalah balasan Tuhan, karena dia sudah mengkhianati kamu, Nak."
Sebenarnya aku tak sedikit pun menaruh dendam. Aku hanya kecewa. Tapi, apakah benar ini yang dinamakan dengan azab? Seluruh rambut halus di sekujur tubuhku seketika meremang. Dua kalimat yang terucap dari sepasang bibir papa benar-benar sukses membuatku terngiang kembali dengan dialog yang pernah kulontarkan pada Vida.
Aku tidak perlu repot-repot menghukummu. Karena kehidupanmu saat ini sudah cukup untuk menjadi sebuah hukuman.
__ADS_1
Apa benar waktu itu aku sudah mengutuknya? Padahal aku tak berniat demikian.
...💔...
Langit mulai temaram dengan tetesan rintik hujan di ujung senja. Membawa semua pelayat merangsek pergi meninggalkan wilayah pemakaman. Namun, tidak denganku.
Aku masih duduk--berjongkok--di depan pusara yang di dalamnya terdapat jasad seseorang yang namanya masih membekas di relung kalbu. Merasakan himpitan takdir pahit yang semakin menekuk perasaanku yang kini sedang berada dalam mode haru biru. Dengan tatapan yang masih tak teralihkan dari batu nisan yang mengukirkan namanya, aku berucap di dalam batinku.
Kamu mungkin memang bersalah, namun aku juga tidak sepenuhnya benar.
Maafkan aku karena tak bisa menolongmu di saat-saat terakhir.
Kuharap Tuhan bisa mengampuni semua kesalahanmu. Terlepas dirimu pernah menoreh luka, namun cinta itu masih tetap ada. Hanya saja, aku takut untuk mengakuinya.
__ADS_1
Tenang dan damailah di sana, Vida. Aku sudah merelakan segalanya. Melepas semua sesak yang pernah menghimpit rongga dada.