Istriku Budak Nafsu

Istriku Budak Nafsu
Berdebar


__ADS_3

Setelah melewati beribu drama dan berjuta kemurkaan, kini tiba saatnya aku menghadapi mode ketegangan dahsyat yang berhasil menghujam telak ulu hatiku. Melemahkan kekuatanku dan merenggut seluruh keberanianku.


Persalinan!


Ya, lahirnya seorang penerus dalam sebuah keluarga, merupakan momen yang begitu mengharukan sekaligus menegangkan. Bagaimana tidak?


Aku yang tadinya masih dalam mode latihan bersama teman-teman, dikejutkan oleh sebuah panggilan yang membawa kabar bahwa istriku akan segera melahirkan.


Sontak aku pamit pada semuanya, lalu melesat menuju mobil, kemudian tancap gas menuju arah pulang. Di dalam perjalanan, pikiranku sudah berkelana kemana-mana. Khawatir bercampur gerogi. Maklum, hal ini adalah untuk yang pertama kalinya bagiku. Menyambut kehadiran sang buah hati. Ternyata rasanya sukses membuat jantung menjadi dag dig dug ser. Tak pernah kualami perasaan aneh ini sebelumnya.


Sumpah!


Perjalanan yang seharusnya kutempuh selama tiga puluh menit, bisa kupangkas separuhnya karena merasa terlalu gundah. Berlari melewati pekarangan rumah, lalu melesat melewati pintu dengan gerakan cepat tingkat dewa.


"Sayang, kamu beneran mau lahiran?"

__ADS_1


Aku kembali lagi dengan mode tololku--bertanya. Seolah merasa bahwa Vida sedang mempermainkanku saat ini. Melihatnya yang masih berjalan ke sana kemari, sembari menyusun beberapa piring yang sudah dicuci bersih--ke dalam lemari.


Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Aku bahkan melupakan bahwa sepanjang hari ini Vida tidak mau berbicara padaku. Entah, apa yang membuatnya merasa kesal, aku pun tidak tahu. Mungkin aku sudah melakukan sesuatu yang menurutnya salah, namun aku masih tak menyadarinya.


"Iya, pinggangku sakit banget, dan kontraksinya sudah semakin sering." Dia masih fokus dengan gawainya, tanpa menatap balik ke arahku. "Setiap lima menit, datang lagi," sambungnya dengan sebelah tangan memegangi pinggang belakang.


DUAAAR


Bagai disambar petir saat itu juga, tubuhku menegang, kedua lututku seketika melemah, seakan tak mampu lagi menahan berat badan ini. Namun, aku harus tetap terlihat tegar, walaupun faktanya aku sudah diselimuti oleh mode gerogi dan ketakutan level tinggi.


"Lalu, kenapa kamu malah sibuk begitu, coba berbaring, Sayang." Bergerak mendekatinya. Aku agak risih melihatnya yang tak juga berdiam diri sejak aku tiba di rumah ini. Ia terus berjalan ke sana kemari seperti seterikaan setelah menyelesaikan gawai pertamanya tadi.


Pembukaan?


Makhluk apa itu?

__ADS_1


Namun, tanpa mempedulikan pertanyaan yang sedang mengusik benakku, aku terus saja bersikap kalem seperti orang yang sudah tahu tentang hal itu.


"Emangnya gak sakit?" tanyaku lagi, yang sukses membuatnya tersenyum enteng.


"Ya, sakitlah, tapi rasa sakitnya hilang datang, kok. Gak terus-menerus." Ia langsung duduk di salah satu kursi yang mengitari meja makan. Membuatku juga menjatuhkan diri di sana.


Aku masih memperhatikan gerak-geriknya, yang saat ini tampak mengisi piring kosong dengan makanan yang sudah tersedia di atas meja.


"Kamu harus makan yang banyak, biar kuat mendampingi aku nanti," tuturnya seolah memberikan sebuah ultimatum bahwa aku harus terlibat langsung. "Dokter bilang, anak pertama itu pembukaannya agak lama, jadi aku rasa kita tidak usah dulu ke rumah sakit." Sekilas dia membubuhkan sebuah kecupan di pipi kiriku. Aku tahu, ia hanya berusaha untuk menenangkanku yang sama sekali tidak mahir menyembunyikan ekspresi wajah khawatirku.


Memang benar, Vida pernah memintaku untuk menemaninya saat proses persalinan. Walaupun hal itu sempat membuatku bergidik ngeri, namun harus kulakukan. Sebagai seorang suami, aku harus menjadi penguat di saat dia berada dalam titik lemah. Apalagi, di saat ia memperjuangkan kelahiran buah cinta kami sebagai pasangan.


"Kamu juga, harus makan yang banyak!"


Kalimatku hanya ditanggapi oleh sebuah senyuman dari sepasang bibirnya. "Aku udah makan, sebelum kamu sampai tadi." Ia bangkit dari duduknya dan kembali melakukan pergerakan seperti tadi.

__ADS_1


Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi saat ini. Kenapa makanan ini terasa hambar di lidahku? Seolah kenikmatan itu tak bisa kucecap sempurna. Apakah rasa gerogi bisa menyebabkan seseorang menjadi mati rasa?


Tolong katakan sesuatu, Pembaca!


__ADS_2