Istriku Budak Nafsu

Istriku Budak Nafsu
Pria Asing


__ADS_3

Kami sudah tiba di rumah satu jam yang lalu. Namun, masih tak ada percakapan di antara aku dan istriku. Vida yang sudah menyadari adanya hal yang tidak beres, tak ingin membuka suara lagi setelah satu bentakan aku lontarkan dari bibir ketika kami baru menginjakkan kaki di rumah ini.


Sungguh, baru kali ini aku membentaknya. Itu pun karena ia terus memberondongiku dengan berbagai pertanyaan yang semakin membuat dadaku terasa panas. Seharusnya dia mengerti dengan kondisiku, jika aku sedang emosi, maka aku hanya ingin menyendiri tanpa berkomunikasi. Tetapi, dia malah melakukan hal sebaliknya. Bukannya membuatku meredam emosi, dia malah menyulut api amarahku sehingga menjadi lebih tinggi.


"Aku minta maaf," tutur Vida di sela isakannya ketika ia kembali menghampiriku di balkon kamar kami.


Aku masih mendongak--menatap birunya langit yang seakan terlihat kelabu dalam pandanganku. Kedua telapak tangan menelusup ke dalam saku celana yang sedari tadi membuatku nyaman dalam posisi ini. Aku merasa dengan menyendiri aku bisa lebih jernih untuk berpikir.


"Sayang ...!"


"Berhenti menyematkan panggilan itu padaku jika kamu juga menyematkannya kepada pria lain, Vida!" tegasku dengan suara meninggi seraya membalikkan badan untuk menatapnya.


Vida tampak terkejut dengan pekikanku yang terkesan tiba-tiba. Mungkin ia tidak menyangka bahwa aku akan mengatakan hal tersebut. Semoga saja, dengan begini dia mau membuka diri.


"Aku ... aku ...," lirihnya dengan suara terbata. Antara takut dan juga gelagapan. Mungkin sedikit bingung--bagaimana aku bisa mengetahui hal tersebut?

__ADS_1


Tanpa menunggu Vida melanjutkan dialog selanjutnya, aku langsung menambah langkah untuk mendekatinya. "Ya, aku sudah tahu semuanya. Sekarang giliranmu untuk mengakuinya atau tidak." Aku terus menatap Vida dengan pandangan menginterogasi. Dia mulai salah tingkah sembari meneteskan air mata.


"Maaf."


Hanya kata itu yang keluar dari mulutnya seraya menarik pandangannya membentuk tunduk. Aku yang belum puas dengan respon tak meyakinkan itu, lantas memepet tubuhnya hingga ia tersandar di tembok. Pandangannya sontak mendongak seketika, menatap kedua netraku yang sudah berlambangkan kobaran api cemburu.


"Apa salahku padamu, Vida? Hingga kamu tega mengkhianatiku?!" tanyaku dengan suara berat. Aku tidak ingin menangis, walaupun sebenarnya hatiku terasa begitu teriris. Mengingat percakapannya dengan pria asing beberapa menit lalu, membuat mimpi buruk itu kembali melunturkan pertahananku.


Pertahanan yang selama ini aku bangun berdasarkan dinding kepercayaan. Kepercayaan atas pasangan yang begitu aku puja dalam setiap tarikan yang melalui saluran pernapasan. Tak kusangka kecurigaan yang hanya aku sematkan di dalam bunga tidur ternyata berubah menjadi sebuah kenyataan. Kenyataan pahit yang sukses menekan perasaan.


"Aku akan menjawabnya," tutur seseorang yang tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar. Perawakannya seperti seorang pebisnis sukses dalam sampul fisik yang tergolong rupawan.


Dan ... bagaimana dia bisa masuk ke rumah ini?


Atau jangan-jangan dia ...?

__ADS_1


Tatapanku dan Vida serentak menoleh ke arah sumber suara. Bisa kulihat kedua mata Vida membola sempurna ketika melihat pria di hadapannya.


"Ba-Baron," lirihnya seraya menutup mulut dengan kedua telapak tangannya. Pandanganku refleks beralih kepada Vida yang terlihat terkejut sekaligus gemetar ketakutan.


"Siapa kau?" tanyaku pada pria asing di hadapanku yang kala ini sudah kusadari bahwa dia adalah rivalku.


"Aku? Hem ... aku adalah orang yang bisa membantumu menemukan jawaban dari pertanyaanmu tadi," tuturnya dengan santai sembari berkacak pinggang.


Songong sekali dia!


Berani-beraninya bersikap seolah dirinya yang berkuasa, sedangkan dia sendiri adalah orang asing di rumah ini. Sementara Vida masih tak berani berkutik. Dia tetap mematung layaknya sebuah manekin yang terpajang di dalam butik.


"Kau!" Langkahku bertambah ke depan, hingga sejajar dengan pria itu seraya menghujamkan tatapan elang.


"Tidak baik menyelesaikan masalah dengan emosi, Ibra." Ia tampak menyeringai tanpa merasa berdosa.

__ADS_1


Apa? Dia tahu namaku? Bagaimana ceritanya?


Kulirik sekilas ke arah Vida seolah sedang bertanya, namun ia malah menunduk lemas seolah tak berdaya.


__ADS_2