Istriku Budak Nafsu

Istriku Budak Nafsu
Kilas Balik


__ADS_3

...FLASHBACK ON...


Satu minggu sebelumnya


"Sayang ...! Sayang aku mohon ... aku mohon maafkan aku! Tolong izinkan aku untuk bertemu dengan Ibram, kumohon ...!"


Vida meringkuk di bawahku. Memeluk lututku ketat dengan wajah memelas. Sejak tiba di rumah ini, ia tak berani sedikit pun untuk mendongakkan pandangan. Mungkin merasa malu. Namun, jika dia mempunyai rasa malu, ia tidak mungkin berani menemuiku. Ya, pagi harinya ia menyusulku ke rumah mama. Namun, aku tak mengizinkannya untuk masuk, apalagi bertemu dengan putraku.


Aku menghela napas panjang, pandanganku menengadah ke atas, sementara kedua tanganku sudah berkacak pinggang, seolah sedang melepas ribuan kerikil yang menyumbat saluran pernapasan. Sejujurnya aku tak tega bersikap sekejam ini. Namun, mengingat kesalahan fatalnya tadi malam, membuat hatiku kembali berduri-duri.


Nyeri sekali ...!


"Sayang ... kumohon beri aku kesempatan untuk memperbaiki situasi ini," ucapnya lagi di sela-sela isakan. Bisa kurasakan tubuhnya berguncang hebat menandakan sebuah penyesalan. Namun, maaf, sepertinya sudah terlambat.

__ADS_1


"Berhenti memanggilku dengan panggilan dusta itu!" sergahku ketika ia kembali menyematkan panggilan sakral yang saat ini malah membuatku muak jika mendengarnya.


Kutarik kaki jangkungku dari dekapannya, lalu berbalik badan agar tak bisa melihat lagi pemandangan menyedihkan yang kini sedang ia pertontonkan. Namun, ia tak menyerah begitu saja. Vida kembali beringsut dan berharap aku mau bermurah hati untuk yang kesekian kalinya.


"Aku berjanji ... aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Percayalah padaku. Jika perlu kamu boleh menghukumku," lirihnya dengan nada sedikit tertahan. Kali ini tanpa embel-embel panggilan 'SAYANG'.


Kuraup wajah dengan kasar, lalu kembali menarik kakiku dan menjauh darinya. "Aku tetap pada keputusanku. Dan sepertinya aku tidak perlu repot-repot menghukummu. Karena kehidupanmu saat ini sudah cukup untuk menjadi sebuah hukuman," ujarku mantap jiwa dengan nada sedikit dingin.


Ini adalah kali pertamanya bagiku bersikap tidak peduli, seolah diri ini tak memiliki sebongkah organ tulus yang berbentuk hati. Namun, aku harus tetap mawas diri. Karena tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti, Vida bisa mengulanginya lagi.


...💔...


"Nak ...!"

__ADS_1


Tubuh mama menyembul dari sela pintu kamar. Ia bergerak menghampiri ketika aku sedang membelai lembut kepala Ibram yang kini sudah tertidur lelap di pembaringan. Aku sengaja memutuskan untuk tidur sekamar dengan putraku, tanpa harus merepotkan mama untuk mengurusnya.


"Kenapa kamu tidak mempertimbangkan dulu tentang permintaan Vida?" tanya mama yang kini sudah duduk di bibir tempat tidur.


Gerakan tanganku terhenti seketika mendengar pertanyaannya. "Mama udah denger semuanya?" Bukannya menjawab, aku malah balik bertanya.


Mama mengangguk tanda mengiyakan. Aku menegakkan posisi dan menumpu berat badanku pada kedua tangan yang terjulur ke belakang. "Pengkhianatan itu tak termaafkan, Ma. Karena kesetiaan juga bukanlah persembahan yang murahan." Hanya kalimat itu yang bisa keluar dari mulutku.


Mama terdengar menghela napas berat. Sepertinya sedang menyusun kalimat yang tepat untuk meneruskan nasihat.


"Mama sangat mengerti perasaan kamu, Ib. Tapi, tolong pikirkan lagi masa depan anakmu. Ia masih terlalu kecil untuk dipisahkan dari ibunya. Ia butuh kasih sayang seorang ibu," tutur mama dengan hati-hati.


Aku bisa memahami, mama tidak ingin cucunya tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu. Namun ... ah, sangat sulit rasanya untuk menerima Vida kembali masuk ke dalam hidupku.

__ADS_1


"Aku bisa membesarkan Ibram sendirian, Ma. Mama tenang aja. Ibram pasti bisa melewati semuanya. Dia anak hebat," tuturku lembut seraya kembali mendaratkan belaian di kepala mungil anakku.


Memang terdengar egois. Namun, untuk saat ini, begitulah suara hatiku. Akan kubuktikan pada Vida bahwa aku juga bisa membesarkan Ibram tanpa harus melibatkan dia di dalamnya.


__ADS_2