
Aku baru saja tiba di bandara. Dua hari berada di kota orang, terasa begitu lama ketika hati sudah terpaut dengan dua sosok terkasih yang sedang menungguku di rumah.
Seperti biasa, aku selalu memarkirkan mobilku di sini, agar kepulanganku menjadi lebih mudah. Setelah melewati sesi foto dan wawancara pendek dari berbagai awak media, aku memutuskan untuk berpisah arah dari teman-temanku.
Melajukan mobil dan membelah padatnya jalanan kota di sore hari. Ini adalah hari minggu, wajar saja jika banyak sekali kendaraan yang berseliweran di jalanan. Pastinya mereka sedang mengakhiri weekend, atau ada beberapa dari mereka juga masih sibuk mengais pundi-pundi rupiah sebagai pekerja keras tak kenal letih.
Sebelum tiba di rumah, aku menyempatkan diri untuk mampir ke sebuah toko kue yang cukup ternama di kota ini. Karena terlalu terburu-buru untuk kembali, aku sampai lupa untuk sekedar membeli buah tangan untuk sang istri.
Tanpa berlama-lama lagi, aku langsung masuk ke dalam, dan mengamati satu persatu kue dengan berbagai rasa dan bentuk yang dipajang dalam etalase. Teknik pencahayaan dan pemasangan cermin di balik diri si kue, menambah kesan estetika dan nilai jual yang sangat tinggi. Teknik ini membuat pembeli merasa tergiur untuk segera mencicipi dan meraup semua menu yang sudah mereka sajikan di balik kaca transparan tersebut.
Aku meraih satu kotak yang sudah tersedia di atas meja, dan satu buah jepitan khusus. Dari sekian banyak jenis kue, hanya ada satu yang menarik perhatianku dan sukses membuatku menelan saliva berkali-kali.
__ADS_1
Satu cetak red velvet, dengan parutan keju yang begitu kaya, dan juga merupakan kue kesukaan Vida. Dengan gerakan yakin, tanganku hampir saja menggeser etalase yang menutupi wajah kue itu dari segala jenis polusi. Namun, gerakanku terurungkan karena pandanganku menatap sebuah tangan lain yang juga bergerak ke satu titik yang sama. Bahkan tangan kami sempat bertabrakan.
Aku menegakkan badan yang tadinya sedikit menunduk, lalu menatap seseorang yang kini sedang berdiri tepat di samping kananku. Dia tampak tersenyum ramah, sekaligus meminta maaf karena hal kecil tersebut.
"Silakan, sebaiknya Anda duluan," ujarku seraya memajukan tangan. Dia langsung menanggapinya dengan senyuman, lalu melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda.
"Terima kasih, Tuan. Saya duluan." Dia langsung menuju meja kasir setelah mengambil beberapa potong kue yang sama dengan yang aku inginkan.
Aku lantas mengangguk, dan melanjutkan penyusunan kue ke dalam kotak yang sudah kugenggam. Walaupun tidak bisa mendapatkan satu cetak penuh, namun lima potong red velvet ini sudah cukup untuk menarik kedua sudut bibir istriku hingga melengkung ke atas.
"Tidak apa, Tuan. Saya yang salah, karena terlalu terburu-buru. Soalnya, kekasih saya sangat menginginkan kue ini secepatnya," tutur pria berwajah oriental itu dengan ekspresi penuh penyesalan.
__ADS_1
"Baiklah, hati-hati, Mas. Jangan sampai kuenya jatuh, karena sudah habis saya bungkus." Kuberikan satu tepukan pemakluman di pundaknya. Hal itu, membuatnya tersenyum dan berjalan meninggalkan toko.
Aku hanya menggeleng pelan, memerhatikan mimik bahagia dari pria itu. Tampaknya kue itu sangat berharga hingga membuatnya sebegitu girangnya.
Setelah itu, aku melanjutkan langkah, lalu menyelesaikan pembayaran. Kemudian, langsung melajukan kendaraan untuk meneruskan perjalanan pulang.
...💔...
"Papa pulang ...!" seruku dari balik daun pintu yang baru saja kusibak. Mengedar pandang, mencari dua sosok insan yang begitu aku rindukan. Namun, tak kudapatkan gelagat apa pun di sana.
Dengan masih menggenggam erat satu buah paper bag, berisi satu kotak kue yang tadi sudah kubeli, langkahku sedikit demi sedikit bertambah. Hingga akhirnya, berhenti di depan meja makan yang di atasnya juga terdapat sebuah kotak makanan dengan kondisi terbuka sebagian. Dari balik tutupnya, bisa kulihat wujud kue yang sama dengan yang sedang aku tenteng saat ini.
__ADS_1
DEG
Hatiku sedikit berpasir, ketika baru menyadari bahwa kotak kue yang bertengger di atas sana tampak begitu persis dengan yang aku bawa. Label, warna dan juga design-nya sangat mirip. Tidak ada bedanya sama sekali, seperti dua anak manusia yang kembar identik. Sudah pasti, kotak ini berasal dari tempat yang sama. Yaitu ... toko kue yang sudah aku kunjungi tadi.