Istriku Budak Nafsu

Istriku Budak Nafsu
Momen Mendebarkan 4


__ADS_3

Sebenarnya aku tidak menyangka bahwa kasusnya akan serumit dan seekstrim ini. Awalnya aku mengira hanya kasus pembunuhan biasa, yang bermotifkan dendam pribadi. Namun, ternyata apa yang dikatakan Huda waktu itu benar sekali. Kasus ini melibatkan penjahat internasional, otomatis bukanlah kasus sepele. Tetapi, kenapa targetnya orang-orang yang aku kenal selama ini?


Terutama Vida ... apa yang membuat pembunuh itu menghabisi nyawanya? Terlebih Vazo, sejauh ini pria itu hanya berperan di belakang layar. Tentu saja, juga berkaitan erat dengan Vida. Kenapa aku merasa ini semua seperti formasi berantai yang memakan korban dengan hubungan keintiman yang lumayan dekat.


Satu lagi ... ada dua nyawa yang harus kami selamatkan di dalam sana. Siapakah mereka? Apakah juga ada kaitannya dengan Vida?


...💔...


Aku sontak mengerjap ketika tangan Huda berayun di depan wajahku. Seperti orang yang sedang berkelana dalam dimensi lain, pikiranku sejenak berpindah tempat. Mungkin ia sudah bisa menebak kemana arah perkelanaan benakku beberapa saat tadi.


"Kamu mikirin apa?" tanyanya seraya bangkit.


"Vazo ...! Sebenarnya dia adalah ...." Ada rasa ingin menceritakan fakta yang tak banyak diketahui oleh orang lain, namun lekas kuurungkan ketika menyadari bahwa hal itu tidak lagi penting untuk saat ini.


"Ya?" Huda sepertinya masih menunggu kelanjutan dari pernyataanku.


Aku buru-buru memutar otak agar bisa menemukan topik lain sebagai pengalihan. "Vazo itu ... sebenarnya temennya Vida. Iya ... temennya Vida."

__ADS_1


"Yakin kalau itu yang ingin kamu katakan tadi?" tanya Huda lagi dengan kening berkerut. Aku hanya menanggapinya dengan anggukan berkali-kali. Beruntungnya adalah dia juga tidak memperpanjang interogasinya.


Saat ini, kami sudah berada di depan pintu. Perlahan tapi pasti menambah langkah untuk mendekati kamar yang diinformasikan oleh Sidqia tadi. Sampai setengah perjalanan, semuanya tampak aman-aman saja, tidak ada pergerakan apa pun dari pihak lawan. Hingga kami tiba di ruangan yang dimaksud dengan tanpa harus menghabiskan banyak tenaga untuk melawan cecunguk-cecunguk yang sedang berjaga--mungkin.


Sesampainya di sana, aku langsung meletakkan tangan--hendak memutar knop pintu. Namun, gagal karena pintu tersebut dikunci. Lalu, aku merotasikan leher ke arah Huda seraya menggeleng pelan. Pria itu langsung mengambil sebuah kunci dari sakunya yang kuyakini adalah kunci sejenis yang memang sudah dipersiapkan sebelumnya.


Keren! Aku merasa sedang menjadi pemeran utama dalam sebuah film laga modern yang bertajuk misteri. Hem ... ternyata menjadi seorang penyelamat itu senano-nano ini rasanya.


Setelah berhasil membobol kuncinya, aku langsung menyibakkan daun pintu itu perlahan, dan menyembulkan kepalaku sebagian.


Tanpa menoleh ke belakang lagi, aku langsung menyibak lebar daun pintunya, kemudian menghambur ke arah kedua insan malang itu.


"Deyandra ...! Ranti ...!"


Huda langsung menyusulku dengan mengeluarkan pisau lipat dari balik sepatu boot-nya. Kemudian, memutus tali yang menyandra tubuh keduanya. Tak lupa kuenyahkan perban yang menempel ketat pada mulut mereka agar keduanya bisa angkat suara.


"Ibra ...!" Ranti langsung memelukku erat. Membuat Huda dan Deyandra sontak menatap ke arah kami dengan tatapan penuh tanya. Entah, apa yang sedang mereka pikirkan tentang kami? Aku pun tidak tahu.

__ADS_1


Sedikit mematung, itulah respon dari tubuhku. Pasalnya, aku dan Ranti tidak pernah sedekat ini sebelumnya. Namun, bisa kumaklumi ini adalah bentuk respon refleks dari ketakutan yang menderanya sekarang.


"Bagaimana kalian bisa menjadi sandra?" Aku tak bisa lagi menahan rasa penasaran. Menatap Ranti dan Deyandra bergantian, setelah wanita itu melerai dekapan.


"Mereka tiba-tiba menculikku ketika aku sedang dalam perjalanan pulang dari rumah mamamu kala itu," tutur Ranti dengan napas yang masih memburu. Agaknya dia masih belum bisa menormalkan kerja jantung dan paru-parunya saat ini. Namun, ceritanya bisa dipercaya, karena pakaian yang ia kenakan masih sama dengan yang ia pakai hari itu.


Aku lantas mengangguk tanda memercayai cerita Ranti. Lalu, mengalihkan perhatian pada Huda yang sedang menatap Deyandra dengan pandangan yang sulit kuartikan.


"Mereka menculikku setelah kamu pulang dari rumahku waktu itu, Ib." Seolah mengerti dengan sorot mata Huda, Deyandra menjawab begitu saja tanpa harus ditanya untuk yang kedua kalinya. "Aku tidak berdaya dan tidak bisa melawan lagi, karena jika aku tidak ikut dengan mereka, maka istri dan calon bayiku yang akan menjadi korbannya," lanjut Deyandra dengan kepala tertunduk sedih. Bisa kupahami betapa khawatirnya ia saat ini.


HENING


"Tidak salah lagi." Huda tampak memegang dagunya seolah sedang berpikir keras.


"Maksud kamu?" Aku mengernyitkan dahi karena belum paham kemana arah pemikirannya.


"Kamu akan tahu jawabannya setelah ini. Kita harus amankan mereka terlebih dahulu." Ia lantas berdiri dan memimpin kami untuk kembali menuju mobil.

__ADS_1


__ADS_2