
"Sayang ...!"
Tangan melingkari pinggang, dan dagu sudah mendarat telak di pundaknya. Memiringkan sedikit posisi kepala, agar bisa mengendus dalam aroma segar dari tubuh Vida melalui leher seksinya yang bersembunyi di balik rambut panjang yang tergerai.
Vida tampak tersentak, karena mendapatkan perlakuan hangatku secara tiba-tiba. Mungkin ia hampir tak percaya, kenapa sikapku berubah manis, tidak seperti biasanya.
"Kamu ngagetin aja, sih!" gumamnya dengan nada setengah menggerutu. Sambil terus berkutat dengan peralatan masaknya, ia tampak nyaman saja menampung sebagian dari berat badanku.
"Kamu baik-baik aja, 'kan?" tanyaku yang ingin memulai misi pengungkapan. Pengungkapan rahasia yang sedang ia sembunyikan di balik wajah kikuknya tadi.
Dia terus mengaduk masakannya, dengan gerakan yang terus memutar bak sedang mengaduk segelas minuman. "Memangnya aku kenapa?" Dia balik bertanya, seolah sedang membodohkan diri.
Aku lantas mengangkat daguku dan membalikkan tubuhnya ke arahku. Kurangkum wajah beningnya ke dalam genggaman dalam sekali raupan. "Kamu kayaknya gerogi banget saat aku menceritakan berita tadi," pancingku yang kembali membuat ekspresinya berubah ketakutan.
Ia melorotkan kedua telapak tanganku, kemudian berbalik lagi ke arah meja kompor. "Ya ... na-namanya juga kasus pembunuhan, jadinya aku agak ngeri gitu dengarnya," tepisnya membuat alasan. Namun, aku tidak yakin jika hal itu yang menjadi masalah sebenarnya.
__ADS_1
Kembali kulingkarkan lenganku pada pinggangnya, kemudian berbisik di dekat telinganya, "Aku gak akan pernah bertindak sekejam itu." Ia sontak memutar badan dengan gerakan cepat seperti sebuah kipas tornado, lalu menatap kedua mataku dengan lekat.
"A-apa maksudmu bicara seperti itu, Sayang?" tanyanya yang langsung merespon ungkapanku yang mungkin mengandung makna sindiran bagi siapa pun yang sedang menyembunyikan sebuah kesalahan.
Padahal kalimat itu hanya kuutarakan asal-asalan, tanpa ingin menuduhnya--jika ia memang sudah melakukan perselingkuhan.
"Aku gak selingkuh, Sayang." Pandangannya berubah sendu. "Aku tidak pernah berniat sedikit pun untuk mengkhianatimu."
JLEB
Belum apa-apa, dia malah terbawa suasana. Air matanya langsung menggelinding begitu saja tanpa adanya mode berkaca-kaca sebagai salam pembuka.
"Tapi ... kata-katamu tadi seolah menyimpan makna yang serupa, Sayang." Ia masih tetap menangis, walaupun aku sudah menjelaskannya.
"Cup ... cup ... udah, ya." Memberikan ruang nyaman untuk menenangkan emosinya, aku pun langsung menarik tubuh Vida dalam sekali dekapan. "Maaf, ya." Kuhujani pucuk kepalanya dengan usapan lembut. Kembali memberikan pengertian bahwa dia sudah salah memahami kalimatku.
__ADS_1
...🍂🍂🍂...
"Maaf, ya, Sayang. Jadi gosong deh sayurnya," tuturnya tak enak hati.
"Gak papa, 'kan kita udah pesan makanan online tadi. Palingan bentar lagi juga nyampe."
Karena saking terbawa suasananya, Vida dan aku sampai melupakan nasib masakan yang tadi sedang ia buat. Sehingga semuanya berubah warna menjadi cokelat kegelapan, dan pastinya tidak enak lagi untuk dimakan.
"Harusnya aku gak boleh seceroboh itu," gumamnya seolah sedang merutuki kelalaiannya.
Aku tersenyum, lalu menenggak jus jeruk yang baru saja ia buatkan. "Semuanya salahku, kok."
Ia langsung menoleh ke arahku dan mengernyit kebingungan. "Kok, kamu?" tanyanya kemudian.
"Ya ... bukannya aku yang udah gangguin kamu terlebih dahulu, sampe-sampe konsentrasimu buyar, kayak lagi terkena kilat yang sedang menyambar," kelakarku yang berhasil membuatnya tertawa lepas, begitu juga denganku.
__ADS_1
Namun, ketika kami sedang tergelak bersama, tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi.
TING ... TONG ....!