
Malam ini adalah malam kami. Panggung megah bernuansa romantis sudah tertata dengan rapi. Hiruk-pikuk para penggemar terdengar begitu menggelegar di indera pendengaran siapa saja. Jika bukan karena ciptaan Tuhan, mungkin gendang telingaku pun sudah pecah akibat teriakan mereka.
Konser kali ini diselenggarakan di bawah langit terbuka. Dihiasi oleh bintang gemintang yang gemerlapan dan juga bermandikan cahaya rembulan. Lampu konser dengan segala warna pun seakan tak mau kalah. Gerakannya tersorot ke sana kemari, seolah ikut meramaikan suasana meriah.
Begitu acara di mulai, sang pembawa acara pun langsung berkicau dengan kebolehannya. Menyapa para penonton yang mungkin sudah tidak sabar lagi untuk menyaksikan penampilan spektakuler dari grup band idolanya.
Aku dan teman-teman yang lainnya, sudah siap di belakang panggung. Menanti panggilan dari sang pemandu acara.
"Kak, udah dulu nelponnya, bentar lagi kita tampil nih," tuturku pada Kak Catur yang sedari tadi masih saja asik dengan panggilan videonya.
"Bentar, Ib. Anak-anak masih kangen ini," jawabnya seraya mengarahkan layar ponselnya kepadaku. Tampaklah wajah kembar mungil yang kutahu sudah berumur empat tahun itu. Aku sontak melambaikan tanganku ke arah mereka seraya tersenyum lebar. Mereka tampak antusias dan membalas lambaian tanganku dengan senyuman tak kalah lebarnya.
"Om, Ibla ... om Ibla ... kalo udah pulang bawain Naya oleh-oleh iyah," tutur Naya dengan logat khas cadelnya. Ampun, umur segitu saja dia sudah pandai minta oleh-oleh.
"Iya ... benel, Om Ibla," sambung Naira--kembarannya.
__ADS_1
"Iya ... iya ... emangnya Naya dan Naira mau oleh-oleh apa?" tanyaku yang ikutan betah berbincang dengan bocah-bocah menggemaskan itu.
Namun, belum sempat mereka menjawab pertanyaanku, pembawa acara pun terdengar memanggil kami untuk segera memasuki panggung. Kak Catur terpaksa memutuskan sambungan itu secara sepihak, dan langsung meraih stik drum-nya. Dia berjalan mendahului kami, karena beliau yang paling senior.
Sementara aku dan yang lainnya langsung mengekori dari belakang. Setelah memasuki panggung, sungguh aku terpana dibuat oleh antusiasme para penonton. Luar biasa ramainya, hingga aku sendiri hanya bisa menggelengkan kepala--tanda terpesona.
Kami langsung mengambil posisi masing-masing. Dan si vocalis pun langsung meraih mikropon dan menyapa mereka semua.
Selama konser berlangsung pandanganku menyapu ke arah lautan manusia yang tak terhitung lagi jumlahnya. Sorak sorai semakin kencang terdengar, ditambah lagi dengan suara mereka yang ikut bernyanyi sesuai lirik lagu yang dilantunkan oleh vocalis kami.
...💔...
"Keren, Ibra ...," seloroh Dori sang vocalis dalam grup band kami. "Aku yang vocalis, tapi dia yang dapat banyak bunga," sambungnya seolah tak terima dengan perlakuan para fans setia.
Kami sudah berada di hotel. Satu jam setelah konser itu selesai, kami memutuskan untuk kembali ke sini. Rasanya begitu penat sekali. Konser yang berlangsung kurang lebih dua setengah jam itu terasa begitu menguras energi.
__ADS_1
Manajer sengaja memesan kamar super besar, karena setiap perjalanan ke luar kota kami selalu ingin di tempatkan dalam satu ruangan yang sama. Karena kebersamaan adalah prinsip dari grup band kami.
"Rezeki itu gak akan ketuker, Bro." Kak Catur menepuk pundak Dori, lalu berselonjor di atas kasurnya sembari mengenggam satu bungkus kuaci sebagai cemilannya. Aku terkekeh setelah mendengar celetukan kak Catur.
"Hem ... padahal aku yang jomblo kok malah Ibra yang dikejar-kejar sama mereka ya, heran." Dori masih terus berceloteh seolah tak menerima takdir ini. Ia langsung merobohkan tubuhnya di atas kasur seakan menandakan bahwa dirinya begitu tersiksa.
"Sudahlah, mungkin jodohmu itu bukan di kota ini, Dor." Habibi mulai menimpali.
"Bukan masalah jodoh, Bi. Kita ini konser udah keliling kota. Tapi, tetep aja Ibra yang jadi incaran," selanya lagi seraya mencebikkan bibirnya ke arahku.
Aku tak banyak merespon, hanya tertawa kecil, lalu membawa semua buket bunga yang aku terima dari para penggemar tadi dan mengguyur tubuh Dori dengan benda itu.
Tentu saja, tingkahku malah menjadi bahan hiburan untuk para teman-teman yang lainnya, termasuk Dori sendiri. Ia langsung bangkit dari gunungan buket bunga yang menimpa tubuhnya, lalu menggelengkan kepala seraya tersenyum ringan.
"Nasib ... nasib!"
__ADS_1