Istriku Budak Nafsu

Istriku Budak Nafsu
Sejenak Melupakan


__ADS_3

"Jadi, kamu kembali lagi ke kota ini?" Kucoba memecah keheningan yang tercipta di antara kami setelah beberapa saat asik dalam mode geming masing-masing.


Ranti mendongakkan pandangan, kembali menatap hamparan air danau yang di atasnya beterbangan burung-burung walet. "Gak gitu, Ib. Aku cuma lagi rindu tempat ini," tuturnya dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan. Bisa kudengar hembusan napas beratnya seusai menyelesaikan satu baris dialog tersebut.


Tempat ini, adalah tempat favoritku. Di saat aku merasa suntuk atau apalah, aku selalu menghabiskan waktuku di sini. Namun, entah kenapa setiap aku berada di tempat ini, secara kebetulan sosok Ranti selalu hadir bersamaan.


Apa mungkin ini juga tempat ternyamannya?


Tak ingin terus berasumsi, kutarik gitar akustik yang tadi sempat kusandarkan di samping kursi. Memetiknya sesekali dalam balutan melodi syahdu, sehingga membuat wanita yang sedang duduk di sampingku itu menoleh seketika.

__ADS_1


"Bila aku harus mencintai dan berbagi kasih, itu hanya denganmu. Namun bila kuharus tanpamu, takkan pernah kuarungi hidup tanpa bercinta ...," lirihnya dengan suara penuh penghayatan, memberikan lirik pada melodi yang sedang kumainkan.


Aku hanya tersenyum tipis dan jari kokohku terus memainkan kunci selanjutnya, sehingga membuat Ranti terpancing untuk terus mengalunkan sambungan lirik lagu tersebut. Lama kami hanyut dalam balutan kegetiran hati masing-masing karena sentuhan hangat yang sedikit mencubit relung kalbu.


Aku tahu, Ranti juga sedang merasakan kegetiran jiwa. Karena sepengetahuanku sangat sulit untuk berpindah hati dari cinta pertama. Begitu juga yang terjadi kepada seorang Ibra Maulana. Sebesar apa pun kesalahan yang Vida lakukan, tak semudah itu pula melumpuhkan perasaanku terhadapnya.


"Ibra, maaf ya, aku jadi gangguin waktu sendirinya kamu." Ranti sontak bangkit setelah mengatakan kalimat itu.


Bagaimana ia bisa tahu, jika aku datang ke tempat ini hanya untuk menyendiri?

__ADS_1


"Gak apa-apa, ini juga tempat umum, bukan milik pribadi. Kamu mau pulang?" tanyaku yang tidak ingin membuatnya merasa tidak enak hati.


"Ya, seseorang sudah menungguku di sana." Jari telunjuknya mengarah pada sebuah mobil jeep berwarna jingga yang terparkir di pinggir jalan. Sejurus pandanganku pun mengekori arah jarinya. Bisa kulihat ada seorang laki-laki yang duduk di dalam mobil itu--masih menunggu dengan setia. "Aku lupa, kalau tadi aku datang kemari hanya untuk menghirup udara danau sebentar." Dilanjutkan dengan menyampirkan tas selempang di bahunya. "Sebenarnya aku hanya ingin melepas rindu pada seseorang, namun tak kusangka Tuhan malah mempertemukanku dengannya." Dia langsung berlalu setelah mengatakan kalimat selanjutnya.


Aku sedikit tersentak. Apa maksud dari perkataannya itu? Apa mungkin seseorang yang dia maksud itu adalah aku?


Ah, aku ini. Sudah jelas-jelas ada seorang laki-laki yang menunggunya di sana. Lagi pula, bagaimana aku bisa berpikiran seperti itu?


Sepeninggalan Ranti, aku hanya tersenyum sendiri sembari menggelengkan kepala berkali-kali. Merutuki diriku sendiri atas ketololan yang baru saja tercetus di dalam kepala ini. Namun, tak bisa kupungkiri bahwa kehadiran Ranti, sejenak bisa mengalihkan suasana hati. Membuat pikiranku sontak lebih fokus pada beberapa alunan musik akustik yang terus diciptakan oleh jari-jari ahliku.

__ADS_1


Musik memang selalu sukses membuatku lupa waktu dan meleburkan semua masalah-masalah yang membebani pundak. Oleh karena itulah, aku sangat menyukai musik. Karena dengan bermain musik, aku bisa meluapkan seluruh perasaan yang terpendam hanya dalam beberapa petikan.


Setelah menyadari langit yang mulai temaram, kulihat jam analog yang melingkar ketat di pergelangan tangan. Ternyata sudah hampir dua jam aku berada di sini. Sontak aku bangkit dari peraduan, menenteng gitar kesayangan, dan meninggalkan semua kepedihan.


__ADS_2