Istriku Budak Nafsu

Istriku Budak Nafsu
Kebenaran


__ADS_3

Aku yang selama ini terkenal sabar dan tidak banyak bicara, hari ini mendadak banyak bunyi karena terlalu sulit untuk memahami kenyataan. Sebuah kematian bukanlah hal sepele yang boleh dipermainkan, bukan? Tetapi, kenapa Vida melakukannya? Demi apa?


Mungkin aku akan lebih bisa mentolerir, jika yang dihadapanku ini bukanlah sosok Vida yang asli, namun hanya seseorang yang mirip dengannya. Namun, mendengar celetukan pertamanya yang memanggilku dengan sebutan 'SUAMI', membuat luka hatiku kembali membasah dan terasa begitu perih setelah beberapa saat mengering.


"Jawab aku, Vida!!!" pekikanku kini tak tanggung-tanggung. Kurasa gelegaran suara ini bisa sampai ke ujung jalan sana--sangking membahananya.


Dengan gerakan tubuh yang masih meronta, kuhunuskan tatapan tajam ke arahnya yang kini masih belum mengalihkan pandangan. Jangan lupakan, sosok Baron yang masih setia menjagaku dengan todongan senjata apinya. Pria itu masih saja mengambil peran sebagai penonton tanpa mau mengangkat suara.


"Kamu benar-benar ingin tahu, hah?" Kali ini wajah Vida sudah berada di depan wajahku. Menatapku dengan penuh kemurkaan yang aku pun tak tahu berasal dari mana.


"Kamu ingat tidak, betapa memelasnya aku ketika ingin kembali bersamamu? Kamu ingat tidak, bagaimana hancurnya aku ketika semua keluargaku berpaling dariku? Kamu masih ingat tidak, ketika usaha yang aku lakukan untuk sekedar memperbaiki diri, tapi tak kamu gubris sama sekali?!" pekiknya dengan suara tak kalah menggelegar--sekaligus bertanya. Kali ini dengan lelehan air mata yang sudah membasahi kedua pipinya.


"Kamu bilang kamu sangat mencintaiku, bukan? Tapi, nama buktinya? Di saat aku butuh dukungan dan rangkulan, kamu ada dimana?!" erangnya seraya mencengkeram kerah bajuku secara membabi buta.


"Asal kamu tahu!" Dia mulai menyeka air mata. "Yang datang dan siap menampungku waktu itu hanyalah Baron. Dia siap menerimaku. Dia siap membantuku membalas dendam atas semua ketidakpedulianmu itu." Pandangannya sejenak menatap Baron, mereka tampak kompak mengangguk.

__ADS_1


"Dia adalah laki-laki terhebat yang tetap mencintaiku walaupun sudah berjuta kali kutolak!" tegasnya seolah akulah penyebab dari semua kehancuran dalam hidupnya.


Aku masih mendengarkan dengan seksama, tak ingin sedikit pun memotong luapan emosinya. Biarlah dia mengeluarkan semuanya, tanpa harus dihalangi oleh jeda.


"Kamu ingin tahu, kenapa aku memilih jalan ini? Kenapa aku memilih untuk memulai drama ini?" Dia menanyakan hal itu kembali dengan napas terdengar sangat memburu. "Karena aku ingin membuat kamu merasakan seperti apa rasanya kehilangan!" pekiknya sekali lagi dengan kedua bola mata yang membeliak.


"Kamu sudah merampas Ibram dariku, Ibra. Kamu sudah merampas kedua orang tuaku. Kamu juga sudah merampas semua orang-orang yang menyayangiku!" tuduhnya sesuka hati seraya mengguncang tubuhku.


DEG


Aku yang tak terima dengan semua tuduhannya, memilih memotong khotbah penuh emosinya itu sebelum mencapai titik puncak yang menurutku semakin mengada-ngada.


"Aku tak pernah merasa melakukan semua itu, Vida," elakku dengan ekspresi wajah tidak terima.


"Jika kamu merasa kehilangan semua orang yang kamu sayangi, itu semua karena kesalahanmu sendiri. Berhenti bermain peran seolah kamu yang merasa paling menderita di dunia ini!" tegasku dengan kedua netra menatap lurus dan tajam.

__ADS_1


"Jika kamu mau membahas masalah rumah tangga, sebenarnya siapa di sini yang menjadi korban sesungguhnya? Aku atau kamu?" tanyaku lagi yang membuatnya bungkam untuk sesaat. Namun, pandangannya masih terlihat bengis tertuju lurus ke arahku.


"Vida, semua yang sudah kamu lakukan ini, sungguh, tidak ada gunanya. Kamu semakin menambah beban hidup jika mau bergabung dalam misi perdagangan organ tubuh seperti ini." Aku mencoba membuka jalan pikirannya yang mungkin sedang tersesat.


"Sekarang jelaskan, siapa yang kami kubur waktu itu jika bukan dirimu? Dan kenapa kalian sampai menghabisi Vazo?!" tuntutku tak mau tahu.


Bukannya memasang ekspresi wajah menyesal, wanita itu malah tersenyum miring seolah yang sudah kusampaikan tadi, hanyalah angin lalu baginya.


"Heh, apa pedulimu?!"


"Tentu aku peduli, karena tindakan kalian sudah melanggar hukum!"


"Begitu? Aku sudah tidak peduli lagi. Tapi, jika kamu benar-benar ingin tahu, maka aku akan menceritakannya secara detil, sebelum Baron benar-benar melesatkan pelurunya menembus kepalamu!"


JLEB

__ADS_1


__ADS_2