
Senyuman Vida kembali mengembang bak kue blodar ketika aku mengajaknya meniti gertak dari kayu--tertata sangat apik--berwarna-warni, yang menghubungkan bibir pantai dan beberapa kabin terapung. Dia menggenggam erat sebelah tanganku sambil mengayunkan sebelah tangannya yang menenteng sandal. Sepertinya ia sangat girang.
Aku sempat menyesali ketidakpekaanku. Kalau saja aku mengajaknya liburan lebih awal, mungkin ia tak perlu lama2 tenggelam dalam kelaraan.
"Ini kabin kita?" tanyanya ketika aku mengarahkan sebuah kunci ke pintu kabin. Aku hanya menanggapinya dengan menganggukkan kepala seraya tersenyum. Koper yang tadi sempat diantarkan oleh sopir travel pun sudah tergeletak di depan teras kabin.
Setelah pintu tersibak, Vida langsung menyerobot mendahuluiku. Langkahnya diiringi dengan sorakan meriah karena teramat menyukai tempat menginap sementara ini.
Di dalam kabin terdapat sebuah ranjang besar dengan taburan kelopak bunga mawar berwarna merah muda. Di ujung kasur berdirilah dua ekor angsa yang dibentuk dari handuk berwarna putih. Mereka saling bersitatap dengan paruh yang menyentuh satu sama lain. Aku yakini, pemandangan seperti ini malah membuat jiwa para jomblo meronta-ronta jika menyaksikannya secara langsung.
Kabin ini juga dilengkapi dengan fasilitas lainnya. Sebuah televisi berukuran lebar terpampang nyata di depan ranjang. Lemari pakaian berukuran sedang yang disediakan khusus untuk menampung barang-barang pribadi tamu yang menyewa tempat ini. Teras belakang kabin tampak di-designed terbuka, yang menampakkan lautan lepas terbentang luas sejauh mata memandang.
__ADS_1
Namun, ada satu fasilitas yang sangat menarik perhatian Vida. Dia meletakkan sandalnya pada rak, lalu berjalan mendekati benda itu. Tangannya menari dengan lentik, menyusuri tubuh benda itu dari atas hingga bawah. Seolah sedang merasakan sensasi menggelora hanya dengan menyentuhnya saja.
Aku yang baru memasuki kabin bersama para koper, lantas tersenyum penuh makna ke arahnya, yang kini juga sedang menatapku. Kemudian, ia langsung duduk di atas sebuah benda yang disentuhnya tadi. Ya, bisa dikatakan benda itu adalah sebuah sofa, namun bukan sembarang sofa.
Seolah sangat mengerti akan kebutuhan para pelanggannya, pengelola tempat ini menyediakan sebuah sofa kamasutra yang biasa digunakan oleh pasangan halal untuk melewati momen indah berdua ketika mereka bulan madu atau sekedar liburan seperti kami saat ini.
Haha!
Baiklah, dari sejumlah artikel, arkeologi, dan sejarah termasuk pahatan-pahatan patung yang berkaitan dengan kamasutra, sehingga terciptalah ide untuk membuat tempat duduk yang bisa digunakan dalam mengaplikasikan berbagai posisi bercinta yang akan semakin menciptakan hubungan harmonis bagi pasangan suami-istri.
__ADS_1
Ingat! Hanya untuk pasangan halal, ya.
Baiklah, aku rasa cukup sudah bahasan tentang sofa kamasutra. Sekarang sebaiknya kita kembali ke Vida.
Ia masih menatapku intens yang saat ini baru selesai memasukkan kedua koper kami ke dalam lemari. Aku yang memang sudah mengerti dengan tatapannya, hanya bisa tersenyum gugup dibuatnya. Kubuka satu persatu kancing kemeja yang membalut tubuhku, lalu melemparnya ke lantai. Kulangkahkan laki mendekat ke arah istriku yang sepertinya sudah tidak sabar lagi untuk menyambut tingkah mesumku.
Ketika aku sudah berdiri tepat di samping benda itu, kutopang berat badanku di atas tangan yang berpaku di bagian atas sofa. Saat itu Vida sudah duduk di atasnya dengan bersilang kaki. Posisi tubuhnya dibuat miring dan tubuhnya condong sedikit mengikuti lekukan benda berwarna merah itu.
Tatapan kami pun saling beradu, bak gesekan besi berani yang berlawanan katub. Perlahan kukikis jarak kami sehingga napas hangatnya kini sukses menabrak kulit wajahku.
"Mau mandi bareng?" tanyaku.
__ADS_1
Ia menggeser wajah menjadi tunduk seraya tersenyum malu. Namun, uluran tanganku disambut telak olehnya yang kini sudah bangkit dari posisi menggoda itu.