
Perasaan bertarung dengan pikiran yang semakin berkecamuk. Mengingatkanku kembali pada kejadian beberapa hari yang lalu. Aku sempat mencurigai Vazo sebagai dalang di balik kasus pembunuhan ini. Namun, kenapa sekarang aku harus melihat wajah Baron di depan sana? Apa aku tak salah memindai wajah seseorang?
Kukucek kelopak mataku berkali-kali. Membolakannya secara sempurna bahkan aku sempat mengerjap-ngerjap seperti layaknya mata sebuah boneka. Namun, tetap saja lensaku tidak salah menangkap raga. Memang Baronlah yang sedang berbicara dengan gadis itu. Jarak yang lumayan jauh, membuat telingaku tak bisa menangkap gelombang suara dari keduanya.
Tatapanku masih terus siaga. Tak ingin sampai kehilangan jejak mereka berdua. Sayangnya, sepersekian detik kemudian, pria itu nampak celingukan. Seolah sedang pasang mata, kalau-kalau pertemuan mereka ada yang melihat. Tak ingin membuat pandangannya menangkap keberadaan diri, kusembunyikan tubuh di balik bangunan ruko dua pintu. Sebenarnya aku agak ragu untuk melakukan itu, khawatirnya mereka akan bergerak dan meninggalkan tempat itu.
Dan ... beberapa menit kemudian, setelah dirasa cukup aman, kuintip kembali ke arah posisi mereka tadi, namun sayang sekali keduanya sudah raib bak ditelan bumi.
"S-i-a-l ...!" decakku tak habis pikir. Kekhawatiranku malah menjadi kenyataan. Kemana perginya mereka?
...💔...
Langkahku terayun tegas memasuki rumah. Masih menaruh kekesalan karena sudah kehilangan jejak si pria gila. Tak ada tambahan petunjuk pun yang kudapatkan malam ini. Aku hanya bisa pulang dengan tangan kosong.
__ADS_1
Setelah memasuki kamar, langsung kurebahkan tubuh lelahku di pembaringan. Kurotasikan pandangan ke samping. Menjulurkan tangan untuk menjangkau kepala mungil itu untuk sekedar dielus. Memandang wajah polos dan lucu milik Ibram, membuat otakku kembali bekerja dengan baik. Sebuah senyuman terbit di kedua sudut bibirku. Karena berhasil membawa ingatanku terseret pada amplop kedua yang secara tidak langsung telah diberikan oleh pelayan cafe tadi.
Sejurus otakku memerintahkan badan untuk duduk tegap. Merogoh saku yang berisikan amplop misterius yang kuanggap akan memberikan petunjuk yang sedikit lebih jelas dari sebelumnya. Namun, setelah melihat isinya, tanganku hanya bisa mengepal erat. Pandanganku nyalang ke depan, lalu melemparkan secarik kertas itu sembarangan.
...JANGAN PERNAH SEDIKIT PUN MENGUSUT KASUS KEMATIAN VIDA, KALAU TIDAK INGIN CELAKA!!!...
Dengan menggunakan tinta spidol berwarna merah, ia menuliskan pesan itu. Sebuah nada ancaman teralun sarkas di baliknya. S-i-a-l-a-n! Bagaimana bisa dia berani mengancamku seperti itu? Memangnya siapa dia?
...💔...
Hari ini aku sengaja mengajaknya bertemu di salah satu restoranku yang terletak tidak jauh dari kediamannya.
"Apa Vida punya kembaran?" Pertanyaan pertamaku sontak membuat Kak Catur tersedak saat dia sedang menyesap nikmatnya secangkir latte yang tadi sudah tersedia di atas meja.
__ADS_1
"Kamu ngaco! Atau lagi sakit?" tanyanya balik, yang malah membuatku mengerutkan dahi menatapnya--kesal.
"Aku serius, Kak!" tegasku yang benar-benar tanpa nada candaan.
Kak Catur meletakkan kembali cangkir yang sempat ia cubit tadi, ke atas piring kecil--pasangannya. "Kami hanya dua bersaudara. Dan kamu tahu itu sejak lama. Bagaimana bisa kamu nanyain kembarannya si Vida?" Nada bicara Kak Catur terdengar sangat serius. Tak ada gurat kebohongan dari ekspresi wajahnya.
"Sekali lagi aku tanya, apa Vida punya kembaran?" Aku masih kekeuh dengan keyakinan.
Kakak ipar sekaligus seniorku itu meraup wajahnya kasar--tak percaya. "Mau kamu tanyain sepuluh kali pun jawabanku tetap sama, Ib." Wajahnya tampak begitu frustrasi ketika aku terdengar seperti tak mempercayainya. "Memangnya kenapa, sih?" tanyanya lagi yang mungkin mulai penasaran.
Aku langsung menceritakan kronologi kejadian mulai dari peristiwa aneh di pemakaman, hingga beberapa petunjuk yang membawaku melihat wajah Baron. Hal tersebut membuat Kak Catur ikut-ikutan berkerut dahi. Kedua matanya tampak merah memendam terjangan emosi negatif. Menahan amarah yang sepertinya sudah mulai meletup-letup di dalam sana.
"Kita samperin dia sekarang!" Kak Catur langsung berdiri, hampir melangkahkan kaki.
__ADS_1
"Sabar, Kak." Tanganku dengan sigap menahan pergerakannya yang mulai agresif. "Kita gak boleh gegabah dalam bertindak. Kita belum mempunyai cukup bukti. Surat kaleng yang aku terima juga gak akan bisa kita jadikan senjata," tuturku yang berusaha mengembalikan Kak Catur ke dalam kenyataan. Napasnya perlahan mulai teratur, tak memburu lagi seperti sebelumnya. Sepertinya kalimatku tadi cukup ampuh, atau mungkin memang ada benarnya.
"Aku tahu, siapa yang bisa membantu kita untuk membuktikan kebenarannya." Kak Catur berucap dengan penuh keyakinan. "Kita harus menemui Deyandra!"