Istriku Budak Nafsu

Istriku Budak Nafsu
Amanah


__ADS_3

Aku langsung melanting keluar mobil dan membopong tubuh tak sadar istriku menuju IGD. Tanpa memperdulikan tatapan heran orang-orang, aku terus berjalan hingga bertemu dengan seorang perawat di sana.


"Sus, tolong panggilkan dokter! Istri saya tiba-tiba tak sadarkan diri." Sembari meletakkan tubuh Vida di atas brankar yang sudah tersedia di sana, suster itu hanya mengangguk cepat namun tak juga bergerak dari posisinya.


Aku tahu, ini pasti karena keterlanjuranku yang tidak sempat memakai pakaian terlebih dahulu. "Suster, sampai kapan Anda akan terus tersenyum seperti itu? Cepat panggilkan dokter!" Aku sudah tak menghiraukan itu lagi. Yang jelas kali ini kepalaku sedang dipenuhi oleh berbagai kekhawatiran yang menggunung.


Dua puluh menit kemudian


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari istri Anda, Pak Ibra." Dokter itu duduk dikursinya ketika memintaku untuk memasuki ruangan kecil di bagian IGD tadi. Dia terus tersenyum sedari tadi melihatku untuk yang pertama kali. Entah, karena aku yang tak mengenakan pakaian, atau karena terpesona dengan ketampanan.


"Saya mendeteksi adanya kemungkinan kehamilan di sini." Menghela napas sejenak. "Namun, saya belum terlalu yakin. Anda bisa memeriksakan ibu Vida kembali, pada bagian Obgyn," sambungnya seolah ingin melebur kekhawatiran yang terpampang nyata di wajahku.


Dengan penuh rasa syukur, kuhela napas lega dan kini tergantikan oleh sesabit senyuman bahagia.


"Gejala seperti ini sudah biasa dialami oleh seorang wanita di awal masa kehamilan. Jadi, setelah ibu Vida sadar nanti, Anda sudah bisa membawanya pulang." Dokter berjenis kelamin wanita itu memasang ekspresi seolah paham sekali dengan situasi yang kualami saat ini, hingga membuatku hanya mengenakan handuk untuk menutupi daerah sensitif diri.

__ADS_1


"Maaf, Dokter. Tadi itu saya benar-benar panik, sampai lupa kalo cuma pakai handuk," tuturku yang mulai tak enak hati. "Kalau begitu saya permisi, Dok." Setelah menjabat tangan dokter tersebut akhirnya aku kembali menemui Vida yang masih belum sadar sepenuhnya dari tidur sementara.


Namun, sejurus ingatanku terseret pada sesuatu, lalu bergegas keluar menuju parkiran. Untuk yang kedua kalinya, aku kembali menjadi pusat perhatian. Bukan karena handuk yang melilit di pinggang, namun karena kali ini--sepertinya--mereka sudah mulai menyadari siapa orang sinting yang saat ini sedang berkeliaran di rumah sakit. Sontak kupercepat langkah, sebelum para wanita di sana menjadikanku santapan hangat karena saking bahagianya bertemu sang idola.


...💔...


"Ibra, gimana keadaan Vida?" tanya mama mertuaku yang baru saja tiba. Diekori oleh papa dan juga kedua orang tuaku.


"Dia baik-baik aja, Ma."


"Kalau baik, kenapa dia masih belum sadar?"


Mertuaku ini, kadang-kadang.


"Ma ...!" sela papa mertuaku seolah mengerti dengan kegundahan hati istrinya saat ini. Ia terus berusaha menenangkan istrinya. Sementara kedua orang tuaku, mereka masih belum angkat suara, karena aku sudah memberitahukan penjelasan dokter tadi memalui panggilan suara.

__ADS_1


Aku sudah mengenakan pakaian lengkap. Beruntung di mobil masih ada beberapa helai pakaian yang biasa aku bawa kemana pun. Di mobil memang terdapat beberapa barang-barang pribadiku. Aku sengaja menyimpannya untuk tujuan tertentu. Ya, untuk kondisi darurat seperti ini, misalnya. Jadi, sudah tidak aneh lagi dirasa.


Dalam keheningan kami semua, tiba-tiba Vida menggeliatkan badannya, dan membuka kelopak mata perlahan. Dengan sebelah tangan menekan sebelah pelispisnya, ia mulai menyadari bahwa dirinya tak lagi berada di rumah.


"Aku di rumah sakit, ya?" tanyanya seolah sudah bisa membaca situasi. Pandangannya mulai mengedar dan menatap kami satu persatu.


"Aku kenapa, Sayang?" tanya Vida, ketika tatapannya beradu denganku. Wajahnya masih tampak meringis, seolah sedang menahan rasa nyeri yang luar biasa di kepala. Namun, belum sempat aku merespon pertanyaannya, tiba-tiba ia kembali berekspresi aneh, seolah ingin mengeluarkan kembali isi perutnya.


Dengan sigap, aku memapahnya menuju kamar kecil, dan benar saja, hal itu terjadi lagi. "Aku masuk angin aja kali ya," tuturnya setelah membersihkan mulut dengan tisu. Aku hanya tersenyum ke arahnya yang saat ini masih tampak tersengal-sengal dalam bernapas.


"Bukan masuk angin, Sayang." Dialogku berhasil membuatnya memberikan pandangan sejuta tanyanya padaku.


"Terus?" Seolah tak sabar, dia langsung berkerut kening.


"Dokter bilang, kemungkinan ada Ibra junior di dalam sini." Kusentuh perutnya dengan lembut. Ia lantas menjatuhkan pandangan, seraya meluruhkan kristal bening tanda ketidakpercayaan.

__ADS_1


"Kamu ... kamu gak lagi pengen ngehibur aku, 'kan?" Ia kembali mendongak dengan wajah antusias. Aku menggeleng tegas, seraya menyeka air bahagianya.


"Besok kita periksakan lagi ke dokter kandungan." Kalimat terakhirku kembali sukses menerbitkan senyuman indah di wajahnya. Vida langsung memelukku erat, seerat perangko yang menempel sempurna pada amplop surat.


__ADS_2