
Air mata kesedihan itu terus mengalir dari pipinya. Meringkuk dan bergelung di dalam selimut setelah kesalahpahaman yang ia hadapi. Vida, terus merintih lirih, namun masih bisa kudengar dengan jelas. Aku lantas bangkit dari posisi berjongkok, kemudian menyusulnya yang sama sekali tak mau mendengarkan penjelasanku.
Aku beringsut ke atas kasur untuk mendekatinya. Perlahan kusibak selimut yang membungkus tubuh menyedihkannya. Dia masih tak berkutik. Bisa kurasakan tubuhnya bergetar karena tangis.
Hem ... sebegitu sedihkah ia atas respon tidak jelasku tadi?
"Sayang ... jangan nangis terus, kasian janin yang ada di dalam perutmu." Kuusap lembut punggungnya dengan gerakan naik turun yang teratur. Untuk beberapa saat dia masih tak bergerak dari posisinya.
Namun, beberapa detik kemudian, ternyata kalimatku berhasil membuat tangisannya berkurang dan perlahan menjadi tenang. Ia lantas bergerak untuk mendudukkan tubuhnya, lalu memeluk tubuhku. "Aku kira kamu tidak menginginkan anak ini," tuturnya di sela isakan.
Aku menarik tipis kedua sudut bibirku seraya mengusap pucuk kepalanya. Wajahnya yang tertempel lekat di leher, membuatku bisa merasakan deru napas hangatnya.
__ADS_1
"Mana mungkin aku tidak ingin memiliki keturunan." Menundukkan pandangan agar dia sadar bahwa aku sedang berusaha melihat wajahnya. "Aku hanya tidak tahu untuk berekspresi seperti apa saking bahagianya."
Dia langsung menarik tubuh dan menatap kedua netraku lekat. "Maafkan aku, yang selalu salah menilai sikapmu," ucapnya dengan pandangan sendu. Tanpa memberikan tanggapan aku langsung menarik tubuhnya kembali agar bisa kurengkuh lebih lama.
...💔...
"Bagaimana, Dokter? Apa benar saya sedang hamil?" tanya Vida yang sudah tidak sabar lagi menunggu penjelasan dari dokter. Sementara aku masih berdiri di samping istriku--menyimak.
"Maksud, Dokter?" tanyaku kemudian.
"Ada dua kemungkinan, Pak. Yang pertama, hal ini bisa disebabkan karena usia kandungan yang masih terlalu belia. Tapi, tidak perlu khawatir, jika testpack-nya sudah menunjukkan dua garis merah, maka kemungkinan besar ibu Vida sedang hamil." Beliau lantas membuat beberapa catatan pada sebuah buku berwarna merah muda, yang belum aku ketahui namanya.
__ADS_1
"Namun, kemungkinan keduanya adalah bisa saja ibu Vida sedang mengalami kehamilan di luar rahim yang biasa dikenal dengan sebutan kehamilan ektopik," lanjutnya lagi yang membuat kami berdua mengernyit kebingungan.
Vida dan aku lantas saling bertukar pandang, kemudian kembali menatap sang dokter seolah menuntut penjelasan lanjutan.
"Kehamilan di luar rahim atau ektopik, disebabkan oleh sel telur yang sudah dibuahi oleh sper-ma namun sel telur tersebut tidak menempel pada rahim. Tuba falopi adalah organ yang sering ditempeli sel telur pada kehamilan ektopik. Selain tuba falopi, kehamilan ektopik juga bisa terjadi di indung telur, leher rahim (serviks), atau di rongga perut. Dan kondisi ini bisa menyebabkan pendarahan hebat dan nyeri yang luar biasa pada perut bawah si ibu, jika dibiarkan begitu saja. Dan solusinya adalah harus dilakukan tindakan operasi untuk mengangkat gagal janin tersebut." Beliau tampak meraup wajahnya dengan kasar. Begitu pun aku dan Vida yang mulai tampak gusar karena ciri-ciri yang Vida rasakan tadi sore itu persis sekali dengan yang baru saja dikatakan oleh sang dokter.
"Namun, ibu dan bapak tidak usah khawatir. Itu baru kemungkinan," ucapnya yang membuat kami berdua kembali mendapatkan seberkas harapan. "Sebaiknya bulan depan ibu Vida check-up lagi ke sini, untuk melihat perkembangan selanjutnya," sarannya kemudian yang diangguki tegas oleh kami berdua.
Kami adalah pasangan baru. Dan tidak terlalu banyak paham mengenai masalah kehamilan. Jadi, wajar saja kalau istilah-istilah yang sudah dibicarakan oleh dokter tadi, masih ada yang belum kami mengerti. "Kalau begitu kami pamit dulu, Dok. Terima kasih atas waktunya," tuturku mengakhiri pertemuan kami setelah dokter itu menyerahkan buku yang berwarna merah muda tadi bersamaan dengan selembar resep yang harus kami tebus.
"Sama-sama, Pak Ibra. Vitaminnya jangan lupa diminum, Ibu."
__ADS_1
Vida mengangguk seraya tersenyum ramah pada beliau, lalu kami pun bergegas keluar dari ruangannya.