
Setelah mendengar penuturan mama tadi, beberapa spekulasi mulai bermunculan ke permukaan.
Apa benar tadi itu adalah Vida?
Atau hanya orang lain yang mirip dengannya?
Atau mungkin kematian Vida hanyalah sebuah rekayasa?
Ah, tapi untuk apa?
Belum ada yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk membersihkan diri. Mengguyur kepala hingga seluruh badan, berharap setelah ini aku bisa berpikir lebih jernih lagi.
Seusai bebersih, tiba-tiba aku teringat sesuatu. Amplop itu ...! Gegas aku merogoh saku kemeja yang tadi kugunakan. Berharap ada sebuah petunjuk yang bisa kutemui di dalamnya.
Amplop berwarna merah muda itu kini sudah berada di dalam genggaman. Dengan masih berlilitkan handuk pada pinggang, kududukkan tubuhku di atas sofa. Memandangi amplop itu dengan seksama, tanpa membukanya terlebih dahulu. Ada simbol hati kecil di bagian penutupnya, fungsinya sebagai perekat.
Jika amplop ini diberikan oleh wanita tadi, kenapa dia harus memberinya simbol cinta? Apa maksud dari semua ini?
__ADS_1
Karena tak bisa lagi menahan rasa penasaran yang menyeruak di dalam dada, akhirnya dengan hati-hati kusibak perekat amplop tersebut dan merogoh isinya. Betapa terkejutnya aku, ketika melihat isi dari amplop tersebut.
...💔...
Aku sudah berada di sebuah cafe yang lokasinya terletak tepat di pinggir sungai. Sejujurnya aku tak pernah menginjakkan kaki di tempat ini. Tempatnya estetik dan tak terlalu mewah. Namun, demi mengobati rasa penasaran, aku harus datang ke tempat ini.
Ya, di dalam amplop yang kubuka tadi, berisi sebuah alamat. Sepertinya pengirim pesan ini benar-benar ingin bertemu denganku, tanpa harus melibatkan pihak yang lainnya, termasuk pihak kepolisian.
Dan di sinilah aku sekarang. Duduk lesehan di sebuah meja yang nomornya pun sudah ditentukan oleh si pengirim pesan. Sudah sepuluh menit aku menunggu, namun belum juga ada yang datang menghampiriku. Penunjuk waktu yang melingkar di pergelangan tangan, sudah menunjukkan pukul delapan malam. Tepat dengan waktu yang tertera di dalam surat.
...💔...
Sedikit kegelisahan terpampang nyata di wajahku. Sudah hampir pukul delapan lewat tiga puluh menit, tak ada seorang pun yang menunjukkan batang hidungnya. Apa pengirim pesan ini sedang mempermainkanku?
Namun, ketika aku ingin meraih cangkir yang sedari tadi belum kusentuh juga, pandanganku seketika teralihkan pada sebuah amplop lain yang terdapat di bawah tempat camilan.
Tuhaaan. Saking fokusnya pada sosok misterius yang kuharap bisa memberikan petunjuk tentang seseorang yang kurasa mirip dengan Vida, aku malah mengabaikan petunjuk yang ada di depan mata.
__ADS_1
Kuletakkan kembali cangkir itu di atas meja, lalu bangkit dengan niat untuk mencari pelayan cafe yang mengantarkan pesananku tadi. Namun, teman-temannya berkata bahwa pelayan yang bersangkutan sudah pulang karena pergantian shift. Aku yang tak mau kehilangan petunjuk lagi, lantas berusaha meminta alamat pelayan tersebut. Namun sayangnya, mereka tak bisa memberikannya, dengan alasan demi menjaga keselamatan karyawan mereka.
Tentu saja hal itu membuatku berdecak kesal. Tak ada pilihan lain lagi. "Aku harus membuntutinya. Siapa tahu dia belum jauh," gumamku seraya keluar meninggalkan tempat itu. Tak lupa amplop kedua tadi kumasukkan ke dalam saku kemeja. Aku berniat akan membukanya jika nanti sudah bertemu dengan pelayan itu.
...💔...
Mobilku bergerak perlahan menyusuri jalan, mencari keberadaan pelayan wanita yang masih kuharapkan bisa memberitahu siapa yang menitipkan amplop itu padanya.
Lima belas menit kemudian
Sebenarnya aku sudah hampir putus asa, namun seketika senyumanku mengembang ketika melihat sosok yang kucari sedari tadi, sedang berjalan kaki, memasuki sebuah gang kecil.
Sontak kutepikan mobil, lalu memarkirkannya di tempat aman. Kemudian, mengekori langkah gadis tadi yang sudah berjarak agak jauh dari posisiku saat ini. Namun, ada yang membuatku sedikit terjingkat. Gadis itu tampak sedang menemui seseorang yang sangat kukenali.
"Baron ...!"
Untung aku masih mengingat nama pria b-r-e-n-g-s-e-k itu. "Apakah mungkin pria gila itu yang menjadi tersangka atas pembunuhan Vida?"
__ADS_1