
...POV LIANA ALVIDA PART 3...
Di saat mendengar penuturan tulus suamiku, ada sebentuk sesal yang menggerogoti dada, sehingga membuatku tak bisa lagi berkata-kata. Ibra memang benar, aku sangat salah karena tidak pernah terbuka padanya. Komunikasi yang kurang mendalam membuatku hanya bisa berasumsi dan hidup dalam ideologiku sendiri tanpa mau memahami kebenarannya. Lebih tepatnya, aku hanya mementingkan perasaanku saja, dan melupakan tentang perasaan Ibra.
Namun, apalah daya, aku juga bukanlah malaikat yang tak pernah berbuat dosa. Ucapan Ibra tadi membuatku semakin kerdil, jika masih terus memintanya untuk menerima. Menerima kembali diriku yang berlumur dosa ini untuk menjadi satu-satunya wanita yang ia cinta.
Tetapi, aku sudah sangat menyesali kebodohan diri. Tak bisakah ia memberiku satu kesempatan lagi? Atau mungkin cintanya saat ini bukan untuk diriku lagi? Aku mulai takut untuk menghadapi hari-hari tanpa mereka berdua di sisi. Aku mulai takut untuk meneruskan hidup hanya seorang diri. Aku mulai takut kalau-kalau dosa ini akan menimbulkan karma yang akan meregangku hingga mati.
Oh, Tuhaaan!
Istri macam apa aku ini?
__ADS_1
Ibu macam apa aku ini?
...💔...
Di saat diri sedang meratapi nasib, tiba-tiba terdengar deru mesin mobil memasuki pelataran rumah mama. Aku kenal sekali siapa pemiliknya. Dengan masih bergeming pada posisi, bisa kulihat Vazo menyembulkan tubuh tegapnya dari balik pintu kendaraan tersebut.
Aku terperanjat hebat. Bagaimana dia bisa mempunyai keberanian penuh untuk datang kemari?
"Aku paling gak suka liat kamu nangis begini!" tegasnya seolah yang kulakukan saat ini adalah sebuah kesalahan. Aku masih bergeming, menatapnya dengan pandangan penuh haru. Ternyata masih ada yang peduli dengan keadaanku.
Ya, begitulah Vazo, selalu ada untukku di saat dunia tak berpihak padaku. Selalu pasang dada di saat orang lain berpaling muka. Selalu menyejukkan jiwa, di kala orang lain membuat duka.
__ADS_1
Tanpa menambah kata lagi, dia langsung menarik tubuhku ke dalam dekapannya. Mendaratkan belaian mesra pada kepala dengan segenap rasa cinta. Sekali lagi, aku mulai tenggelam dalam buaiannya. Perlakuannya yang seperti ini, selalu sukses menyihirku untuk terus nyaman berada di dekatnya.
"Sebaiknya kita pulang," tuturnya sepersekian menit kemudian, setelah dirasa aku sudah mulai tenang.
Namun, aku menggeleng tegas, seolah di sini adalah tempat yang paling nyaman. Ia terdengar menghembuskan napas berat. "Aku gak bisa liat kamu kayak gini terus. Sudahlah, mungkin sudah waktunya terima takdir." Kalimatnya kali ini sukses menyulut resah kembali hadir memeluk hati.
Benar. Aku memang harus menerima resiko dari kesalahanku sendiri, namun ada banyak rasa ketidakrelaan jika aku harus terbuang dan pergi meninggalkan sang mustika hati. Aku masih mempunyai hak atas dirinya. Aku adalah ibunya. Wanita yang melahirkannya.
"Kita pulang sekarang? Aku gak mau kalau nanti kamu sakit." Vazo masih kekeuh dengan ajakannya. Merasa diperlakukan sebagai sosok yang sangat penting baginya, membuatku tak lagi bisa menepis kebaikan yang bertaburan di depan mata.
Kutarik tubuhku dari dadanya, lalu mengangguk patuh. Ia tersenyum senang, karena aku tak lagi memberikan penolakan. Dia menuntunku bangkit, dan merangkulku dari samping hingga membukakan pintu mobil.
__ADS_1
Namun, ketika aku akan masuk ke dalamnya, pandanganku terarah pada seorang sosok pria yang kini sedang berdiri di ambang pintu. Menatap kami berdua dengan ekspresi wajah yang tak terbaca.