
.
.
.
.
.
.
BRAKKK...!!!!!
Suara gebrakan meja menggema didalam ruangan itu. Benar. Seorang pria yang tak lain adalah mantan suami Clarissa itu terlihat begitu emosi tatkala menerima laporan bahwa istrinya yang sekarang tak juga memiliki keturunan bahkan laporan dokter mengatakan bahwa istrinya itu takkan bisa memiliki keturunan dalam artikata mandul.
"Wanita bodoh. Bisa-bisanya dia menipuku dengan mengatakan dirinya hamil dan saat menikah dia berpura-pura jatuh dari tangga dan keguguran padahal dia sejak awal itu mandul. Benar-benar tak bisa ku percaya.." sarkasnya. Dan asistennya Umar terlihat ketakutan akan sikap bosnya itu bahkan takut jika dia memberitahukan perihal Clarissa dan Arjuna kepada bosnya itu.
flashback on
"Edward. Aku hamil.." tutur Alexa. Wanita yang kini menjadi simpanan dari Edward. Suami sah seorang Clarissa.
"Astaga tuhan. Kau serius?" ucap Edward dengan bahagia. Tentu karena saat itu Clarissa istrinya belum juga memberinya keturunan.
"Kau harus segera menikahiku Ed, karena aku tak mau dia lahir tanpa ayah. Lihat ini, dia baru berusia 3 minggu.." ujarnya sambil memberikan hasil usg beserta testpack.
Seringai licik tersungging dibibir Alexa. Dan tanpa mereka sadari, dibalik dinding itu Clarissa mendengarkan percakapan mereka. Dan dengan mata kepalanya sendiri dia melihat sang suami mencumbu wanita lain didalam rumahnya saat dia masih berstatus istri sah dari Edward.
Kenapa bang. Kenapa elu bisa khianati cinta gue. Gue salah apa sampai elu begini ke gue bang. Dosa apa gue yaa Allah dapat suami brengsek kayak dia...
Clarissa menangis dalam diam. Dan dengan segera dia mengepak barang--barangnya. Menyusun rencana agar dia bisa melarikan diri dari Edward. Namun setelah menyimpan barang-barangnya, suara berat menghardiknya.
__ADS_1
"Mau kemana kau Clarie. Apa yang kau lakukan dengan pakaianmu ini hah???" sentak Edward. Merasa akan ditinggal istrinya, Edward mencengkram leher istrinya itu. Amarah sudah menguasai ubun ubunnya hingga tak bisa memberi pikiran jernih pada lelaki yang punya penyakit emosi labil itu.
"Lepas bang, biarin gue pergi. Gue udah tau semuanya antara abang dan wanita ****** itu. Biarin gue mundur dari hidup yang sudah abang sia-siakan ini..." isak tangis Clarissa terdengar perih ditelinga Edward.
Plakkk....
Edward pun menampar istrinya hingga Clarissa jatuh tersungkur diatas ranjang mereka. Dan kembali membentak.
"Sampai kapanpun, kamu nggak boleh tinggalkan aku Clarie. Kau cuma milikku, Edward! Camkan itu.." sarkasnya. Dan Edward pun keluar dan mengunci Clarissa dari luar agar sang Istri tidak bisa kabur.
"Abaaaang...buka pintunyaa..." jerit Clarissa dan Edward menutup telinganya. Lalu menjauh dari kamar mereka.
Malam harinya disaat suasana hening dan sunyi. Seseorang mengendap dan membuka pintu kamar Clarissa.
Cklek..
pintu terbuka dan Clarissa pun terkejut saat pintu itu terbuka. Umar sang asisten suaminya itu datang menolong Clarissa.
"Umar, ikutlah denganku Umar. Kau sudah seperti kakak bagiku. Aku tak mau kau tinggal Umar.." isak tangis Clarissa membuat hati Umar terenyuh. Dan Umar memeluknya guna menenangkan hati Clarissa.
"Jika nona menganggap saya kakak. Dengarlah, pergilah secepatnya dari rumah ini. Saya tak mau Alexa tau perihal kehamilan nona dan akan membunuh bayi tak berdosa ini. Ayo cepatlah pergi dari sini.."
akhirnya Clarissa pun kabur membawa uang yang diberikan Umar. Cukup untuk memberikan kehidupan layak bagi calon anaknya dan orangtua Clarissa.
Clarissa bersama orangtuanya. Pergi dari kota itu untuk selamanya.
"Neng, kenapa kita harus hidup begini sih nak. Salahmu apa sampai laki-laki ke****t itu tega menganiaya kamu begini. Babeh ngga terima. Kita harus melaporkan perbuatannya nak.." kata Babeh dengan emosi. Dan megang dadanya yang mulai sesak.
"Abang. Udah jangan emosi lagi bang ingat jantung abang bisa kumat.." isak bu Roh.
"Ini semua salah lu Rohanah. Gue kata juga apa. Tuh bocah kagak bener. Elu ngotot mau tuh bocah jadi mantu kita. Lihat sendiri. Anak gadis gue satu-satunya nah. Babak belur sama lakinya. Gue sebagai ayah gagal jagain putri gue.." lirih babeh Sabeni. Ayah Clarissa itu semakin pucat dan ambruk tak sadarkan diri.
__ADS_1
bruughh.....
"Babeeeeehhh...."
"Abaaaaang...."
Kedua wanita itu mengguncang tubuh Sabeni yang sudah tak bernyawa itu. Isak tangis mereka didengar salah satu warga yang akhirnya menolong mereka. Dan membantu proses pemakaman Babeh Sabeni.
Pagi harinya mereka berdua bersiap untuk keluar dari kota itu. Ditemani supir suruhan Umar. Takkan ada yasinnan dan takkan ada tahlilan. Sebagian uang yang diberikan Umar diberi ustadz yang ada dipemukiman itu agar menyelenggarakan tahlil arwah dimesjid mereka. Dan juga donasi buat perbaikan mesjid.
dan akhirnya mereka pun meninggalkan kota itu berikut kekenaman Edward pada Clarissa..
flashback end
like
comment
vote???
kagak perlu buru buru bang...
**Disini gue sebagai author. Mengharapkan agar kita sejenak menundukkan kepala dan berdoa didalam lubuk hati kita yang paling dalam untuk bencana yang kita alami. Musibah corona musibah dari ulah manusia juga. Jagalah kesehatan kalian. Jaga jarak sesama kita. Rajinlah kita membersihkan diri dan lingkungan sebab firman Allah "kebersihan sebagian dari iman"
alfatehah untuk negeriku tercinta
please corona. memghilanglah segera dari Indonesia.
Kami rindu bekerja. Rindu bersekolah. Dan rindu bercengkrama dengan keluarga juga saudara...
😢😢😢😢**
__ADS_1