
menghabiskan malam dengan sang kekasihnya dan melupakan keberadaan seorang wanita yang tengah tertidur di atas meja makan hanya karena menunggu seorang lelaki yang tak kunjung pulang,
antoni membuka pintu apartemennya dengan senyuman di bibirnya, "kenapa lampunya belum mati, " gumam antoni sambil melepaskan sepatu yang ia gunakan,
antoni berjalan sambil mulai memadamkan semua lampu di dalam apartemennya, bahkan ia sama sekali tak menengok ke beradaan maira di ruang makan,
antoni memasuki kamar tidurnya, melepaskan semua pakaiannya di atas sofa lalu berjalan ke arah kamar mandi, membersihkan tubuhnya yang terasa lengket
"ah, " ucap antoni sambil merenggangkan tangannya, saat dirasa tubuhnya kembali segar,
sedangkan maira ia masih terlelap dengan nyenyaknya, tangannya ia jadikan bantalan agar tidurnya nyaman,
antoni tidak langsung tidur, ia meraih laptopnya untuk menyelesaikan pekerjaan kantor yang tiada habisnya, matanya sudah tak bisa di ajak kerja sama, tenggorokannya pun sudah terasa sangat kering,
antobi mengambil tamperwer di atas nakas namun isinya kosong, akhirnya antoni memutuskan untuk turun mengambil air minum, padahal kakinya sudah malas di ajak jalan,
__ADS_1
antoni menyalakan lampu dn betapa terkejut dirinya saat mendapati maira tertidur dengan di berbagai hidangan di depannya,
"degh,
antoni terkejut, melihat semua yang ada di depannya, maira begitu pulas tertidur
dada antoni semakin bergemuruh, " mengapa aku merasa sangat bersalah, " batin antoni
tangannya terulur untuk menhusap rambut maira, " maaf, " entah mengapa kata kata itu sontak keluar dari mulut antoni,
"engh, " maira melenguh saat merasakan usapan antoni,
"mas, sudah pulang, " ucap maira tersenyum,
antoni mematung mendengar apa yang keluar dari mulut maira, kini maira bangkit ia menarik kan kursi untuk antoni dan mengambil beberapa sajian untuk ia panaskan, " tunggu sebentar ya, " ucap maira sambil membasuh sedikit wajahnya,
__ADS_1
antoni menarik tangan maira dan ia dudukkan di kursi, "maira, " kini pandangan antoni fokus menatap ke arah istrinya itu,
maira tersenyum dan itu berhasil membuat debaran jantung antoni tak karuan,
"ku mohon padamu, jangan pernah menjatuhkan hatimu padaku karena aku sudah mengatakan padamu sebelumnya, bahwa hatiku sudah bertahta pada orang lain," ucap antoni kemudia ia mengambil air minum lalu pergi meninggalkan maira sendirian,
maira mematung ia tersenyum miris, " apa yang kamu ucapkan mas, itu membuat hatiku sakit, " air mata maira kini metes membasahi pipinya,
"aku hanya perempuan biasa mas, tak mungkin aku tidak mencintaimu apalagi kita sudah mempunyai ikatan, lalu untuk apa ini semua di jalani," maira mematikan makerowep, lalu berlari menuju kamarnya,
maira menutup pintu kamarnya, ia mulai menangis terisak tangannya setia memegang dadanya yang terasa sakit dan berdenyut," mas,apa aku tak berhak menggantikan tahta wanita itu di hatimu," ucap maira dalam sela sela tangisannya,
"aku sudah berdamai dengan ke adaanku, namun kenapa seolah dunia tak merestui itu," gerutu maira,
"rasanya sakit sekali," maira memegangi dadanya yang terasa terhimpit bongkahan batu besar,
__ADS_1
antoni menutup pintu kamarnya, ia berdiri mematung di tangannya masih ada air yang ia bawa dari dapur, berjalan menuju ranjangnya antoni menaruh air minum yang ia bawa di atas nakas, "apa aku sejahat itu, " gumam antoni sambil menyandarkan kepalanya
"namun ini harus ku lakukan sebelum maira tersakiti terlalu dalam, " ucap antoni sambil menghela nafasnya panjang,