
"Almaira anastasya, " teriak iqbal menggunakn pengeras suara di tangannya yang sebelah, tidak ada sahutan dan tidak ada tanda tanda adanya seseorang yang iqbal sebut namanya tadi,
semuanya terdiam saat mendengar nama dari seseorang yang dari mereka ada yang kenal dan tidak "eh elu yang nama ira noh di sebut tadi, " ucap salah seorang perempuan sambil menunjuk ke arah temannya yang namanya ira,
"Bukan gue, nama gue bukan almaira, " ucapnya sambil membenarkan kaca matanya,
iqbal menghela nafasnya kala panggilannya tak mendapatkan jawaban, "Almaira anastasya, " teriak iqbal sekali lagi menggunakan pengeras suara,
reno dan Bastian saling lirik dan netra mereka berdua kini berputar mencari sosok perempuan yang di cari sahabatnya itu.
"maira ga ada di sini men, " bisik Bastian dan mereka berdua langsung melenggang pergi untuk mencari keberadaan maira.
sedangkan lidia ia semakin geram sambil kakinya ia hentakkan di tempatnya berpijak saat ini, "sial, awas lu maira, " lidia kesal sambil tangannya ia kepakan,
__ADS_1
"eh eh gua kira elu yang bakalan di tembak, haha, " viona seakan tak mengerti ke adaan setelah mendengar nama yang di panggil iqbal dia dan juga aqila,
viona tertawa renyah sedangkan aqila yang melihat wajah lidia yang geram dengan sengaja menginjakkan kaki viona, " ah ah sakit, " ucap viona sambil menepuk bahu aqila.
"diem, lu diem ," ucap aqila berbisik di telinga sahabatnya viona si gesrek si cempreng si ga bisa di ajak kompromi dan ga bisa jaga rahasia sahabatnya itu dan entah apa yang membuat lidia menjadikannya teman.
"ups, sorry, " viona cengir di hadapan lidia,
bahkan kini lidia semakin geram ia menghempaskan tangannya dan berlalu pergi, aqila mengikuti langkah lidia dari belakang sedangkan viona ia malah berdiam diri sambil menatap ke arah indahnya balon balon yang di hias se indah mungkin,
sedangkan aqila yang melihat viona berdiam diri kini dengan cepat menarik lengan sahabatnya itu, "diem baek lu, liat noh lidia udah kesel, " ucap aqila sambil tangannya sibuk menarik tangan viona,
"apaan sih lu gue mau lihat acaranya dulu, " ucap viona sambil kembali menarik tangannya dari genggaman aqila,
__ADS_1
Bastian dan reno masih mencari di mana letak keberadaan maira, "lu liat maira gak, " tanyanya pada mahasiswa yang sedang berdiri sendirian,
"gak, " jawabnya
Bastian dan reno kembali melangkahkan kakinya mencari sosok maira, "di mana maira, " bahkan mereka berdua lupa kalau di saku mereka ada ponsel yang langsung menhubungkan dirinya dan juga sosok yang mereka berdua cari.
maira dan nindi masih sibuk berbincang mengenai tugas mereka berdua, " lemes gue, " ucap nindi lalu membaringkan tubuhnya di atas meja,
"capek, " tanya maira, ia memang mengerti menghadapi sahabatnya yang satu ini memang harus menggunakan tenaga extra, penampilan aja yang dewasa tapi otak nindi masih bocil banget malah bisa di bilang melebihi bocil,
nindk mengangguk," iya frend gue rasanya mau pingsan, " nindi mulai mengeluarkan jurus lebaynya, bukannya marah maira justru tersenyum dan langsung merapikan buku buku yang menumpuk di hadapannya dan menutup laptopnya,
"ya udah yuk keluar, " ucap maira sambil menggenggam tangan nindi, nindi berjalan teresok esok karena tadi ia sudah bilang lemas,
__ADS_1
"Maira," teriak Reno yang sudah melihat ke beradaannya, reno langsung berlari ke arah maira dan nindi yang sedang berdiri sambil tangan maira sibuk merangkul bahu sahabatnya yang katanya lemas itu,
"Babang reno, " ucap nindi dan langsung menegakkan tubuhnya dan dengan sigap tangannya melepaskan rangkulan maira,