
entah kemana tujuan maira saat ini, ia melajukan mobilnya tanpa arah dan tujuan ," maaf, " ucapnya sambil menyeka air matanya yang keluar
"aduh maira lu kemana, " Nindi yang sudah kehilangan jejak terus memaksakan dirinya mencari sahabatnya itu.
"ini salah, seharusnya ini takkan terjadi, maaf bukan maksudku untuk menyakitimu namun aku sudah jadi istri orang iqbal, " kini mobil maira sudah berhenti di tepi jalan.
maira tidak keluar dari dalam mobilnya ia memilih mematikan mesin dan menyenderkan punggungnya, tersenyum miris sambil netranya menatap ke arah luar jendela, " kenapa harus aku yang berada di antara rasa sulit seperti ini tuhan, " ucap maira prustasi ia tidak ingin di jauhi dan menjauh hanya karena urusah hati seperti ini,
rasa bingung dan cemas menghampiri maira saat ini, " ini bukan yang ku mau," kini maira membuka pintu mobilnya dan ia turun, sedikit menghembuskan nafasnya dengan kasar ia lebih memilih duduk di bawah pohon yang ada bangkunya,
saat ini maira lebih memilih untuk sendiri menenangkan diri dan jiwanya, jika ia di beri pilihan ia belum ingin menikah, pernikahan yang di jalaninya sungguh sangat mendadak pernikahan yang sebelumnya belum pernah terlintas di benakknya,
__ADS_1
"ahh, " maira menutup matanya menikmati rasa yang tengah menari nari di jiwanya, " setelah ini aku harus apa, " bisiknya pada dirinya sendiri.
namun rasa bahagia yang terpancar jelas dari raut wajah ke dua orang tuanya membuat maira mau tidak mau harus menerima semua ini, orang tuanya adalah yang pertama baginya dan tidak ada yang bisa menandingi kebahagian mereka berdua sekalipun itu harus mengorbankan dirinya, "aku bahagia, " tersenyum miris sendirian,
nindi masih memutari jalan raya yang kini sudah di padati dengan berbagai macam kendaraan pagi ini ia harus bolos kuliah demi mencari keberadaan sahabatnya, " sialan lu iqbal awas aja gue bales elu," padahal iqbal tidak menyakiti maira sama sekali namun tekat nindi sudah bulat ia harus balas dendam.
"maira elu dimana, " bahkan kini ke semua tempat yang telah mereka datangi bersama nimdi sudah cari namun sayang maira tak ada di sana,
"No, maira bukan perempuan bodoh masa ia gara gara hal kaya gini dia bunuh diri, " hah, bahkan kini nindi menganga mendengar ucapannya sendiri, " tidak tidak maira tidak mungkin bunuh diri, " bahkan kini nindi sangat takut dengan ucapannya sendiri ia kembali membelah jalan raya dengan laju yang sangat cepat
"maira tunggu gue, " ucapnya sambil terus menambah lacu cepat mobilnya.
__ADS_1
nanun sayang nindi kini harus mengerem mendadak karena di depannya begitu banyak orang yang tengah riuh, " ada apa itu, " ucap nindi dengan semua rasa penasaran di benakknya ia turun dari dalam mobilnya dan mencoba bertanya pada satu orang yang tengah berdiri di depannya,
"pak ada apa ya rame rame, " tanya nindi pada seorang bapak bapak yang trmgah berdiri di hadapannya itu,
"oh itu neng, tabrakan di depan, " jawab bapak itu sambil menunjuk ke ramaian
"tabrakan, " ucap nindi terkejut bahkan kini dadanya sampai kembang kempis mendengar ucapan sang bapak,
"apa yang tabrakan cewe pak, " ucap nindi
"katanya gitu neng, " bahkan kini nindi langsung berlari, " gue yakin itu bukan maira, " ucap nindi sambil terus mengibas orang orang untuk melihat siapa yang tengah kecelakaan.
__ADS_1