Janda

Janda
eps 59


__ADS_3

"Almaira, aku menceraikanmu, " antoni mengulangi ucapannya dan setelah itu ia berlalu pergi meninggalkan maira sendirian,


degh, " bagai tersambar petir maira terdiam membisu tapi tidak dengan matanya, matanya mulai meneteskan laharnya dengan begitu deras,


"ada apa ini semua, " maira kini jatuh merosot di ambang pintu apartement, "apa maksudnya senua ini, " maira memang tak terisak, namun air matanya tetap jatuh dengan begitu derasnya,


"ku mohon, beritahu aku jika ini hanya mimpi atau pendengaranku yang salah, " cicit maira pelan,


air mata maira bagaikan hujan yang tak tentu arah jatuhnya, bibirnya tersenyum kecut ia masih berfikir jika ini semua hanya kesalahan, ya mungkin begitu.


………


nyonya delya langsung menghubungi suaminya setelah dia bisa menetralisirkan hatinya, mencoba berharap jika antoni hanya bercanda dan tidak ada maksud lebih dari ucapannya,


"sayang, antoni ingin bercerai dengan istrinya, " adu nyonya delya saat ponselnya sudah terhubung,

__ADS_1


sedangkan tuan bagas yang mendengar ucapan istrinya langsung berlari ke luar ruangannya sambil meraih jas yang bertengger di kursi kebesarannya,


"tuan, " panggil yanto saat melihat tuannya yang berlari tergesa gesa,


alih alih peduli tuan bagas nengacuhkan sekertarisnya itu dan meraih kunci mobilnya yang ada di meja kerja sekertaris yanto,


sambil berlari tergesa gesa tuan bagas mengambil ponselnya yang ia masukkan ke dalam saku celana bahannya dan menelpon istrinya,


"sayang, tunggu aku di apartement antoni, " ucap tuan bagas saat ponselnya sudah terhubung,


"ada apa dengan anak itu, " ucap tuan bagas dan dia segera melajukan mobilnya dengan kecepatan yang tinggi,


tuan bagas membelah jalan raya dengan perasaan cemas dan was was, bahkan tadi ia harus meninggalkan pekerjaannya,


begitu juga dengan nyonya delya ia langsung bergegas pergi ke apartemen antoni," ya tuhan, " gumam nyonya delya saat mobil yang ia tumpangi dengan di supiri pak lukman supir pribadinya telah melaju kencang,

__ADS_1


tak peduli seberapa ramainya jalan raya tuan bagas menyalip beberapa pengendara di depannya, dengan lihainya tuan bagas mengendarai mobilnya tanpa sang asisten yanto,


"shtt, " kini tuan bagas beberapa kali mengumpat di dalam mobilnya karena lagi lagi dirinya terjebak lampu merah di persimpangan,


begitupun nyonya delya hatinya kini resah ia dilanda gelisah dengan ucapan putranya, " antoni pasti bercanda, " nyonya delya mencoba meyakinkan dirinya atas apa yang telah putranya ucapkan.


"pak, jalannya yang cepat ya, " ucap nyonya delya berbicara dengan supirnya pak lukman,


"iya nyonya, " pak lukman kini menmbah kecepatan laju mobil yang ia kendarai,


butuh beberapa menit lamanya dan kini mobil yang di kendarai tuan bagas sudah sampai di apartemen antoni, dan dengan labgkah lebar dan cepat ia langsung masuk ke apartemen putranya itu.


dan benar saja tuan bagas baru saja sampai di depan pintu apartemen sabg putra ia langsung di suguhkan dengan pemandangan di mana maira masih menangis terisak duduk merosot di depan pintu, "Nak, " tuan bagas duduk berjongkok di depan maira,


maira mengangkat pandangannya sambil mengusap bulir bulir air mata yang jatuh membasahi pipinya, " papa, " bahkan kini maira semakin terisak tatkala mengetahui bahwa di depannya adalah papa mertuanya,

__ADS_1


nyonya delya dengan tergesa sambil mengatur nafasnya berlari dan dia juga tak kalah terkejutnya melihat penampilan menantunya itu, " maira, " nyonya delya langsung menghamburkan pelukannya, memeluk erat sang menantu, ia juga bisa merasakan betapa hancur hati menantunya saat ini,


__ADS_2